Kamis, 21 April 2011

RIWAYAT DAN PEMIKIRAN St. AUGUSTINUS

RIWAYAT DAN PEMIKIRAN St. AUGUSTINUS



A.    Pendahuluan
Augustinus lahir di Tagaste, Aljazair, Afrika Utara, 13 November 354 M sebagai putra seorang ibu yang saleh yaitu Momika.[1] Ayahnya bernama Patricius, seorang tuan tanah kecil dan anggota dewan kota yang kurang taat beragama hingga menjelang akhir hayatnya. Augustinus dididik dan dibesarkan secara Kristen kendatipun karena adat istiadat yang berlaku pada masa itu, ia tidak dibaptiskan ketika masih bayi.[2]
Dampak dari modifikasi Paulus, ekspansi teritorial, domestikasi dan terkooptasinya ajaran-ajaran Yesus Kristus oleh struktur kekuasaan imperium Romawi, maka doktrin-doktrin Kristiani setelah abad V M tidak lagi sekadar berwatak teologis, tetapi juga politis. Kesadaran, keagamaan para pengikut Kristus dengan terjadinya perubahan watak agama itu kerap mendampakkan sosoknya lebih politis. Ajaran Kristen sebagaimana telah dikemukakan dalam tulisan terdahulu terpolitisasi menjadi sebuah agama resmi Imperium Romawi. Agama yang dahulunya merupakan agama jelata, agama populis, karena dalam banyak sisinya tertransformasi menjadi para kaisar agama kaum elite dengan segala implikasinya.
Dalam proses politisasinya agama Kristen itu Bapak-Bapak Gereja mempunyai peranan amat stategis. Mereka adalah para teolog yang berjasa merumuskan bagaimana seharusnya hubungan antara agama Kristen dengan negara. Bisa dikatakan para Bapak Gereja itu adalah peletak dasar-dasar teologis bagi terbentuknya agama Kristen sebagai agama yang berdimensi politis. Salah satunya adalah Santo Augustinus


B.     Riwayat Singkat Augustinus
Augustinus lahir di Tagaste, Aljazair, Afrika Utara, 13 November 354 M sebagai putra seorang ibu yang saleh yaitu Momika.[3] Ayahnya bernama Patricius, seorang tuan tanah kecil dan anggota dewan kota yang kurang taat beragama hingga menjelang akhir hayatnya. Augustinus dididik dan dibesarkan secara Kristen kendatipun karena adat istiadat yang berlaku pada masa itu, ia tidak dibaptiskan ketika masih bayi. [4]
Augustinus memperoleh pendidikan dasar di Tagaste dan secara khusus mempelajari bahasa latin dan ilmu hitung. Ketika berusia sekitar sebelas tahun, Augustinus dikirim ayahnya ke Maduna untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya dan berhasil memperoleh pengetahuan yang cukup mengagumkan dalam tata bahasa dan sastra latin. Pada tahun 370 M, Augustinus dikirim ke Chartago untuk melanjutkan studinya dalam ilmu hukum sebagaimana yang didambakan ayahnya. Akan tetapi ia lebih tertarik mempelajari ilmu pidato (retorika) oleh karena pada masa itu kefasihan lidah akan mempermudah seseorang untuk meraih jabatan yang tinggi. Andries (2006) menyatakan bahwa pada masa mudanya Augustinus hidup dengan gaya hedonistik untuk sementara waktu. Di Kartilago ia menjalin hubungan dengan seorang perempuan muda yang selama lebih dari sepuluh tahun dijadikannya sebagai istri gelapnya. Dari hubungan suami istri tanpa nikah itu Augustinus memperoleh anak bernama Adeodatus.[5] Pada saat Augustinus berusia 19 tahun (373 M), setelah membaca buku Hartensius karya Cicero yang berisi pujian dan pujaan terhadap filsafat, Augustinus mulai tertarik pada filsafat khususnya ajaran Manicheisine. Dari sinilah Augustinus kemudian menjadi pengikut Manicheisme yang setia .[6] Setelah kurang lebih 4 tahun menjadi pengikut Manicheisme Augustinus mulai merasakan bahwa sebenarnya karakter filsafat Manicheisme bersifat destruktif, karena menurutnya sanggup merusak dan memusnahkan segala sesuatu tetapi tidak sanggup membangun sesuatu apapun. Selain itu juga moralitas para pengikut Manicheisme yang ternyata lebih buruk dari dugaannya. Oleh seba itu ia mulai meninggalkan ajaran Manicheisme, untuk selama beberapa tahun ia menjadi orang yang skeptis.
Pada tahun 383 M, Augustinus meninggalkan Chartago menuju Roma, kemudian pindah ke Milam dan diangkat menjadi guru besar ilmu retorika. DI tempat ini ia berkenalan dengan ajaran filsafat Plato dan Ne Plantonis sebelum masuk agama Kristen. Dalam hidupnya ia banyak dipengaruhi oleh Ambrosius, seorang jagoan retorila seperti Augustinus sendiri, namun lebih tua dan lebih berpengalaman (Andreas, 2006). Akibat uskup Ambrosius, Augustinus bertobat menjadi Kristen (386 M), mencari kesepian, mendirikan biara dan pada tahun 396 M dipilih menjadi uskup kota Hippo sebagai uskup, ia rajin memimpin keuskupannya, berkhotbah, mengajar dan berdebat dengan penganut-penganut bidah (Manikeisme, Donatisme, Pelagianisme). Bagi kaum bidah, Augustinus merupakan momok, ia menjadi pujangga dan Bapak Gereja Latin yang terbesar.[7]

C.    POKOK PEMIKIRAN AUGUSTINUS
Dampak dari modifikasi Paulus, ekspansi teritorial, domestikasi dan terkooptasinya ajaran-ajaran Yesus Kristus oleh struktur kekuasaan imperium Romawi, maka doktrin-doktrin Kristiani setelah abad V M tidak lagi sekadar berwatak teologis, tetapi juga politis. Kesadaran, keagamaan para pengikut Kristus dengan terjadinya perubahan watak agama itu kerap mendampakkan sosoknya lebih politis. Ajaran Kristen sebagaimana telah dikemukakan dalam tulisan terdahulu terpolitisasi menjadi sebuah agama resmi Imperium Romawi. Agama yang dahulunya merupakan agama jelata, agama populis, karena dalam banyak sisinya tertransformasi menjadi para kaisar agama kaum elite dengan segala implikasinya.
Dalam proses politisasinya agama Kristen itu Bapak-Bapak Gereja mempunyai peranan amat stategis. Mereka adalah para teolog yang berjasa merumuskan bagaimana seharusnya hubungan antara agama Kristen dengan negara. Bisa dikatakan para Bapak Gereja itu adalah peletak dasar-dasar teologis bagi terbentuknya agama Kristen sebagai agama yang berdimensi politis. Salah satunya adalah Santo Augustinus


D.    Pandangan Pokok Augustinus
Selama beberapa tahun, Augustinus membaktikan hidupnya untuk mengajar dan menggeluti studi-studinya dalam Neoplatonisme. Ia mencurahkan perhatiannya yang sangat besar pada karya-karya Plato dan Plotinus. Dari Plotinus, Augustinus menerima pandangan bahwa realitas sejati bersifat spiritual dan bahwa semua ada berasal dari Tuhan. Dari Plato, Augustinus mnerima pandangan bahwa kehidupan kontemplasi, adalah satu-satunya jalan mencapai pengetahuan dan kebahagiaan walaupun ia menolak kerangka kafir tempat Plato mengembangkan pandangan ini. Dan dengan agama-agama Kristen, ia menerima pandangan bahwa bimbingan yang tepat untuk mencapai kehidupan yang baik adalah kitab suci.[8]
Filsafat yang dikembangkan Augustinus secara essensial adalah filsafat pengalaman keagamaan dan merupakan sumber bagi mistisisme dan etika barat.[9] Menurut Augustinus penciptaan adalah suatu cretio exmihilio, penciptaan keluar dari pada � yang tidak ada �. Dasar penciptaan ini adalah akal dan hikmat Tuhan. Di dalam akal Tuhan terdapat gagasan-gagasan/ide-idenya. Dunia diciptakan sesuai dengan idea-idea itu. Proses penciptaan tersebut dilaksanakan dengan perantaraan logos.[10]
Barangkali satu-satunya kontribusi yang terbesar Augustinus bagi filsafat barat (dan bukan hanya pemikiran Kristen) ialah penekanannya pada kehidupan personal, kehidupan batiniah seseorang. Augustinus melihat hubungan antara Tuhan dan jiwa manusia sebagai perhatian utama agama. Karena jiwa diciptakan �dalam citra Allah�, pengetahuan diri menjadi alat untuk mengenal Tuhan, tak lagi dipahami sebagai soal pengamatan dua akal budi, tetapi juga masalah perasaan.
Dalam visi Augustinus tentang penegtahuan manusia, Tuhan hukan hanya sang pencipta, tetapi juga pelaku aktf di dalam alam semesta. Menurut Augustinus, wahyu melalui kitab suci penting untuk memahami sepenuhnya rencana Illahi dan tempat kita di dalamnya. Namun demikian, pengalaman-pengalaman kita terhadap dunia alamiah dapat menunjukkan kita ke arah kebenaran religius (Solomon dan Higgins, 2003: 226).
Augustinus menganggap filsafat sebagai suatu aktivitas, yang meliputi teknik-teknik penalaran, dan juga suatu pendekatan menuju kebijaksanaan dan kebenaran-kebenaran penalaran, dan juga suatu pendekatan menuju kebijaksanaan dan kebenaran-kebenaran tertinggi tentang kehidupan. Dengan mengikuti Augustinus, yang mempertahankan bahwa tidak mungkin ciptaan-ciptaan sama kekal (co-eternal) dengan pencipta. Aliran Augustinus menolak kemungkinan penciptaan dari kekekalan (creatio ab qetermo). Augustinus mempertahankan bahwa kesatuan jiwa dengan Allah adalah terutama melalui kehendak (Bagus, 1996: 24-26).[11]
Adapun sifat-sfat pokok dari ajaran filsafat ini menurut Salam (2000:49) adalah sebagai berikut :
1.      Akui manusia dengan kepercayaan dan agama tidak boleh dipisahkan. Tanpa kepercayaan dari agama, manusia akan sesak, dan tanpa akal, orang tak akan memperoleh pengertian yang jelas tentang kepercayaan dan agama itu.
2.      Kehendak manusia berpangkal diatas asakl, dan cinta kasih sayang mempunyai arti kesucian diatas ilmu pengetahuan. Juga berlaku terhadap Tuhan, sedang Tuhan terutama berarti cinta kasih sayang.
3.      Roh/jiwa agak bebas terhadap raga dan jiwa mengenal dirinya secara langsung dan intuistif, yang terdiri atas �kebendaan� dan �bentuk�.
4.      Spiritualisme yang antropologis (jiwa itu tak lain dari manusia itu sendiri) berjalan berdampingan dengan spiritualisme yang bersifat teori mengenal.
5.      Kebendaan itu pada hakikatnya cahaya. Bahwa jiwa menghendaki tubuh dan tubuh menghendaki jiwa merupakan pandangan yang dualistis.

E.     Pandangan Augustinus tentang Sejarah
Augustinus merupakan orang pertama di Eropa yang merefleksikan hakikat sejarah dari sudut teologis. Titik pusat yang menguasai segala-galanya di dalam sejarah adalah kedatangan messias yang dapat memberi arti dan makna bagi setiap kejadian sejarah masa lampau dan akan datang (Purnomo, 2000:173).[12]
Menurut Purnomo (2003) menyatakan bahwa ada dua hal yang ditekankan dalam pemikiran Augustinus. Pertama, Augustinus berusaha memperkenalkan teori sejarah yang linear. Bagi Ausgustinus gerak sejarah bercorak teleologis, punya tujuan akhir. Ia menolak pandangan sejarah yang siklus karena tidak sesuai dengan kitab suci. Kedua, Augustinus menekankan bahwa kegagalan manusia dalam sejarah lebih disebabkan oleh peccatum ordinale, yang berarti desa asal, bukan oleh Humartia yang merupakan pelarian dari dari kesalahan moril, escapisme moril. Disini Augustinus berusaha untuk memperkenalkan pengertian desa asal, walaupun pengertian tersebut sudah ada dalam kitab suci.
Bagi Augustinus, sejarah keselamatan adalah peristiwa jatuh bangunnya bangsa Yahudi terus-menerus dari dosa dan pengampunan yang kemudian berakhir pada penebusan. Masa diantara kebangkitan sampai kedatangan kristus kembali adalah masa percobaan pertentangan antara kebaikan dan kejahatan. Masa diantara kebangkitan sampai kedatangan kristus kembali adalah masa percobaan, pertentangan antara kebaikan dan kejahatan. Sejarah keselamatan akan berlangsung sampai akhir zaman dan hanya kerajaan abadi dari Tuhan yang akan mengganitnya. Ausgustinus menganggap sejarah profan sebagai suatu pertentangan universal antara civitate dei (kerajaan Tuhan) dan civitate terena adalah vaonitas (kesia-siaan), hawa nafsu dan kecongkakan. Kehidupan di kerajaan Tuhan diwarnai dengan iman, ketaatan, kasih sayang, kejujuran, keadilan dan segala sesuatu yang baik. Sedangkan di kerajaan dunia selalu diwarnai dengan dosa, keangkuhan, kesesatan, hawa nafsu, ketidakadilan, kejahatan dan sebagainya. Seluruh jalannya sejarah merupakan pertentangan antara dua kekuatan, gereja dan dunia, dans ebagai akhirnya adalah kemenangan kerajaan Tuhan atas kerajaan dunia, �Setiap manusia memang lahir dalam tata manusia, tetapi akan beralih ke Tuhan� (Bakker dalam Purnomo, 2000:174). Jadi Tuhan ikut serta dalam mengambil bagian dalam hidup manusia. Dengan dasar itulah Augustinus kemudian membuat hanya bersangkutan dengan bangsa Israel dan secara langsung tidak menyinggung umat manusia lainnya. Kalau orang Mesir, Babylonia dan Yunani menganggap bahwa semua peristiwa sejarah sudah menjadi kehendak dewa-dewa, maka orang Ibrrani dan Roma yang sudah mengakui Tuhan yang Maha Esa menggantikan dewa-dewa sebagai penggerak utama dalam sejarah. Anggapan orang Ibrani terhadap Tuhan sebagai penggerak utama sejarah ialah terwujudnya kehendak Tuhan dalam civitas dei atau kerajaan Tuhan (Tamburaka, 1999:144).[13]
Menurut Kartodirdjo dalam Purnomo (2000) menjelaskan bahwa Augustinus membuat enam periode sejarah dengan tahap-tahap kehidupan manusia yang diumpamakan dengan enam hari kerja dan sebagai periode yang ketujuh datanglah masa yang tak berakhir, hari keramat yaitu hari minggu yang dalam bahasa gereja disebut dies dominica atau hari Tuhan. Adapun seluruh sejarah umat manusia bertujuan agar ia bersama dengan kristus bangkit dari kematian di dunia menuju hidup baru di dunia baru, yaitu kerajaan Tuhan yang berasal dari surga �ecce quad erit in fine time fineu� (lihatlah yang akan terjadi pada akhir zaman yang tanpa akhir). Adapun enam periode sejarah dunia yang disesuaikan dengan enam hari penciptaan manusia adalah :
1. Dari Adam sampai Air Bah (3500 SM)
2. Dari Air Bah sampai Ibrahim (1850 SM)
3. Dari Ibrahim sampai Daud (1250 SM)
4. Dari Daud sampai pembuangan di Babylonia (600 SM)
5. Dari pembuangan di Babylonia sampai kelahiran Kristus (4 M)
6. Dari Kristus sampai akhir dunia
Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia dijelaskan bahwa makna sejarah menurut Augustinus, sejarah merupakan suatu bagian rencana Illahi dan mencerminkan kehadiran akal Ilahi. Yang terpenting dan terbesar adalah sejarah manusia, dengan Tuhan sebagai pengarangnya. Sejarah manusia dimulai dari penciptaan, ditandai dengan berbagai peristiwa yang begitu menentukan seperti kejatuhan manusia dan inkarnasi Tuhan dalam krsitus, momen historis yang sekarang ini terlibat dalam ketegangan antara kata Illahi dan kata duniawi. Tak ada sesuatupun yang terjadi tanpa acuan pada penyelenggaraan Ilahi. Dilain pihak, apapun yang terjadi adalah suatu konsekuensi tindakan manusia, tertama dosa dan kejahatan. Rahmat Tuhan membangkitkan harapan manusia dan memungkinkannya mencapai kebahagiaan abadi di kota Ilahi setelah penjarahannya di dunia. Gagasan ini berpengaruh pada karya Dante dan ide Roger Bacon tentang Republik Kristiani. Konsep sejarah Augustinian juga tampak pada filsuf periode berikutnya, seperti Campanella, Jacques Bossuek, dan Leibnitz.
Lebih jauh dinytakan Maarif dalam Purnomo (2000:176) bahwa pandangan historis Augustinus dapat juga dipakai dalam mengembangkan filsafat sejarah model pancasila. Dalam konteks pemikiran ini akan terlihat pola yang linear, yaitu terciptanya masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila.

F.     Karya-karya Augustinus
Augustinus adalah seorang penulis yang sangat produktif, terutama mengenai masalah-masalah teologi. Beberapa karya tulisnya yang kontroversial berkaitan dengan persoalan masa itu, dan tak mengandung perhatian yang lebih jauh kecuali dengan kaum pelagian, bisa dibilang tetap berpengaruh hingga zaman modern.[14]
Banyak karyanya yang sangat berpengaruh dan terkenal hingga kini yaitu :
1.      Confessiones, pengakuan (semacam riwayat hidup)
2.      De Trinitate , tentang Allah Tri Tunggal
3.      De Natura et Gratia, tentang kodrat dan rahmat
4.      De civitate dei, tentang negeri Allah (sebuah buku mengenai masyarakat kristiani yang ideal dan hubungan antara negara dan agama, besar pengaruhnya pada abad pertengahan).
5.      De quantitate Animae, tentang mutu jiwa (Heuken, 1991:62)[15]
Selain karya-karya diatas, Augustinus juga menghasilkan karya-karya lainnya seperti De Beate Vita (on the happy life), De ordine (on order), De limortalite Animae (on the liner tolity of the soul), Soliluques (monoloque), de Magistra (concerning the teacher), De vera religion (on true religion), De libero arbitria (on free will, dan lain-lain).[16]

Selain buku-buku, Augustinus juga banyak menulis surat-surat diantaranya:
1.      Surat tentang mengajarkan iman kepada mereka yang tidak berpendidikan.
2.      Surat tentang manfaat percaya
3.      Surat tentang pemahaman diri
4.      Surat tentang pernikahan yang baik
5.      Surat tentang berbohong
6.      Surat tentang kesabaran
7.      Surat tentang keperawakan yang kudus
8.      Surat tentang karya biarawan
9.      Surat tentang hal-hal yang tidak kelihatan, dan lain-lain[17]


DAFTAR PUSTAKA

Andreas, Sandra. 2006. Tokoh Penting dalam perkembangan Kekristenan Barat. Dalam http://sandrahilde.wordpress.com/2008/04/7/st-Augustinus (Diakses pada 19/4/08)
Bagus, Lorens. 1996. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Heuken, Adolf, SJ. 1991. Ensiklopedi Gereja Jilid I. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka
Purnomo, Arif. 2000. Pemikiran Historis Augustinus Sebagai Jiwa Zaman Abad Pertengahan. Jurnal Paramitha No. 2 Th X Juli 2000.
Tahun 2003.  Dalam Paparan Kuliah Filsafat Sejarah. Semarang. Universitas Negeri Semarang.
Russel, Bertrand. 2004. Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosial Politik di Zaman Kuno Hingga Sekarang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Salam, Burhanuddin. 2008. Sejarah Filsafat Ilmu dan Teknologi. Jakarta: Rineka Cipta
Solomon, Robert C dan Higgins, KM. 2003. Sejarah Filsafat. Jogjakarta: Bentang Budaya
Suhelmi, Ahmad. 2001. Pemikiran Politik Barat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Tamburaka, Rustum, E. 1999. Pengantar Ilmu Sejara, Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat dan Iptek. Jakarta: Rineka Cipta
Tim Penyusun. 1997. Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid I. Jakarta: PT Delta Pamungkas


[1] Heuken, Adolf, SJ. 1991. Ensiklopedi Gereja Jilid I. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka. Hal. 61
[2] Purnomo, Arif. 2000. Pemikiran Historis Augustinus Sebagai Jiwa Zaman Abad Pertengahan. Jurnal Paramitha No. 2 Th X Juli 2000. hal. 169.
[3] Heuken, Adolf, SJ. 1991. Ensiklopedi Gereja Jilid I. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka. Hal. 61
[4] Purnomo, Arif. 2000. Pemikiran Historis Augustinus Sebagai Jiwa Zaman Abad Pertengahan. Jurnal Paramitha No. 2 Th X Juli 2000. hal. 169.
[5] Suhelmi, Ahmad. 2001. Pemikiran Politik Barat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 71
[6] Purnomo, Arif. 2000. Pemikiran Historis Augustinus Sebagai Jiwa Zaman Abad Pertengahan. Jurnal Paramitha No. 2 Th X Juli 2000. hal. 170.
[7] Heuken, Adolf, SJ. 1991. Ensiklopedi Gereja Jilid I. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka Hal. 61
[8] Solomon, Robert C dan Higgins, KM. 2003. Sejarah Filsafat. Jogjakarta: Bentang Budaya Hal. 224.
[9] Purnomo, Arif. 2000. Pemikiran Historis Augustinus Sebagai Jiwa Zaman Abad Pertengahan. Jurnal Paramitha No. 2 Th X Juli 2000. Hal 172.
[10] Purnomo, Arif. 2000. Pemikiran Historis Augustinus Sebagai Jiwa Zaman Abad Pertengahan. Jurnal Paramitha No. 2 Th X Juli 2000. hal. 19.
[11] Bagus, Lorens. 1996. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 24-26.
[12] Purnomo, Arif. 2000. Pemikiran Historis Augustinus Sebagai Jiwa Zaman Abad Pertengahan. Jurnal Paramitha No. 2 Th X Juli 2000. hal. 173.
[13] Tamburaka, Rustum, E. 1999. Pengantar Ilmu Sejarah, Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat dan Iptek. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 144.
[14] Russel, Bertrand. 2004. Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosial Politik di Zaman Kuno Hingga Sekarang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 473.
[15] Heuken, Adolf, SJ. 1991. Ensiklopedi Gereja Jilid I. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka Hal. 62.
[16] Purnomo, Arif. 2000. Pemikiran Historis Augustinus Sebagai Jiwa Zaman Abad Pertengahan. Jurnal Paramitha No. 2 Th X Juli 2000. Hal. 172.
[17] (http:id.wikipedia.org/wikiAugustinus_dari_Hippo)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar