Kamis, 21 April 2011

RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY

RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY


I.         PENDAHULUAN
Pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah pendekatan behavior kognitif yang menekankan pada keterkaitan antara perasaan, tingkah laku dan pikiran. pendekatan  Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) di kembangkan oleh Albert Ellis melalui beberapa tahapan. pandanagan dasar pendekatan ini tentang manusia adalah bahwa individu memiliki tendensi untuk berpikir irasional yang salah satunya didapat melalui belajar social. Di samping itu, individu juga memiliki kapasitas untuk belajar kembali untuk berpikir rasional. pendekatan ini bertujuan untuk mengajak individu mengubah pikiran-pikiran irasionalnya ke pikiran yang rasional melalui teori ABCDE.
Penulis memilih  REBT yang dikembangkan oleh Albert Ellis ini sebagai bahan pembahasan berdasarkan pemikiran bahwa REBT bisa menantang para mahasiswa untuk berfikir tentang sejumlah masalah dasar yang mendasari konseling. REBT terpisah secara radikal dari beberapa sistem lain yang disajikan didalam makalah ini, yakni pendekatan-pendekatan psiko analitik, eksistensial-humanistik, client centered dan gestal. REBT lebih banyak kesamaannya dengan terapi-terapi yang berorientasi kognitif-tinngkah laku-tindakan dalam arti menitik beratkan berfikir, menilai, memutuskan, menganalisis, dan bertindak. REBT sangat didaktif dan sangat direktif serta lebih banyak  berurusan dengan dimensi-dimensi fikiran dari pada dengan dimensi-dimensi perasaan.
Dengan mengingat hal itu, kami dari penulis ingin mengupas teori REBT lebih mendalam. Namun kami tetap memahami bahwa dalam penulisan ini banyak mempunyai kekurangan oleh karenanya kami tetap mengharap kritik dan saran dari semua pihak.

II.      PEMBAHASAN
A.    Konsep Dasar
Menurut Albert Ellis, manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional tersebut merupakan akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional, yang mana emosi yang menyertai individu dalam berpikir penuh dengan prasangka, sangat personal, dan irasional.
Perkembangan kepribadian dimulai dari bahwasanya manusia tercipta dengan a) dorongan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri. b) Kemampuan untuk self-destruktive, hedonis buta dan menolak aktualisasi diri.[1]
Berpikir irasional ini diawali dengan belajar secara tidak logis yang biasanya diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari kata-kata yang digunakan. Kata-kata yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan kata-kata yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.
Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.[2]
1.      Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
2.      Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
3.      Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Selain itu, Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus me­lawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psi­kologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional.[3]

B.     Proses Berfikir.
Menurut pandangan REBT individu memiliki tiga tingkatan berfikir yaitu berfikir tentang apa yang terjadi berdasarkan fakta dan bukti-bukti, mengadakan penilaian terhadap fakta dan bukti, dan keyakinan terhadap proses bukti-bukti dan evaluasi (Froggatt, 2005). Ellis berpendapat bahwa yang menjadi sumber terjadinya masalah-masalah emosional adalah evaluative belief yang dikenal dengan istilah REBT adalah Irasional bilief yang dapat dikategorikan menjadi empat yaitu:
Ø  Demamds (Tuntutan) adalah tuntutan atau Ekspekstasi yang tidak realitas dan absolute terhadap kejadian atau individu yang dapat dikenal dengan kata-kata seperti harus, sebaiknya dan lebih baik.
Ø  Awfulishing adalah cara melebih-lebihkan konsekuensi negative dari suatu situasi sampai pada level yang ekstrim sehingga kejadian yang tidak menguntungkan menjadi kejadian yang sangat menyakitkan.
Ø  Low Frustation Tolerance (LFT) adalah kelanjuta dari tuntutan yang selalu berada dalam kondisi nyaman dan merefleksikan ketidak toleransian terhadao ketidak nyamanan.
Ø  Global Evaluations of human worth, yaitu menilai keberhargaan diri sendiri dan orang lain. Hal ini bernakma bahwa individu dapat diberi peringkat yang berimplikasi bahwa pada asumsi bebera orang lebih buruk atau tidak berharga dari yang lain (Wallen, 1992).
Selanjutnya, Ellis membagi fikiran individu dalam tiga tingkatan. yaitu:
1.      Dingin (Cool), Pikiran dingin adalah pikiran yang bersifat deskriptif sendiri dan mengandung sedikit emosi.
2.      Pikiran yang hangat (Warm), adalah pikiran yang mengarah pada satu preferensi atau keyakinan rasional, pikiran ini mengandung unsure evaluasi yang mempengaruhi pembentukan perasaan.
3.      Pikiran yang mengandung unsur evaluasi yang tinggi dan penuh dengan perasaan (Nelson-Jones, 1995).

C.    Tingkah Asumsi Laku Bermasalah
Dalam gantina dkk, Nelson Jones, 1995 mengatakan manusia dipandang memiliki tiga tujuan fundamental, yaitu: Untuk bertahan hidup, untuk bebas dari kesakitan, dan untuk mencapai kepuasan. Rasional Emotive behaviore Therapy (REBT) juga berpendapat bahwa individu adalah hidonistik yaitu kesenangan dan bertahan hidup adalah tujuan pertama hidup. Hedonisme dapat diartikan sebagai pencarian kenikmatan dan menghindari kesakitan. Bentuk hedonisme khusus yang membutuhkan perhatian adalah penghindaran terhadap kesakitan dan ketidaknyamanan. Dalam Gantina dkk, Wallen mengatakan Dalam REBT hal ini menghasilkan low frustration tolerance (LFT). Individu yang memiliki LFT terrlihat dari pernyataan-pernyataannya verbal seperti: Ini terlalu berat, saya pasti tidak mampu, ini menakutkan, saya tidak bisa menjalani ini.
            Dalam Gantina dkk, Gladding, 1992 mengatakan Ellis mengidentifikasi sebelah keyakinan irasional individu yang dapat mengakibatkan masalah yaitu:
Ø  Dicintai dan setujui oleh orang lain adalah sesuatu yang sangat esensial
Ø  untuk menjadi orang yang berharga individu harus kompeten dan mencapai setiap usahanya.
Ø  Orang yang tidak bermoral, criminal dan nakal merupakan pihak yang harus disalahkan.
Ø  hal yang sangat buruk dan menyebalkan adalah bila sebagala sesuatu tidak terjadi seperti yang saya harapkan.
Ø  ketidak bahagiaan merupakan hasil dari pristiwa eksternal yang tidak dapat dikontrol oleh diri sendiri.
Ø  sesuatu yang membahayakan harus menjadi perhatian dan harus selalu diingat dalam fikiran.
Ø  lari dari kesulitan dan tanggung jawab dari pada menghadapinya.
Ø  seseoramg harus memiliki orang lain sebagai tempat bergantung dan harus memiliki seseorang yang lebih kuat yang dapat menjadi tempat bersandar.
Ø  masa lalu menentukan tingkah laku saat ini dan tidak bisa diubah.
Ø  individu bertanggaung jawab atas masalah dan kesulitan yang dialami oleh orang lain.
Ø  selalu ada jawaban yang benar untuk setiap masaslah. Dengan demikian, kegagalan mendapatkan jawaban yang benar merupakan bencana.[4]
Sebagai contoh, “orang depresi merasa sedih dan ke­sepian karena dia keliru berpikir bahwa dirinya tidak pantas dan merasa tersingkir”. Padahal, penampilan orang depresi sama saja dengan orang yang tidak mengalami depresi. Jadi, Tugas seorang terapis bukanlah menyerang perasaan sedih dan kesepian yang dialami orang depresi, melainkan me­nyerang keyakinan mereka yang negatif terhadap diri sendiri.
Walaupun tidak terlalu penting bagi seorang terapis mengetahui titik utama keyakinan-keyakinan irasional tadi, namun dia harus mengerti bahwa keyakinan tersebut adalah hasil “pengondisian filosofis”, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang muncul secara otomatis, persis seperti kebiasaan kita yang langsung mengangkat dan menjawab telepon setelah mendengarnya berdering.
Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah, didalamnya merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional.
Adapun ciri-ciri berpikir irasional adalah :
1.      Tidak dapat dibuktikan
2.      Menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan, kekhawatiran, prasangka) yang sebenarnya tidak perlu
3.      Menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif
Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional disebabkan oleh:
  1. Individu tidak berpikir jelas tentang saat ini dan yang akan datang, antara kenyatan dan imajinasi
  2. Individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain
  3. Orang tua atau masyarakat memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media.
Indikator sebab keyakinan irasional adalah:
  1. Manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan
  2. Banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik, merusak, jahat, dan kejam sehingga mereka patut dicurigai, disalahkan, dan dihukum
  3. Kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka, bencana yang dahsyat, mengerikan, menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya
  4. Lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk menghadapi dan menanganinya
  5. Penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut
  6. Pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang
  7. Untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural\
  8. Nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu.
Menurut Albert Ellis juga menambahkan bahwa secara biologis manusia memang “diprogram” untuk selalu menanggapi “pengondisian-pengondisian” semacam ini. Keyakinan-keyakinan irasional tadi biasanya berbentuk pernyataan-pernyataan absolut. Ada beberapa jenis “pikiran­-pikiran yang keliru” yang biasanya diterapkan orang, di antaranya:
1.      Mengabaikan hal-hal yang positif,
2.      Terpaku pada yang negatif,
3.      Terlalu cepat menggeneralisasi.
Secara ringkas, Ellis mengatakan bahwa ada tiga ke­yakinan irasional:
1.      “Saya harus punya kemampuan sempurna, atau saya akan jadi orang yang tidak berguna”
2.      “Orang lain harus memahami dan mempertimbang­kan saya, atau mereka akan menderita”
3.      Kenyataan harus memberi kebahagiaan pada saya, atau saya akan binasa”.




III.   PENUTUP
Pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah pendekatan behavior kognitif yang menekankan pada keterkaitan antara perasaan, tingkah laku dan pikiran. pendekatan  Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) di kembangkan oleh Albert Ellis melalui beberapa tahapan. pandanagan dasar pendekatan ini tentang manusia adalah bahwa individu memiliki tendensi untuk berpikir irasional yang salah satunya didapat melalui belajar social. Di samping itu, individu juga memiliki kapasitas untuk belajar kembali untuk berpikir rasional. pendekatan ini bertujuan untuk mengajak individu mengubah pikiran-pikiran irasionalnya ke pikiran yang rasional melalui teori ABCDE.
Pemakalah menyadari dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah terdapat banyak kesalahan dan kekhilafan, pemakalah sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk pemakalah guna mengingatkan dan memperbaiki setiap kesalahan yang ada dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah. Terakhir tidak lupa pemakalah mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT serta terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam proses pembuatan makalah



DAFTAR PUSTAKA


Gerald Corey  (2009), Teori dan Praktek Konseling & Terapi, Bandung: Refika Aditama
Muhammad Surya (2003), Teori-Teori Konseling, Bandung: C.V Pustaka Bani Quraisy.
Muhammad Surya (1994), Dasar-Dasar Konseling Pendidikan, Bandung: Bhakti Winaya.
Amirah Diniaty (2009),  Teori-Teori Konseling, Pekanbaru:  Daulat Riau.
Gantina komalasari, Dkk. (2011). Teori Teknik Konseling, Jakarta: Indeks.


[1] Amirah Diniaty (2009), Teori-teori Konseling, Pekanbaru: Daulat Riau hal 67.
[2] Gerald Corey (2009), Teori dan Praktek Konseling & Terapi, Bandung: Refika Aditama hal. 242
[3]  Surya, Mohammad (1994). Dasar-dasar Konseling Pendidikan (Konsep dan Teori). Bandung: Bhakti Winaya Hal: 161
[4] Dra. Gantina Komalasari, dkk (2011), Teori dan Teknik Konseling, Jakarta: Indeks hal. 204-205

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar