Kamis, 21 April 2011

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN EMOSI

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN EMOSI



A.    PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Manusia diciptakan dengan berbagai potensi bakat, minat, kreativitas yang unik seta dinamis. Tentu dengan kesemua itu harus ada usaha atau kewajiban untuk mengembangkan baik itu dari kecerdasan majemuk, kecerdasan spiritual, maupun kecerdasan emosional. Dalam perkembangan itu tentunya banyak mengalami hambatan atau rintangan yang dihadapi yang dapat menghambat  serta mempengaruhi proses tersebut. Maka disinilah peran guru pembimbing agar dapat membantu mengentaskan atas pencegahan terhadap masalah yang timbul maupun yang belum timbul dengan fungsi pencegahan. Kerena seandainya masalah timbul akan berimplikasi terhadap perkembangan diri.
Oleh karena itu, kami ingin membahas lebih jauh mengenai hak ini guna mendapatkan pemahaman yang benar terhadap apa-apa yang dapat mempengaruhi perkembangan peserta didik dalam kaitannya dengan emosional. Dengan judul faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi, dengan makalah yang singkat mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Tidak lupa kritik dan saran kami harapkan agar tersempurnanya makalah yang sederhana ini.
  1. Rumusan Masalah
Agar dalam penulisan tidak melebar atau meluas yakni sesuai dengan pokok pembahasan maka kami ingin merumuskan dengan rumusan masalah sebagai berikut:
a.       Apa yang dimaksud dengan Emosi
b.      Faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan Emosi pada anak didik.
c.       Seberapa Pentingkah Memahami Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi bagi Calon Guru Pembimbing atau BK
  1. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah yang sederhana ini adalah sebagai berikut:
a.       Ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan Emosi
b.      Ingin mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi.
c.       Ingin mengetahui seberapa pentingkah guru pembimbing memahami factor-faktor yang perkembangan Emosi.
d.      Memenuhi salah satu tugas yakni pada mata kuliah Psikologi Anak.

B.     Pengertian Emosi
      Perbuatan atau tingkah laku kita sehari-hari pada umumnya disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, seperti perasaan senang atau tidak senang. Perasaan senang atau tidak tidak senang yang terlalui menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari disebut warna afektif. Warna afektif kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah, atau kadang-kadang tidak jelas (samara-samar). Dalam hal warna afektif tersebut kuat, maka perasaan-perasaan menjadi lebih mendalam, lebih luas, dan lebih terarah. Perasaan-perasaan ini disebut emosi (Sarlito, 1982: 59). Disamping perasaan senang atau tidak senang, beberapa contoh macam emosi yang lain adalah gembira, cinta, marah, takut, cemas, dan benci.
      Emosi dan perasaan adalah dua hal yang berbeda, tetapi perbedaan antara keduanya tidak dapat dinyatakan dengan tegas, emosi dan perasaan merupakan suatu gejala emosional yang secara kualitatif berkelanjutan, akan tetapi tidak jelas batasnya. Pada suatu saat suatu warna afektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi. Contohnya marah yang ditunjukan dalam bentuk diam. Jadi sukar sekali kita mendefinisikan emosi, menurut Crow dan Crow (1958) pengertian emosi itu sebagai berikut : “ an emotion, is an affective experience that accompanies generalized inner adjustment and mental and physioligicial strirredup states in the individual, and that shows it self in his overt behavior.”
      Jadi, emosi adalah pengalaman efektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang nampak.
      Emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan-perubahan fisik. Pada saat terjadi emosi seringkali terjadi perubahan-perubahan pada fisik, antara lain berupa :
a.       Reaksi elektris pada kulit : meningkat bila terpesona
b.      Peredaran darah : bertambah cepat bila marah
c.       Denyut jantung: bertambah cepat bila terkejut
d.      Pernafasan: bernafas panjang bila kecewa
e.       Pupil mata: membesar bila marah
f.       Liur: mengering kalau takut atau tegang
g.      Bulu roma: berdiri kalau takut
h.      Pencernaan: mencret-mencret kalau tegang
i.        Otot: ketegangan dan ketakutan menyebabkan otot menegang atau bergetar
j.        Komposisi darah: komposisi darah akan ikut berubah karena emosional yang menyebabkan kelenjar-kelenjar lebih aktif.
Sebelum kita membahas faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi ada baiknya mempelajari karakteristik perkembangan emosi. Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi terutama karena anak berada dibawh tekanan sosial dan mereka menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu. Tidak semua remaja mengalami masa badai atau tekanan, namun benar juga bila sebagian besar remaja mengalami ketidak stabilan dari waktu kewaktu sebagi kosekuensi usaha penyesuaian diri terhadap pola prilaku baru dan harapan sosial baru.
Pola emosi masa remaja adalah sama denangan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis emosi yang secara normal dialami adalah cinta/kasih sayang, gembira, amarah, takut dan cemas, cemburu, sedih, dan lain-lain. Perbedaannya terletak pada macam dan derejat rangsangan yang membangkitkan emosinya, dan khususnyapola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka.
Remaja sendiri menyadari bahwa aspek-aspek emosional dalam kehidupan adalah penting (jersild, 1957:133). Untuk selanjutnya berikut ini dibahas beberapa kondisi emosional seperti cinta, gembira, kemarahan dan permusuhan, ketakutan dan kesemasan.
a.       Cinta/kasih sayang
Faktor penting dalam kehidupan remaja adalah kepastiannya untuk mencintai seseorang dan kebutuhannya untuk mendapatkan cintadari orang lain. Kemampuan untuk menerima cinta sama pentingnya dengan kemampuan untuk memberinya.
Walaupun remaja bergerak ke dunia pergaulan yang lebih luas, dalam dirinya masih terdapat sifat kanak-kanaknya. Remaja membutuhkan kasih saying dirumah yang sama banyaknya dengan apa yang mereka alami pada tahun-tahun sebelumnya. Karena alasan inilah maka sikap menentang mereka, menyalahkan  mereka secara langsung, mengolok-olok mereka pada waktu pertama kali mengolok-olok mereka karena mencukur kumisnya, adanya perhatian terhadap lawan jenisnya, merupakan tidakan yang kurang bijaksana.
Tampaknya tidak ada manusia, termasuk remaja, yang dapat hidup bahagia dan sehat tanpa mendapakan cinta dari orang lain. Kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta menjadi sangat penting, walaupun kebutuhan-kebutuahan akan perasaan itu disembunyikan secara rapi. Para remaja yang memberontak secara terang-terangan, nakal, dan mempunyai sikap permusuhan besar memungkinkannya disebabkan oleh kurangnya  rasanya cinta dan dicintai yang tidak disadari.

b.   Gembira
Pada umumnya individu dapat mengingat kembali pengalaman-pengalaman yang menyenangkan yang dialami selam remaja, jika menghitung hal-hal yang menyenangkan tersebut kita agaknya mempunyai cerita yang panjang dan lengkap tentang apa yang terjadi dalam perkembangan emosional remaja.
Perasaan gembira dari remaja belum banyak diteliti. Perasaan gembira sedikit mendapat perhatian dari petugas peneliti dari pada perasaan marah dan takut atau tingkah laku problema lain yang memantulkan kesedihan. Rasa bahagia akan dialami apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan para remaja mengalami kegembiraan jika ia diterima sebagai seorang sahabat atau bila ia jatuh cinta dan cintanya mendapat sambutan (diterima) oleh yang dicintai.

c.   Kemarahan dan Permusuhan
                        Sejak masa kanak-kanak, rasa marah telah dikaitkan dengan usaha remaja untuk mencapai dan memiliki kebebasan sebagai seorang pribadi yang mandiri. Rasa marah merupakan gejala yang penting di antara emosi-emosi yang memainkan peranan yang menonjol dalam perkembangan kepribadiannya. Pertama, di antra emosi-emosi ini adalah cinta, dimana kita ketahui bahwa dicintai dan mencintai adalah gejala emosi bagi perkembangan pribadi yang sehat. Rasa marah juga penting dalam kehidupan, karena melalui rasa marahnya seseorang mempertajam tuntutannya sendiri dan pemilikan minat-minatnya sendiri.
                        Mendekati saat mencapai remaja, dia telah melalui banyak fase dalam perkembangan emosional, antara lain dalam kaitannya dengan perbuatan marah dan cara mengatakan kemarahan itu. Kondisi-kondisi dasar yang menyebabkan timbulnya rasa marah kurang lebih sama, tetapi ada beberapa perubahan sehubungan dengan pertambahan umurnya dan kondisi-kondisi tertentu yang menimbulkan rasa marah atau meningkatnya penguasaan  kendali emosional. Banyaknya hambatan yang menyebabkan anak kehilangan kendali terhadap rasa marah, sedikit berpengaruh pada kehidupan emosioal remaja. Tetapa rasa marah tersebut akan berlanjut pemunculannya apabila minat-minatnya, rencana-rencananya, dan tindakan-tindakannya dirintangi.
                        Dalam memahami remaja, ada 4 faktor yang sangat penting sehubungan dengan rasa marah.
1.      Adanya kenyataan bahwa perasaan marah berhubungan dengan usaha manusia untuk memiliki dirinya dan menjadikan dirinya sendiri. Meskipun marah seringkali tampak tolol dan tidak terkendali, namun rasa marah akan terus berlanjut sepanjang ada kehidupan, dan sangat berfungsi sebagai usaha individu untuk menjadi seorang individu sesuai dengan haknya. Selam masa remaja, fungsi marah terutama untuk melindungi haknya untuk menjadi bebas/independent, dan menjamin hubungan antara dirinya dan pihal lain yang berkuasa.
2.      Pertimbangan penting lainnya ialah ketika individu mncapai masa remaja, dia tidak hanya merupakan subjek kemarahan yang berkembang dan kemudian menjadi surut, tetapi juga mempunyai sikap-sikap  dimana ada sisa sikap kemarahan dalam bentuk permusuhan yang meliputi sisa kemarahan masa lalu. Sikap-sikap permusuhan mungkin berbentuk dendam, kesedihan, prasangka, atau kecenderungan untuk merasa tersiksa. Sikap-sikap permusuhan dapat juga tampak dalam suatu kecenderungan untuk menjadi curiga dan keengganan atau menganggap bahwa  orang lain tidak bersahabat dan mempunyai motif yang jelek. Sikap-sikap permusuhan mungkin tampak dalam cara-cara yang bersifat pura-pura; remaja bukannya menampakan kemarahan langsung tetapi remaja lebih menunjukan keinginan yang sangat besar.
3.      Seringkali perasaan marah sengaja disembunyikan dan seringkali tampak dalam bentuk yang samara-samar. Bahkan seni dari cinta mungkin dipakai sebagai alat kemarahan.
4.      Kemarahan mungkin berbalik pada dirinya sendiri. Dalam beberapa hal, aspek ini merupakan aspek yang sangat penting dan juga paling sulit dipahami.
d.   Ketakutan dan Kecemasan
Menjelang anak mencapai masa  remaja, dia telah mengalami serangkaian perkembangan panjang yang mempengaruhi pasang surut berkenaan dengan rasa ketakutannya. Beberapa rasa takut yang terdahulu telah teratasi, tetapi banyak yang masih ada. Banyak ketakutan-ketakutan baru muncul karena adanya kecemasan-kecemasan dan rasa berani yang bersamaan dengan perkembangan remaja itu sendiri.
            Semua remaja sedikit banyak takut terhadap waktu. Beberapa di antara mereka merasa takut hanya pada kejadian-kejadian bila mereka dalam bahaya. Beberapa orang mengalami rasa takut secara berulang-ulang dengan kejadian dalam kehidupan sehari-sehari. Beberapa orang  dapat menglami rasa takut sampai berhari-berhari atau bahkan sampai berminggu-minggu.
            Remaja seperti halnya anak-anak dan orang dewasa, seringkali berusaha untuk mengatasi ketakutan-ketakutan yang timbul dari persoalan-persoalan kehidupan. Tidak ada seorang pun yang menerjunkan dirinya dalam kehidupan dapat hidup tanpa rasa takut. Satu-satunya cara untuk menghindarkan diri dari rasa takut adalah menyerah terhadap rasa takut, seperti yang terjadi bila seseorang begitu takut sehingga ai tidak berani mencapai apa yang ada sekarang atau masa depan yang tidak menentu.
            Biehler (1972) membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun.
Ciri-ciri emosional remaja berusia 12-15 tahun :
1.   Pada usia ini seorang siswa/anak cenderung banyak murung dan tidak bisa diterka. Sebagian kemurungan sebagai akibat dari perubahan-perubahan biologis dalam hubungan dengan kematangan seksual dan sebagai karena kebingungannya dalam menghadapi apakah ia masih sebagai anak-anak atau sebagai seorang dewasa.
2.   Siswa mungkin bertingkah laku kasar karena untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri.
3.   Ledakan-ledakan kemarahan mungkin biasa terjadi. Hal ini seringkali  terjadi sebagai akibat dari kombinasi ketegangan psikologis, ketidakstabilan biologis, dan kelelahan karena bekerja terlalu keras atau pola makan yang tidak tepat atau tidur yang tidak cukup.
4.   Seorang remaja cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan membenarkan pendapatnya sendiri yang disebabkan kurangnya rasa percaya diri. Mereka mempunyai pendapat bahwa ada jawaban-jawaban absolute dan mereka mengetahuinya.
5.   Siswa-siswa di SMP mulai mengamati orang tua dan guru-guru merekan secara lebih objektif dan mungkin menjadi marah apabila mereka ditipu dengan gaya guru yang bersikap serba tahu.

Ciri-ciri emosional 15-18 tahun
1.   “Pemberontakan” remaja merupakan pernyatan-pernyataan/ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak kedewasa.
2.   Karena bertambahnya kebebasan mereka. Banyak remaja yang mengalami konflik dengan orang tua mereka. Mereka mungkin mengharapkan simpati dan nasehat orang tua atau guru.
3.   Siswa pada usia seringkali melamun, memikirkan masa depan mereka. Banyak di antara mereka terlalu tinggi menafsir kemampuan mereka sendiri dan merasa berpeluang besar untuk memasuki pekerjaan dan memegang jabatan tertentu.


C.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi

Sejumlah penelitian tentang emosi anak menunjukan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar (Hurlock, 1960 :266). Reaksi emosional yang tidak muncul pada awal kehidupan tidak berarti tidak ada, reaksi tersebut mungkin akan muncul di kemudian hari, dengan berfungsinya system endoktrin. Kemetangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi perkembangan emosi.
      Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti, memperhatikan satu rangsangan dalam jangka waktu yang lebih lama, dan menimbulkan emosi terarah pada satu objek. Demikian pula kemampuan mengingat mempengaruhi reaksi emosional. Dengan demikian, anak-anak menjadi reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi mereka pada usia yang lebih muda.
      Perkembangan kelenjar endoktrin penting untuk mematangkan prilaku emosional. Bayi secara relatif kekurangan produksi endoktrin yang diperlukan untuk menopang reaksi fisiologis terhadap stress. Kelenjar adrenalin yang memainkan peran utama pada emosi mengecil secara tajam segera setelah bayi lahir. Tidak lama kemudian kelenjar itu mulai membesar lagi, dan membesar dengan pesat sampai anak berusia 5 tahun, pembesaran melambat pada usia 5 sampai 11 tahun, dan membesar lebih pesat lagi sampai anak berusia 16 tahun. Pada usia 16 tahun kelenjar tersebut mencapai kembali ukuran semula seperti saat anak baru lahir. Hanya sedikit adrenalin yang diproduksi dan dikeluarkan sampai saat kelenjar itu membesar. Kegiatan belajar turut menunjang perkembangan emosi. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi, antara lain :
a.       Belajar dengan coba-coba
            Anak belajar dengan coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya, dan menolak prilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan. Cara belajar ini lebih umum digunakan pada masa kanak-kanak awal dibandingkan dengan sesudahnya, tetapi sepanjang perkembangannya tidak pernah ditinggalkan sama sekali.


b.      Belajar dengan cara meniru
            Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain, anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamati. Contoh, anak yang peribut mungkin menjadi marah tehadap teguran guru. Jika ia seorang anak yang popular di kalangan teman sebayanya mereka juga akan ikut marah pada guru tersebut.
c.       Belajar dengan cara mempersamakan diri
Anak menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang yang ditiru. Disini anak hanya yang menirukan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya.
d.      Belajar melalui pengkondisian
            Dengan metode ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. Pengkondisian terjadi dengan mudah dan cepat pada tahun-tahun awal kehidupan karena anak kecil kurang mampu manalar, kurang pengalaman untuk menilai situasi secara kritis, dan kurang mengenal betapa tidak rasionalnya reaksi mereka. Setelah melewati masa kanak-kanak, penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka.
e.       Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi.
            Kepada anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika sesuatu emosi terangsang. Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional terhadap rangsangan yang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan.

            Anak memperhalus ekspresi-ekspresi kemarahannya atau emosi lain ketika ia beranjak dari masa kanak-kanak ke masa remaja. Peralihan pernyataan emosi yang bersifat umum ke emosinya sendiri yang bersifat individual ini dan memperhalus perasaan merupakan bukti/petunjuk adanya pengaruh yang bertahap dan latihan serta pengendalian terhadap perilaku emosional.
      Mendekati  berakhirnya usia remaja, seorang anak telah melewati banyak badai emosional, ia mengalami keadaan emosional yang lebih tenang yang mewarnai pasang surut kehidupannya. Ia juga telah belajar dalam seni menyembunyikan perasaan-perasaannya. Hal ini berarti jika ingin memahami remaja, kita tidak hanya mengamati emosi-emosi yang secara terbuka yang ia tampakkan tetapi perlu berusaha mengerti emosi yang disembunyikan.
      Jadi, emosi yang ditunjukan mungkin merupakan selubung/tutup bagi yang disembunyikan, seperti contohnya seorang yang merasa ketakutan tetapi menunjukan kemarahan, dan seorang yang sebenarnya hatinya terluka tetapi malah ia ketawa, sepertinya ia merasa senang.
      Remaja diberi tahu secara berulang-ulang sejak kanak-kanak untuk tidak menunjukan perasaan-perasaannya. Sebagai seorang anak ia tidak boleh menangis walaupun kondisinya sedemikian rupa yang sebenarnya ia ingin andaikata ada keberanian untuk menunjukan perasaan-perasaannya.
Sejak masa kanak-kanak, para remaja sudah mengetahui apa yang ditakutkan tetapi mereka juga diberitahu/diajar untuk tidak “penakut”, untuk menunjukkan ketakutan-ketakutan mereka. Akhirnya seringkali mereka takut tetapi tidak berani menunjukkan perasaan tersebut secara terang-terangan. Adalah hal yang bertentangan bahwa dalam masa remaja, seperti halnya dlam kehidupan orang dewasa, seringkali membutuhkan dorongan yang kuat untuk menunjukkan rasa takut daripada menyembunyikan.
Semua remaja, sejak masa kanak-kanak telah mengetahui rasa marah, karena tidak ada seorang pun yang hidup tanpa pernah marah. Tetapi mereka juga tahu bahwa ada bahasa untuk menunjukan kemarahan secara terbuka, dan kepada remaja diajarkan bahwa tidak hanya sekedar menyembunyikan kemarahan meraka tetapi perlu takut terhadap rasa marah dan merasa bersalah apabila marah. Demikian juga, kebanyakan remaja telah mengalami bagaimana rasanyadicintai dan mencintai, tetapi banyak diantara mereka telah mengetahui bagaimana menyembunyikan perasaan-perasaan tersebut.
      Kondisi-kondisi kehidupan atau kulturlah yang menyebabkan ia merasa perlu menyembunyikan perasaan-presaannya. Ia (mereka) tidak hanya menyembunyikan perasaan-perasaannya terhadap orang lain, tetapi pada derejat tertentu bahkan ia dapat kehilangan atau tidak meresakannya lagi. Hal ini terjadi misalnya, bila ia meragukan apakah ia benar-benar merasa marah atau cinta atau takut, atau ia betul-betul tidak tahu apakah ia merasa marah, cinta, atau takut ? kenyataan bahwa para remaja kadang-kadang tidak mengetahui perasaan mereka atau tidak mampu menghayati perasaan mereka, misalnya tampak dalam ucapan sambil menunjukan kebingungan: “saya tidak tahu apa yang sebenarnya saya rasakan”, saya tidak tahu apakah saya mencintai dia”, saya seharusnya marah, tetapi saya tidak tahu bagaimana perasaan saya sebenarnya tentang hal itu.”
      Banyak kondisi-kondisi sehubungan dengan pertumbuhan anak sendiri dalam hubungannya dengan orang lain yang membawa perubahan-perubaha untuk menyatakan emosi-emosinya ketika ia meresa remaja.
      Orang tua dan guru-guru hendaknya menyadari bahwa perubahan ekspresi yang tampak ini tidak berarti bahwa emosi tidak lagi berperan dalam kehidupan ana muda. Ia tetap membutuhkan perangsang-perangsang yang memadai untuk pengembangan pengalaman-pengalaman emosional. Karena anak tumbuh dalam keadaan fisik dan pemahaman, responnya berbeda terhadap apa yang sebelumnya dianggap sebagai ancaman atau rintangan cita-citanya. Ia pada akhirnya perlu mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan tingkah lakunya dengan apa yang sedang terjadi padanya.
      Dengan bertambahnya umur, menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan dalam ekspresi emosional. Bertambahnya pengetahuan dan pemanfaatan media massa atau keseluruhan latar belakang pengalaman, berpengaruh terhadap perubahan-perubahan emosional ini.

D.    Pentingnya Memahami Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi bagi Calon Guru Pembimbing atau BK

      Telah kita ketahui bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu, mengembangkan, mengarahkan seorang siswa atau peserta didik untuk menjadi lebih baik. Tentunya yang diarahkan itu banyak bentuk dan macamnya dan bervariasi antara satu dengan yang lainnya tentunya tidak sama, baik dari bakat, minat, keinginan bahkan emosionalnya. Yang kesemua itu tentunya perlu di pahami oleh guru pembimbing maupun guru studi guna kepentingan lebih lanjut.
      Dikaitkan dengan pendapat lama menunjukan bahwa kualitas intelegensi, kecerdasan dalam ukuran intelektual atau tataran kognitif yang tinggi  di pandang sebagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan seorang dalam belajar atau meraih kesuksesan dalam hidupnya. Namun baru-baru ini telah berkembang pandangan lain yang mengatakan bahwa faktor yang paling dominant mempengaruhi keberhasilan (kesuksesan) hidup seorang, bukan semata-mata ditentukan oleh tingginya kecerdasan intelektual, tetapi oleh faktor kemantapan emosional, yang oleh ahlinya, yaitu Daniel Goleman disebut Emotional Intelligence (kecerdasan emosional).
      Berdasarkan pengamatan, benyak orang yang gagal dalam hidupnya bukan karena kecerdasan intelektualnya rendah. Namun karena mereka kurang memiliki kecerdasan emosional. Tidak sedikit orang yang sukses dalam hidupnya karena mereka memiliki kecerdasan emosional, meskipun intelegensi intelektual (IQ) hanya pada tingkat rata-rata.
      Kecerdasan emosional semakin perlu dipahami, dimiliki dan perhatikan dalam pengembangannya, mengingat kondisi kehidupan dewasa ini semakin kompleks. Kehidupan semakin kompleks ini memberikan dampak yang sangat buruk terhadap konstelasi kehidupan emosional seseorang.
      Dalam hal ini, Daniel Golmen mengemukakan hasil surveinya terhadap para orang tua dan guru khususnya guru pembimbing, yang hasilnya menunjukan bahwa ada kecenderungan yang sama di seluruh dunia, yaitu generasi sekarang lebih banyak mengalami kesulitan emosional dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Mereka menampilkan sifat-sifat sebagai berikut :
a.       Lebih kesepian dan pemurung
b.      Lebih beringasan dan  kurang menghargai soapan santun
c.       Lebih gugup dan mudah cemas,
d.      Lebih imulsif (mengikuti kemapuan naluriah/instinktif tanpa pertimbangan akal sehat) dan agresif.
Kecerdasan emosional ini merujuk kepada kemampuan-kemampuan pemahan diri, mengola emosi, memanfaatkan emosi secara produktif, empati dan membina hubungan.
Dalam uraian sebelumnya sudah dibahas mengenai emosi remaja yang cenderung  banyak melamun dan sulit diterka,  maka satu-satunya hal yang dapat dilakukan oleh guru pembimbing adalah memahami apa yang diinginkan dan konsisten dalam pengelolaan kelas serta memperlakukan siswa seperti orang dewasa yang penuh dengan   tanggung jawab. Guru pembimbing atau guru bidang studi dapat membantu mereka yang bertingkah laku kasar dengan jalan  mencapai keberhasilan dalam pekerjaan/tugas-tugas sekolah sehingga mereka menjadi anak yang lebih tenang dan lebih mudah ditangani. Kendalikan Salah satu cara yang mendasar adalah dengan mendorong mereka untuk bersaing dengan diri sendiri.
      Apabila ada ledakan-ledakan kemarahan sebaiknya kita memperkecil ledakan emosi, misalnya dengan jalan tindakan yang bijaksana dan lemah lembut, mengubah pokok pembicaraan, dan memulai aktivitas baru. Dalam diskusi kelas, tekankan pentingnya memperhatikan pandangan orang lain dalam mengembangkan/meningkatkan pandangan sendiri. Kita hendaknya waspada atau perlu memahami terhadap siswa yang sangat ambisius, berpendirian keras, dan kaku yang suka mengintimidasi kelasnya sehigga tidak ada seorang yang berani tidak sependapat dengannya atau menentangnya.
            Reaksi yang sering kali terjadi pada diri remaja terhadap temuan-temuan mereka bahwa kesalahan orang dewasa merupakan tantangan terhadap otoritas orang dewasa. Guru SMA dan guru pembimbing terperangkap oleh kemampuan siswa yang baru dalam menentukan/menemukan dan mengangkat ke permukaan tentang kelemahan –kelamahan orang dewasa. Bertambahnya kebebasan dari remaja seperti menanbah “bahan baker terhadap api”, bila banyak dari keinginan-keinginannya langsung dihambat/dirintangi oleh guru-guru dan orang tua. Satu cara untuk mengatasinya adalah meminta siswa mendiskusikan atau menulis tentang perasaan-perasaan mereka yang negative. Ingat meskipun penting bagi guru untuk memahami alasan-alasan pemberontakannya, adalah sama pentingnya bagi  remaja untuk belajar mengendalikan dirinya, karena hidup di masyarakat adalah juga menghormati dan menghargai keterbatasan-keterbatasan, dan kebebasan individual.
Untuk menunjukan kematangan mereka, para remaja terutama laki-laki seringkali merasa terdorong untuk menentang otoritas orang dewasa. Sebagi guru di SMA, seorang ada dalam posisi otoritas, dan karena itu mungkin gurulah yang merupakan target dari pemberontakan dan rasa permusuhan mereka. Tampaknya cara yang paling baik untuk menghadapi pemberontakan para remaja adalah pertama, mencoba untuk mengerti dan kedua, melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan untuk membantu siswa berhasil berprestasi  dalam bidang tertentu tentunnya yang diajarkan di sekolah. Satu cara untuk membuktikan kedewasaan seseorang ialah terampil dalam melakukan sesuatu. Jika guru menyadari seorang yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut pada diri siswa walaupun dalam cara-cara yang amat terbatas, pemberontakan dan sikap permusuhan dalam kelas dapat agak dikurangi.
      Remaja ada dalam keadaan yang membingungkan dan serba sulit. Dalam banyak hal ia tergantung pada orang tua dalam keperluan-keperluan fisik dan merasa mempunyai kewajiban kepada pengasuhan yang mereka berikan dari saat dia tidak mampu memelihara dirinya sendiri. Namun ia harus lepas dari orang tuanya agar ia menjadi orang dewasa yang mndiri, sehingga adanya konflik dengan orang tua tidak dapat dihindari. Apabila terjadi friksi semacam ini, para remaja mungkin merasa bersalah, yang selanjutnya dapat mamberbesar jurang antara dia dengan orang tuanya.
Seorang siswa yang merasa bingung terhadap rantai peristiwa  tersebut mungkin merasa perlu menceritakan penderitaannya, termasuk mungkin rahasia-rahasia kepribadinya kepada orang lain. Karena itu seorang guru diminta untuk berfungsi dan bersikap seperti pendengar yang simpatik.
      Siswa sekolah menengah atas banyak mengisi pikirannya dengan hal-hal yang lain dari pada tugas-tugas sekolah. Misalnya seks, konflik dengan orang tua, dan apa yang akan dilakukan dalam hidupnya setelah ia tamat sekolah. Salah satu persoalan yang paling membingungkan yang dihadapi oleh guru ialah bagaimana menghadapi siswa yang hanya mempunyai kecakapan terbatas tetapi yang selalu “memimpikan kejayaan”. Seorang guru tidak ingin membuat mereka putus asa, tetapi jika ia mendorong siswa tersebut untuk berusaha apa yang tidak mungkin dilakukan, walaupun mungkin pernah mencoba namun gagal, dapat terjadi kegagalan ini malah menambah kesengsaraan dalam hidupnya. Barangkali penyelesaian yang paling baik adalah mendorong anak itu untuk berusaha namun tetap mengingatkan dia untuk menghadapai kenyataan-kenyataan. Menyarankan tujuan-tujuan pengganti yang mungkin merupakan alternatif cara membuat ambisi-ambisinya lebih realistic dan mudah mengatasinya apabila mengalami kegagalan.
      Kebayakan para siswa disekolah menengah atas menginginkan menjadi pegawai negeri/pegawai kantor meskipun kenyataannya hanya sebagian kecil saja yang mencapai tujuan tersebut. Apabila ia menganggap remeh pekerjaan sebagai buruh, ini berarti bahwa anak-anak muda yang memasuki dunia kerja tersebut mungkin tidak mempunyai atau sedikit mempunyai kebanggaan terhadap apa yang mereka kerjakan. Kita para guru baik guru pembimbing maupun guru bidang studi hendaknya dapat memberikan keyakinan kepada siswa bahwa semua pekerjaan adalah bermanfaat apabila dikerjakan dengan sungguh-sungguh, hati-hati, dan penuh tanggung jawab.
Jadi, terdapat berbagai cara mengendalikan lingkungan dan peranan guru untuk menjamin pembinaan pola emosi yang diinginkan dan menghilangkan reaksi-reaksi emosional yang tidak diinginginkan sebelum berkembang menjadi kebiasaan yang tertanam kuat.

E.     PENUTUP

  1. Kesimpulan
            Dari uraian yang telah dibahas dalam makalah ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
a.       Emosi adalah pengalaman efektif  yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang nampak. Emosi juga dapat dikatakan sebagai warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan-perubahan fisik.
b.      Faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar. Disamping itu juga suatu reaksi muncul dengan diiringi berfungsinya endoktrin. Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi perkembangan emosi.
c.       Pentingnya guru pembimbing (BK) memahami ialah dengan ingin selalu mengetahui seberapa besar emosi seorang anak yang dapat mempengaruhi perkembangan fisik maupun dalan proses belajar dikelas. Dan berintraksi dengan lingkungannya baik di sekolah maupun di masyarakat.
  1. Saran
                              Untuk menyempurnakan makalah ini, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca atau pihak yang menggunakan makalah ini. Berpegang pada prinsip tidak ada gading yang tidak retak dan tidak ada final dalam menuntut ilmu. Dengan kerendahan hati penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini, dengan senang hati kritik dan saran dan pandangan dari berbagai pihak untuk menyempurnakan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA


Kartono Kartini (1980), Mental hygiene (kesehatan mental). Bandung : Alumni.
Mampiare Andi (1982), psikologi remaja. Surabaya: Usaha Nasional.
Sarwono, Sarlito Wirawan (1991), psikilogi remaja. Jakarta: rajawali press.
Surya, Muh (1977), kesehatan Mental. Bandung: jurusan BP FIB-IKIP.
Sunarto dan Ny. B. Agung Hartono (2006), Perkembangan Peserta Didik, Jakarta: Rineka Cipta.
Yusuf, Syamsu dan A. Juntika Nurihsan (2009), Landasan Bimbingan dan Konseling, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar