Kamis, 21 April 2011

MENINJAU KEMBALI KENETRALAN METODE SKEPTISISME RENE DESCARTES

MENINJAU KEMBALI KENETRALAN METODE SKEPTISISME RENE DESCARTES



A.    Latar Belakang Masalah
            Masa pemikiran Barat-Modern, diawali dengan munculnya Renaissance sekitar abad ke-15 dan 16. Maksud pokok yang terpenting dari Renaissance adalah upaya melahirkan kembali kebudayaan klasik Yunani kuno.[1] Usaha demikian merupakan jalan keluar sekaligus jawaban atas problem kebudayaan Barat-tradisional dan Kristiani yang berkembang masa itu.
            Problem besar masa Renaissance adalah sebagaimana masa skolastik, yakni sintesa antara agama dan filsafat dengan arah yang berbeda.[2] Pada masa ini muncul kembali pemikiran Plato dan kaum Stoa yang dipahami (diintrepretasikan) dengan cara-cara yang baru.
            Pendekatan baru pemikiran Plato dan kaum Stoa kemudian melahirkan karya-karya besar di bidang seni, metodologi-metodologi bagi filsafat, dan ilmu pengetahuan. Pada masa inilah mulai berkembang Ilmu Pengetahuan Alam modern yang didasari pada metode experimental dan matematis.[3] Berbeda dengan masa sebelumnya, pada masa Renaissance[4] tradisi pemikiran Yunani-Aristotelian yang sempat menguasai alam pikiran Barat Abad Pertengahan mulai ditinggalkan.
            Puncak masa Renaissance dimulai dengan munculnya pemikiran Rene Descartes (1596-1650). Descartes sangat penting karena ia dinobatkan sebagai “Bapak Filsafat Barat-Modern”.[5] Sebuah tesis yang melekat dan identik dengan Descartes adalah apa yang dikenal dengan Cogito Ergo Sum (aku berpikir, maka aku ada).[6] Pernyataan atau tesis ini menjadi sangat masyhur dalam sejarah pemikiran Barat-Modern, karena memiliki pengaruh yang dominan bagi pembentukan dan corak “ke-modern-an” masyarakat Barat.
            Dengan demikian, penulisan terhadap Descartes menjadi penting karena tidak hanya sebagai kunci untuk memahami karakteristik masyarakat Barat dewasa ini, tetapi juga sebagai kunci untuk melacak jejak transformasi nilai-nilai dan karakteristik (kemodernan) masyarakat Barat-Modern terhadap masyarakat lainnya di bebagai penjuru dunia. Dalam rangka penulisan miniskripsi ini, tesis Rene Descartes Cogito Ergo Sum (aku berpikir, maka aku ada) menjadi inti bahasannya. Cogito Ergo Sum tersebut memiliki konsekuensi lahirnya Rasionalisme. Paham ini dengan jelas sangat mengunggulkan dan mementingkan rasio daripada realitas yang dipikirkannya. Akhirnya, rasiolah yang menjadi indikasi keberadaan (eksistensi) si subyek (aku) yang mengetahui sesuatu.
            Bagi Descartes, rasio adalah instansi tertinggi untuk mengetahuai sesuatu. Pengetahuan merupakan jalan, bukti keberadaan  (eksistensi) manusia, dan bahkan menjadi ukuran ke-bernilai-an manusia.[7]  Berdasarkan konsep tersebut, ukuran atau norma suatu kebenaran adalah suatu pemikiran yang jelas, definitif, analitik, dan “terpilah-pilah”. Di luar kriteria tersebut harus ditolak atau diragukan sebagai ilmu pengetahuan yang absah (benar). Oleh karena itu, bagaimana persisnya proses keraguan (skeptis) dan apa buktinya keraguan (skeptis) merupakan titik tolak yang netral menuju keyakinan dan pengetahuan yang benar? Miniskripsi ini mencoba menguraikannya.
B.     Riwayat Hidup Rene Descartes
Rene Descartes (1598-1650) dilahirkan di Prancis. Ia belajar filsafat pada kolose yang dipimpin pater-pater Yesuit di desa La Fleche. Descartes terkenal sebagai seorang matematikawan dan dinobatkan sebagai “Bapak Pendiri Filsafat Barat-Modern”.[8]
            Salah satu karya besar Descartes adalah Discourse on Method (1637) yang ditulis dalam bahasa Prancis dengan gaya penulisan yang menarik perhatian di zamannya. Dalam buku tersebut Descartes menyatakan tidak puas dengan tradisi filsafat dan ilmu pengetahuan, kemudian ia menjelaskan tujuan hidupnya untuk membimbing akal manusia ke arah penemuan kebenaran yang sistematis dan penghapusan kesalahan.[9]
            Setelah karya Discourse on Method, menyusulah karya selanjutnya yang menjadi karya utama Descartes, yaitu Meditations of First Philosophy yang diterbitkan dalam bahasa Latin pada tahun 1644. Selanjutnya, segera menyusul seri keberatan-keberatan para penulis disertai jawaban Descartes sendiri pada mereka.[10]
            Karya filsafat lainnya ialah The Principles of Philosophy yang terbit tahun 1644, dan Passion of the Soul tahun 1649.[11] The Principles of Philosophy merupakan usaha ambisius Descartes untuk  menyusun secara sistematis metode filsafatnya dan dari situ ia menarik suatu dasar bagi pertanggungjawaban dunia fisik. Adapun Passion of the Soul merupakan pengukuhan dari filsafat penalaran.[12]
C.    Pemikiran Rene Descartes
1.      Tentang Idealisme Rene Descartes
1)      Idea-idea Bawaan
Descartes berpendapat bahwa di dalam diri kita, terutama dapat ditemukan tiga idea bawaan. Tiga idea yang sudah ada dalam diri sejak kita lahir, yaitu:
a)                Idea Pemikiran. Justru karena saya mengerti diri saya[13] sebagai makhluk yang berpikir, maka harus diterima bahwa pemikiran merupakan hakikat saya.
b)               Idea Allah sebagai “wujud yang seluruhnya sempurna”. Saya mempunyai idea sempurna. Maka, disimpulkan bahwa mesti ada suatu penyebab sempurna untuk idea itu, karena suatu akibat tidak bisa melebihi penyebabnya. Wujud yang sempurna itu tidak bisa lain daripada Allah. Oleh karena Allah itu sempurna, Dia juga tidak akan terus-menerus memperdaya saya. Dengan demikian juga, objek-objek yang saya lihat selagi sadar pasti sungguh-sungguh ada.
c)                  Idea Keluasan. Saya mengerti materi sebagai keluasan atau ekstensi, sebagaimana hal itu dilukiskan dan dipelajari oleh ahli ilmu ukur.[14]
2)      Ontologi: Substansi-Atribut-Modus
Yang disebut substansi yaitu apa yang berada sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan sesuatu yang lain untuk berada.[15] Substansi yang dipikirkan seperti itu sebenarnya hanya ada satu saja, yaitu Allah. Segala sesuatu yang lain hanya dapat dipikirkan sebagai berada dengan pertolongan Allah. Jadi, sebutan substansi sebenarnya tidak dapat dengan cara yang sama diberikan kepada Allah dan kepada hal-hal lain.
Sambil menyadari perbedaan ini, hal-hal rohani dan bendawi yang diciptakan memang dapat juga dimasukkan dalam pengertian substansi itu. Descartes memang menyimpulkan bahwa selain Allah masih ada dua substansi, yaitu jiwa dan materi.
Selain pengertian substansi, masih ada dua pengertian lain yang dipergunakan Descartes untuk menentukan hakikat segala sesuatu, yaitu pengertian “atribut” dan “modus”. Yang disebut atribut ialah sifat asasi (hakikat). Tiap substansi memiliki sifat asasinya sendiri, yang menentukan hakikat substansi itu. Segala substansi bendawi hakikatnya ialah keluasan, sedangkan jiwa atau roh hakikatnya ialah pemikiran.[16]
Roh dapat dipikirkan dengan jelas dan terpilah-pilah, tanpa memerlukan sifat asasi benda. Ini berarti bahwa, menurut Descartes, jiwa dan materi tidak hanya berbeda secara hakiki tetapi juga terpisah satu sama lain. Oleh karena itu, secara a priori tidak ada kemungkinan bahwa yang satu mempengaruhi yang lain, sekalipun dalam praktik tampak ada pengaruhnya.
Jiwa telah memiliki pengertian-pengertian yang tunggal tentang substansi bendawi (seperti juga tentang substansi rohani dan substansi yang tiada batasnya, yaitu Allah) sebagai bawaannya. Namun, karena Descartes telah menyangsikan dunia di luar diri saya, sekarang ia mengalami kesulitan untuk membuktikan bahwa idea materi itu juga ada. Artinya idea itu mempunyai eksistensi, tetapi “terwujud” dalam realitas ekstra-subjek.
Bagi Descartes, satu-satunya jalan untuk menerima adanya dunia material adalah bahwa Allah akan menipu saya sekiranya Ia memberi saya idea keluasan, sedangkan di luar diri saya tiada sesuatu pun yang sesuai dengannya. Tidak mungkin bahwa wujud yang sempurna (Allah) menipu saya. Jadi, di luar saya sungguh-sungguh ada suatu dunia material.[17]
3)      Antropologi
Ajaran Descartes tentang manusia sesuai dengan pandangannya yang dualistis mengenai keterpisahan antara substani rohani dan substansi bendawi. Manusia terdiri dari kedua substansi ini. Jiwa adalah pemikiran dan tubuh adalah keleluasaan. Sebenarnya tubuh tidak lain daripada suatu mesin yang dijalankan oleh jiwa.
Descartes, dengan memisahkan secara radikal jiwa dan tubuh, menganut dualisme tentang manusia. Ia mendapat banyak kesulitan ketika harus mengartikan pengaruh tubuh atas jiwa dan sebaliknya, pengaruh jiwa atas tubuh. Satu kali ia mengatakan bahwa kontak antara jiwa dan tubuh berlangsung dalam glandula pinealis (sebuah kelenjar kecil yang letaknya di bawah otak kecil). Akan tetapi, pada akhirnya pemecahan ini tidak memadai bagi Descartes.
2.      Tentang Epistemologi: Metode Kesangsian
Untuk dapat memberikan dasar yang kokoh pada filsafat dan ilmu pengetahuan yang ingin diperbaruinya itu, Descartes memerlukan suatu metode yang baik. Selanjutnya, Descartes berpendapat bahwa ia telah menemukan metode yang dicarinya itu, yaitu dengan menyangsikan segala-galanya. Ia bermaksud menjalankan metode ini seradikal mungkin.[18]
Descartes menganggap bahwa pengetahuan memang dihasilkan oleh indera, tetapi karena dia mengakui bahwa indera itu bisa menyesatkan (seperti dalam mimpi atau khayalan), maka dia terpaksa mengambil kesimpulan bahwa data inderawi tidak dapat diandalkan. Dia kemudian menguji kepercayaannya kepada Tuhan, tetapi di sini pun dia menemukan bahwa dia dapat membayangkan Tuhan yang mungkin bisa menipu manusia.
Dalam kesungguhannya mencari dasar yang mempunyai kepastian mutlak ini, Descartes meragukan adanya surga dan dunia, pikiran dan badan. Satu-satunya hal yang tak dapat dia ragukan adalah eksistensi dirinya sendiri karena dia tidak dapat meragukan lagi bahwa dia sedang ragu-ragu. Bahkan, jika kemudian dia disesatkan dalam berpikir bahwa dia ada, dia berdalih bahwa penyesatan itu pun merupakan bukti bahwa ada seseorang yang sedang disesatkan. Batu karang kepastian Descartes ini diekspresikan dalam bahasa Latin “Cogito ergo sum“ (saya berpikir, karena itu saya ada).[19]
Mengapa kebenaran ini (saya ada) bersifat pasti sama sekali? Menurut Descartes, hal ini dikarenakan saya mengerti itu dengan jelas dan terpilah-pilah (clearly and distinctly).[20] Jadi, hanya hal-hal yang saya mengerti dengan jelas dan terpilah-pilah itulah harus diterima sebagai benar. Dengan demikian, Descartes berkeyakinan bahwa ia telah menemukan norma untuk menentukan kebenaran.[21]
Menurut Descartes, apa yang jelas dan terpilah-pilah itu tak mungkin didapatkan dari apa yang berada di luar diri kita. Descartes menjelaskan, bahwa suatu benda atau peristiwa yang tampak dan dapat kita amati bukanlah benda atau peristiwa itu sendiri. Adanya benda atau peristiwa kita ketahui dengan rasio atau akal kita. Suatu benda atau peristiwa pada dirinya (das ding an sich) tidak dapat diamati. Yang kita amati itu bukanlah benda (noumena) melainkan penampakannya (fenomena) saja.
Pengetahuan kita tentang benda atau peristiwa itu sendiri bukan karena wahyu, bukan karena pengamatan, sentuhan, atau khayalan, melainkan karena pemeriksaan oleh rasio. Apa yang kita duga kita lihat dengan mata itu hanya dapat kita ketahui dengan kuasa penilaian kita yang terdapat di dalam rasio. Pengetahuan melalui indera adalah kabur. Dalam hal ini kita sama dengan binatang.
Justru karena kesaksian apa pun dari luar tidak dapat dipercayai, menurut Descartes, seseorang mesti mencari kebenaran-kebenaran dalam dirinya, sambil menggunakan norma ”jelas dan terpilah-pilah”[22]. Jadi, bagi Descartes satu-satunya sumber pengetahuan yang sah adalah rasio. Keraguan awal-total merupakan metode yang membuat pengetahuan menjadi jelas dan terpilah-pilah.
D.    Kemungkinan Faktor Sejarah Yang Melatarbelakangi Pemikiran Descartes
Masa hidup Descartes adalah puncak Renaissance. Telah disebut dalam pendahuluan tulisan ini, bahwa Renaissance berarti “kelahiran kembali”. Dalam hal ini, yang dilahirkan kembali ialah “kebudayaan klasik Yunani dan Romawi”. Mengapa kebudayaan tersebut “dilahirkan kembali”? Kedua kebudayaan tersebut dikatakan dilahirkan kembali karena saat itu orang Barat-Eropa sedang bingung mencari solusi dan jalan-jalan baru sebagai alternatif untuk memecahkan problem kebudayaan Barat-tradisional yang diresapi oleh jiwa Kristiani. Dengan demikian, perhatian mereka tertuju pada kebudayaan Yunani dan Romawi yang mereka anggap sebagai akar budaya mereka. Kebudayaan klasik tersebut lalu didewa-dewakan dan dijadikan standar, model dalam segala bidang kultural. Baik dalam kesusastraan, kesenian, lukisan, ukiran, maupun arsitektur.
Suatu perkembangan yang sangat penting pada waktu itu adalah meledaknya aktivitas keilmuan yang didasarkan pada metode eksperimental dan matematis. Selanjutnya, teologi Yudea-Kristiani yang berbaur dengan filsafat Aristotelian (Yunani) yang sempat menguasai alam pikiran Barat-Eropa pada Abad Pertengahan mulai ditinggalkan.
Beberapa tokoh yang dianggap sebagai perintis jalan baru (via moderna) dalam ilmu pengetahuan Barat-Modern ialah Leonardo Da Vinci (1452-1519), Nicolaus Copernicus (1473-1543), Johanes Kepler (1571-1630), dan Galileo Galilei (1564-1643).[23] Adapun orang yang meletakan dasar filosofis bagi perkembangan ilmu pengetahuan Barat-Modern ialah Francis Bacon (1561-1623). Ia adalah seorang bangsawan Inggris yang telah melahirkan karya besar Novum Organon, suatu karya yang merevisi filsafat ilmu pengetahuan Aristoteles dalam Organon.
Bacon dan para pemikir yang telah disebutkan di atas merupakan orang-orang yang mempengaruhi pemikiran Rene Descartes, hingga Descartes meneriakkan metode keraguan (skeptisisme) sebagai fundamen baru dalam menggapai pengetahuan tentang dunia..
Metode keraguan sebagai  fundamen baru dalam filsafat dan aktivitas keilmuan dinilai sebagai “titik tolak yang netral”. Di sinilah saatnya melepaskan praduga dan prasangka apa pun (termasuk agama atau worldview)  dari diri seseorang. Oleh karena prasangka itu membuat seseorang terpenjara dalam kelemahan dan kebekuan pikiran dan ilmu pengetahuan.
Arti penting pemikiran Descartes terletak pada sumbangannya dalam memberikan arah yang pasti kepada pemikir modern. Kesangsian Cartesian mencakup pertimbangan filsafati serius akan segala sesuatu tentang apa kesangsian boleh dimiliki. Dengan demikian, ajaran-ajaran Descartes dapat membantu orang untuk mengerti aliran-aliran filsafat yang timbul pada abad-abad sesudahnya, khususnya idealisme yang mencapai puncaknya pada pemikiran Hegel di satu pihak dan positivisme serta materialisme di lain pihak. Pertentangan antara kedua kutub filosofis abad ke-19 ini sudah didahului oleh pertentangan pada abad ke-17 dan ke-18 antara rasionalisme dan empirisme, yang kemudian disintesiskan oleh Immanuel Kant dengan kritisisme-nya.
Aliran filsafat yang langsung berasal dari Descartes ialah rasionalime yang mementingkan akal.[24] Dalam akal terdapat idea-idea yang dengan itu orang dapat membangun suatu ilmu pengetahuan tanpa menghiraukan realitas di luar rasio. Dalam aliran ini, terutama ada dua masalah yang diwariskan oleh Descartes. Pertama, masalah substansi, dan kedua, masalah hubungan antara jiwa dan tubuh. Adapun beberapa tokoh rasionalisme setelah Descartes adalah Nicolas Malebranche (1638-1715), Baruch de Spinoza (1632-1670), Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716), dan Christian Wolf (1679-1754).[25]

E.     Konsekuensi dan Relevansi Metode Keraguan (Skeptisisme) Descartes
Metode keraguan Descartes telah melahirkan berbagai konsekuensi. Metode ini telah menempatkan rasionalitas sebagai “standar-nilai” budaya bagi masyarakat Barat.[26] Oleh karenanya masyarakat Barat merasa superior atas masyarakat non-Barat. Masyarakat non-Barat merasa inferior berhadapan dengan masyarakat Barat karena saat ini budaya Baratlah yang memegang kendali (hegemoni) hampir semua segi kehidupan masyarakat dunia. Dengan demikian, masyarakat non-Barat (termasuk Indonesia) cenderung mengadopsi konsep-konsep Barat dalam hampir semua segi kehidupan.
Kebudayaan Barat abad ke-21 merupakan lanjutan dari konsep dan praktik modernitas sejak Rene Descartes. Dalam bidang science, metode keraguan (skeptisisme) Rene Descartes masih dipegang. Merujuk pada Max Weber, inti modernitas adalah Rasionalitas yang mensyaratkan adanya proses sekularisasi.[27] Selanjutnya, merujuk pada David West, dalam bukunya An Introduction to Continental Philosophy tahun 1966, bahwa rasionalisasi selalu dikaitkan dengan proses sekularisasi yang oleh Weber disebut dis-enchantment.
Masyarakat modern memang menempatkan akal (rasio) manusia sebagai penentu kebenaran. Penentu kebenaran bukan lagi agama atau dogma. Masyarakat modern juga menjadikan agama sebagai urusan privat belaka, (The idea of modernity make sciensce, rather than God, central society and at best relegates religious belief to the inner realm of private life).[28]
F.     PENUTUP
1.       Kesimpulan
Skeptisisme (keraguan metodis) yang diusulkan Descartes lebih pada “langkah awal” dalam mencari dan mengukur validitas (ke-absah-an) ilmu pengetahuan. Descartes telah menjadikan rasio sebagai satu-satunya kriteria untuk mengungkap kebenaran (rasionalisme). Namun, pada akhirnya kenetralan metode Descartes masih problematik, dan mulai diragukan. Bila kita telusuri argumen “Cogito Ergo Sum” Descartes, akan kita dapati bahwa “keraguan” pun merupakan deviasi sesaat dan akan kembali pada keyakinan (praduga).
Keyakinan “aku ada” yang bagi Descartes mutlak pun masih merupakan “praduga” yang sarat nilai (value ladens) dan bukan netral atau bebas nilai (value free). Bagaimanapun, praduga dalam bentuk apa pun tidak bisa dihapuskan dari metodologi dan aplikasi ilmu pengetahuan. Lagi pula “skeptisisme” Descartes merupakan wujud konkret praduga atau pandangan hidup (worldview) Descartes sendiri. Hal ini berarti ia ingin melepaskan dirinya dari “hegemoni” dogma Kristiani.
2.      Saran
Pembacaan terhadap skeptisisme Descartes memang suatu hal yang menarik, karena Descartes memiliki latar belakang yang mencengangkan. Di samping itu, ia adalah pelopor jalan baru (via moderna) bagi perjalanan sejarah masyarakat Barat-Eropa.
Membiarkan perkembangan metodologi, konfigurasi bagunan science, dan aplikasinya dalam bentuk teknologi berkembang begitu saja tanpa kontrol moral bisa menjadi sangat riskan (merusak manusia sendiri). Menyadari krisi ilmu pengetahuan dalam budaya dan peradaban Barat, Nauqib al-Attas menyimpulkan, bahwa ilmu yang berkembang di dunia Barat tidak semestinya diterapkan atau di-adopsi di dunia Muslim.
Mengapa ilmu yang berkembang di dunia Barat tidak semestinya diterapkan atau di-adopsi di dunia Muslim? Hal ini disebabkan karena beberapa hal. Pertama, ilmu selalu berangkat dari “praduga” dan ilmu bisa saja dijadikan alat yang sangat halus dan tajam bagi penyebaran cara (metodologi) dan pandangan hidup (worldview) suatu kebudayaan. Kedua, ilmu terbukti tidak netral atau bebas nilai (value free), karena dari awalnya sampai aplikasinya, ilmu pengetahuan begitu sarat nilai (value ladens).[29]


DAFTAR PUSTAKA

Armas, Adnin. 2007 Krisis Epistemologi dan Islamisasi Ilmu. Ponorogo : Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS) – Institut Studi Islam Daruusalam Pondok Pesantren Gontor
Bertens, Kess. 1999. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.
Hardiman, F. Budi. 2007. Filsafat Modern :Dari Machiavelli sampai Nietzche. Jakarta: Gramedia.
Husaini, Adian. 37 Tahun Pembaharuan Islam di Indonesia, Makalah dalam seminar sehari ke-2 Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Muhammad Natsir- Jakarta dengan Tema seminar “Tantangan Da’wah dalam Tataran Pemikiran: Evaluasi Kritis Terhadap 37 Tahun ‘pembaharuan’ Pemikiran Ke-Islaman di Indonesia”, tanggal 15 Muharram 1428/03 Februari 2007.
Kattsoff, Louis O. 2004. PengantarFilsafat, alih bahasa: Soejono Soemargono.          Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Munir Mulkhan, Abdul. 1991. Mencari Tuhan dan Tujuh Jalan Kebebasan: Sebuah Esai Pemikiran Imam  Al-Ghazali. Jakarta: Bumi Aksara.
Scruton, Roger. 1986. Sejarah Singkat Filsafat Modern: Dari Descartes Sampai Wittgenstein, alih bahasa: Zainal Arifin Tandjung. Jakarta: PT. Pantja Simpati.
Surajiyo. 2005. Ilmu Filsafat: Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara.
Utorodewo, Felicia N, dkk. 2006. Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar       Penulisan Ilmiah. Depok: UI Press.


[1] Drs. Surajiyo, Ilmu Filsafat : Suatu Pengantar,  (Jakarta : Bumi Aksara, 2005), hal : 157.
[2] Prof. Dr. Kess Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat,  (Yogyakarta : Kanisius, 1999), hal : 41-42
[3] Abdul Munir Mulkhan, Mencari Tuhan dab Tujuh Jalan Kebebasan : Sebuah Esai Pemikiran  Imam  Al-Ghazali, (Jakarta : Bumi Aksara, 1991), Hal : 43
[4] Bertens op. cit., 42
[5] Louis O. Kattsoff, PengantarFilsafat, alih bahasa; Soejono Soemargono, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 2004), hal : 135
[6] Ibid
[7] Mulkhan, op. cit., 43-44
[8] Ada dua alasan mengapa Descartes dinobatkan sebagai “Bapak Filsafat Barat-Modern”. Pertama, karena ia berusaha keras untuk mencari satu-satunya metode dalam seluruh cabang penyelidikan manusia. Kedua, karena ia memperkenalkan dalam dunia filsafat suatu konsep dan argumen yang ia gunakan sebagai pendobrak pemikiran Abad Pertengahan dan sebagai prinsip dasar filsafatnya. Lihat Roger Scruton, Sejarah Singkat Filsafat Modern: Dari Descartes Sampai Wittgenstein, alih bahasa: Zainal Arifin Tandjung, (Jakarta: PT. Pantja Simpati, 1986), hal. 31.
[9] Ibid
[10] Ibid
[11] Ibid
[12] Ibid
[13] Dalam filsafat, konsep saya (aku) mengacu pada setiap makhluk rasional (manusia) sebagai subjek, bukan sekadar si pemikir sebagai individu.
[14] Ibid, hal : 34-40. Tentang Ide-ide bawaan tersebut dapat juga di telusuri pada K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, (Yogyakarta : Kanisius, 1999), hal : 46.
[15] K. Bertens, op. cit, hal : 46
[16] Ibid
[17] Ibid
[18] Ibid
[19] Yang dimaksudkan Descartes dengan istilah “berpikir” adalah “menyadari”. Pikiran memang merupakan salah satu bentuk kesadaran, dan dalam arti itu kesangsian metodis (skeptisisme) tadi disebutnya “saya berpikir“, dan karena saya berpikir, jelaslah saya ada. Itulah kebenaran yang bagaimanapun tak dapat disangkal, Ibid. Perlu ditegaskan disini bahwa makna keraguan metodis (skeptisime) Descartes adalah mengarah pada satu langkah awal/titk tolak  yang netral (mengesampingkan semua aspek praduga  baik itu budaya maupun agama ) dalam mendapatkan pengetahuan. Dan bukan “skeptisime” yang dikemukakan oleh David Hume, yakni skeptisime bukan langkah awal tapi menjadi langkah ahir/kesimpulan, bahwa kita tidak mungkin mengetahui apapun.
[20] Scruton, op.  cit, hal : 35
[21] Ibid, hal : 45
[22] Ibid, hal 35.
[23] Mulkhan, op. cit., 43-44
[24] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern : dari Machiavelli sampai Nietzche, (Jakrta : Gramedia, 2007), hal : 42
[25] Scruton, op. cit, hal : 40
[26] Dalam pandanga Nauqib al-Attas, ilmu pengetahuan Barat-Modern yang di proyeksikan dalam pandanga-pandangan hidupnya, dibangun atas visi intelektual dan psikologis budaya dan peradaban Barat. Menurutnya ada 5 faktor yang menjiwai budaya dan peradan Barat, yaitu : 1. akal (rasio) diandalakan untuk membimbing kehidupan manusia, 2. bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran, 3. menegasakan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular, 4. selalu apologi pada doktrin humanisme, dan 5. menjadaikan drama dan tragedi sebagi unsur-unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan. Lihat-Adnin Armas, Krisis Epistemologi dan Islamisasi Ilmu, (Ponorogo : Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS) – Institut Studi Islam Daruusalam Pondok Pesantren Gontor, 2007), hal : 10-11  
[27] Harvey Cox dalam bukunya “The Secular City” , ia menegaskan bahwa sekularisasi merupakan konsekuensi logis dari dampak kepercayaan Bible terhadap sejarah (secularization is the legitimate consequence of the impact of biblical faith on history). Selanjutnya Harvey Cox mengatakan bahwa makna yang terkandung dalam sekularisasi adalah pembebasab manusia dari asuhan agama dan metafisika, perhatian pada “dunia lain” menuju dunia kini dan disini (cecularization is the libration of man from religious and metafhysical tutalege, the turning of his attantion away from other world and towards this one). Lihat, Adian Husaini, MA, 37 Tahun Pembaharuan Islam di Indonesia, (Makalah dalam seminar sehari ke-2 Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Muhammad Natsir Jakarta dengan Tema seminar “Tantangan Da’wah dalam Tataran Pemikiran: Evaluasi Kritis Terhadap 37 Tahun ‘pembaharuan’ Pemikiran Ke-Islaman di Indonesia”, tanggal 15 Muharram 1428/03 Februari 2007), hal: 1.
[28] Ibid, hal: 2.
[29] Dua pertimbangan di atas dapat ditelusuri pada Adnin Armas, op. cit, hal : 11-12  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar