Kamis, 26 Mei 2011

PENDEKATAN HOLISTIK DALAM KONSELING

 PENDEKATAN HOLISTIK DALAM KONSELING

A.    Latar Belakang
Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan yang dinamis dan sarat  perkembangan, perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan budaya kehidupan.
Di dalam pendidikan untuk mencapai tujuan dari pendidikan itu sendiri maka adanya bimbingan dan konseling, secara umum tujuan penyelenggaraan bantuan layanan bimbingan konseling adalah berupaya membantu peserta didik menemukan pribadinya dalam hal mengenai kekuatan dan kelemahan eirinya serta menerima dirinya secara dinamis sebagai modal perkembangan diri lebih lanjut.
Secara khusus konseling bertujuan membantu klien membuat pilihan yang tepat untuk memperbaiki pergaulan atau  hubungan di dunia sekitar dan teman-temannya. Banyak secara konseling seperti humanistic, pendekatan gestalt dan salah satunya konseling holistic yang mendekati 4 aspek, aspek fisik, mental, dan spiritual oleh sebab itu penulis akan menjelaskan makalah tentang pendekatan holistic konseling.

B.     Holistic Terapy dan Konseling
Holistic terapy adalah (current Trend of Person Centered). Menunjukkan kepada kecendrungan mutakhir konseling atau psikoterapy berpusat pada pribadi untuk berpandangan lebih bebas mengenai manusia, upaya pemahaman dimensi sosial dan komunikasi pemikiran, tingkah laku.
Person-centered therapy dikembangkan terutama oleh Carl Rogers, terapi yang bepusat pada orang atau klien ini di dasari pada kepercayaan bahwa klien memiliki kemampuan untuk maju dan membatasi permasalahan-permasalahannya. Secara konstruktif, jika terdapat kondisi-kondisi yang mendorong terjadinya pertumbuhan.[1]
Kepercayaan terhadap kapasitas klien untuk mengembangkan dirinya sendiri bertolak belakang dengan banyak teori yang memandang bahwa tehnik terapy merupakan faktor yang menentukan dalam proses perkembangan klien.
Menurut rogers, terdapat 3 atribut terapis yang diperlukan agar tercipta iklim yang mendorong pertumbuhan individual:
1.      Kongruensi atau kesejatian diri terapis
2.      Penerimaan positif yang tidak bersyarat
3.      Empati yang akurat
Menurut Rogers apabila terapis mengkomunikasikan atribut-atribut tersebut. Maka klien akan menurunkan tingkat pertahanan dirinya lebih terbuka terhadap diri dan dunia di sekelilingnya dan akan menunjukkan perilaku yang konstruktif dan pro sosial. Tujuan konseling adalah untuk membebaskan klien dari pandangan dirinya yang mengekang dan menciptakan kondisi sehingga klien mampu untuk terlibat dalam pencaharian diri yang lebih bermakna.
Kecendrungan yang merealisasikan diri (Actualiting Tendency) merupakan proses kearah tertentu sehingga terciptanya pemenuhan diri, antonomi, self determination dan kesempurnaan.
Dorongan untuk tumbuh yang berasal dari dalam diri merupakan kekuatan internal untuk penyembuhan diri bersama-sama dengan faktor-faktor lingkungan interdependensi dan sosialisasi. Karena adanya kapasitas inheren untuk mengatasi maladjustment.

C.  Tujuan dari Terapy
Yang berpusat pada orang adalah mempertinggi pusat independensi dan integrasi dari individu. Focus terapy adalah pada orang bukan pada  masalah yang sedang dihadapi orang tersebut.
Rogers percaya bahwa tujuan terapy bukanlah untuk memecahkan masalah tertentu, namun untuk membantu klien dalam menjalani proses pertumbuhan sehingga klien dapat menghadapi masalah yang sedang dihadapi maupun permasalahan dimasa depan. Dengan demikian, terapy bertujuan untuk memberikan lingkungan yang kondusif untuk membantu seseorang berfungsi secara penuh.
Sebelum seorang klien mampu untuk mengejar tujuan tertentu, kien harus melepaskan topeng yang mereka pakai yang tercipta dan berkembang melalui proses sosialisasi. Klien kemudian akan mengenali bahwa ia telah kehilangan kontak dengan dirinya sendiri. Rogers menggambarkan bahwa seseorang yang aktualisasi dirinya meningkat akan menunjukkan sikap :
a.       Terbuka terhadap pengalaman
b.      Percaya terhadap diri mereka sendiri
c.       Mampu untuk melakukan evalusi internal
d.      Memiliki keinginan untuk terus menerus tumbuh

D.    HOLISTIK KONSELING
Holistik adalah saduran kata dari bahasa inggris yaitu “Holistik” yang menkankan pentingnya keseluruhan dan saling keterkaitan. Jika kata holistik ini dipakai dalam rangka pelayanan kepada orang lain yang membutuhkan mak mempunyai arti layanan yang diberikan kepada sesama atau manusia secara utuh baik secara fisik, mental, sosial dan spiritual mendapat perhatian yang seimbang[2].
Kembali pada hakikat penciptaan, tuhan menciptakan manusia itu tidak hanya memperhatikan fisiknya saja, mentalnya saja, sosialnya saja atau bahkan hanya memperhatikan spiritualnya saja tetapi utuh, keutuhan ciptaan Allah kepada manusia. Demikian pula jika kita ingin memberikan layanan kepada orang lain yang membutuhkan, kita perlu mendasarkan pelayanan kita kepada keutuhan tersebut aspek fisik, mental, sosial dan spiritual.
Secara sosial holistik perkembangan sebagai proses holistik yaitu perkembangan terjadi tidak hanya dalam aspek tertentu melainakn keseluruhan aspek yang saling terjalin satu sama lain. 3 Proses perkembangan individu:
1.      Proses biologi
2.      Proses kognitif
3.      Proses psikososial
1.      Definisi pelayanan holistic
Pelayanan holistik merupakan pelayanan yang mencerminkan komitmen terhadap pelayanan kepada seluruh manusia, yaitu secara jasmani, sosio-ekonomis, sosio-hubungan, mental dan spiritual. Berarti pelayanan itu luas. Kalau semua tipe pelayanan iotu dilaksanakan secara lengkap belum tentu pelayanan itu dianggap “holistik” kalau tidak di integrasikan secara kreatif dan sistematis.
2.      Definisi kebudayaan
Kebudayaan pada umumnya dipelajari oleh ahli antropologi yang boleh disebut”Cultual atau Sosial antropologi”. Beberapa macam kebudayaan :
a.      Kebudayaan suku
Indonesia sangat kaya dari segi budaya dan adat namun dalam pengertian holistik an konseling, perbedaan kebudayaan tidak begitu penting yang bermakna adalah keadaran bahwa Indonesia adalah pluralistic.
b.      Kebudayaan agama
Clifford Geertz menjelaskan bahwa agama merupakan sebagian dari kebudayaan.

c.       Kebudayaan antar agama
Ketika dari wakil-wakil agama berkumpul, bisa saja muncuk gejala-gejala budaya yang lain antara islam dan Kristen. Ada perbedaan tafsiran dari kelompok masing-masing.

E.     KONSELING “TRAIT DAN FACTOR”
Beberapa tokoh utama teori sifat dan faktor adalah Walter bingham, Jhon Darley, G. Paterson, dan E. G. Williamson, karena pandangan dan konsepnya telah banyak dipublikasikan dalam berbagai artikel dalam jurnal, dab buku-buku.
1.    Konsep  Utama
Menurut teori ini, keperibadian merupakan suatu system sifat atau faktor yang saling berkaitan satu dengan lainnya seperti kecakapan, minat, sikap dan temperamen. Perkembangan kemajuan individu muali dari masa bayi hingga dewasa diperkuat oleh interaksi sifat dan faktor. Telah banyak diusahakan untuk membuat kategori orang-orang atas dasar dimensi macam-macam sifat.
Maksud konseling menurut Williamson adalah untuk membantu perkembangan kesempurnaan berbagai aspek kehidupan manusia. Membantu individu dalam memperoleh kemajuan memahami dan mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan kelemahan diri dalam kegiatan dengan perubahan kemajuan tujaun-tujuan hidup dan  karir (shertzer & Stone, 1980, 171).
Asumsi pokok yang mendasari teori konseling sifat dan faktor adalah :
1)              Karena setiap individu sebagai suatu pola kecakapan dan kemampuan yang terorganisasikan secara unik, dank arena kemampuan kualitasnya relatif stabil setelah remaja, maka tes objektif dapat dugunakan untuk mengidentifikasi karakteristik-karakteristik tersebut.
2)              Pola-pola kepribadian dan  minat berkorelasi dengan perilaku kerja tertentu. Oleh karena itu, maka identifikasi karakteristik para pekerja yang berhasil merupakan suatu informasi yang berguna dalam membantu individu memilih karir.


2.      Proses konseling
Menurut Williamson, hubungan konseling merupakan hubungan yang sangat akrab, sangat bersifat pribadi dalam hubungan tatap muka, kemudian konselor bukan hanya membantu individu atas apa saja yang sesuai dengan potensinya, tetapi konselor harus mempengaruhi klien berkembang ke satu arah yang terbaik baginya. Konselor memang tidak menetapkan, tetapi memberikan pengaruh untuk mendapatkan cara yang baik dalam ,membuat keputusan. Karena itu pula aliran ini disebut konseling yang direktif.
3.      Tehnik konseling
Tehnik-tehnik yang digunakan dalam proses konseling ialah :
a)      Penggunaan hubungan intim (rapport). Konselor harus menerima konseli dalam hubungan yang hangat, intim, bersifat pribadi, penuh pemahaman dan terhindar dari hal-hal yang mengancam konseli.
b)      Memperbaiki pemahaman diri. Konseli harus memahami kekuatan dan kelemahan dirinya, dan dibantu untuk menggunakan kekuatannya dalam upaay mengatasi kelemahannya.
c)      Pemberian nasihat dan perencanaan program kegiatan.
d)      Menunjukkan kepada petugas lain atau referral.
4.       Kritik dan kontribusi
Beberapa kritik yang pada umumnya disampaikan kepada teori sifat dan faktor adalah antara lain :
a)    Pandangannya dikembangkan dalam situasi pendidikan dan kliennya dibatasi terutama kepada siswa-siswa yang memiliki keragaman derajat kemantapan dan tanggung jawab sendiri.
b)   Pendangannya terlalu menekankan kepada pengendalian konselor dan hasil dicapai pada diri klien lebih banyak tergantung kepada keunggulan konselor dalam mengarahkan dan membatasi konseli.
c)    Banyak meminimalkan atau mengabaikan aspek afektif koseli yang justru seharusnya menjadi kepedulian utama konselor.
F.      KONSELING “RATIONAL EMOTIVE”
Tokoh teori ini adalah Albert Ellis.
1.    Konsep pokok
Ellis memandang bahwa manusia itu bersifat rasional dan juga irasional. Orang berprilaku dalam cara-cara tertentu karena ia percaya bahwa ia harus bertindak dalam cara itu. Unsur pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi bahwa berfikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah.
Pandangan yang penting dari teori rasional-emotif adalah konsep bahwa banyak perilaku emosional individu yang berpangkal pada “selftalk” atau “omong diri” atau internalisasi kalimat-kalimat, yaitu orang yang bersifat negatif. Adanya orang-orang yang seperti itu, menurut Ellis adalah karena: a). terlalu bodoh untuk berfikir secara jelas, b). orangnya cerdas tetapi tidak tahu bagaimana berfikir secara cerdas,  dan tidak tahu berfikir secara dalam hubungannya dengan keadaan emosi, c). orangnya cerdas dan cukup berpengetahuan tetapi terlalu neurotik untuk menggunakan kecerdasan dan pengetahuan secara memadai.
2.       Proses konseling
Tugas konselor menurut Ellis ialah membantu individu yang tidak bahagia dan menghadapi hambatan, untuk menunjukkan bahwa: a). kesulitannya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak logis, b). usaha memperbaikinya adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan.
3.      Tujuan konseling Rasional-Emotif
a)      Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berfikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan self actualizationnya seoptimal mungkin melalui perilaku kognitif dan efektif yang positif.
b)      Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri.
Sebagai suatu bentuk hubungan yang bersifat membantu (helping relationship), terapi rasional-emotif mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a)      Aktif-direktif, artinya bahwa dalam hubungan konseling atau terapeutik, terapi atau konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
b)     Kognitif-eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk harus berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.
c)      Emotif- eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk juga harus melihat aspek emotif klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.
d)     Behavioristik, artinya bahwa hubungan yang dibentuk harus menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan perilaku dalam diri klien.
e)      Kondisional, artinya bahwa hubungan dalam terapi rasional-emotif dilakukan dengan membuat kondisi-kondisi tertentu terhadap klien melalui berbagai tehnik kondisioning untuk mencapai tujuan terapi konseling.
4.      Tehnik-tehnik terapi
Tehnik-tehnik Emotif (efetif):
a)      Tehnik Assertive Training, yaitu tehnik yang digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku tertentu yang diinginka.
b)     Tehnik Sosiodrama, yang digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang didramatisasikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secar bebas mengungkapkan dirinya sendiri secara lisan, tulisan ataupun melalui gerakan-gerakan dramatis.
c)      Tehnik ‘self modeling’ atau “diri sebagai model”, yakni tehnik yang digunakan untuk meminta klien agar “berjanji” atau mengadakan “komitment” dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu.
d)     Tehnik imitasi, yakni tehnik yang digunakan diman klien diminta untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.
Tehnik-tehnik Behavioristik
            Beberapa tehnik yang tergolong behavioristik adalah:
1)      Tehnik Reinforcement (Penguatan), yakni tehnik yang digunakan untuk mendorong klien kearah perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun punishment (hukuman).
2)      Tehnik Social Modeling (pemodelan social), yakni tehnik yang digunakan untuk memberikan perilaku-perilaku baru pada klien.
3)      Tehnik Live Models (model dari kehidupan nyata), yang digunakan untuk menggambarkan perilaku-perilaku tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan sosial, interaksi dengan memecahkan masalah-masalah.
Tehnik-tehnik Kognitif
Beberapa tehnik yang tergolong Kognitif:
1)      Home work Assigments (pemberian tugas rumah). Dalam tehnik ini, klien diberikan tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri serta mengintegrasikan system nilai tertentu yang menurut pola perilaku yang diharapkan.
2)      Tehnik Assertive. Tehnik ini digunakan untuk melatih keberanian klien dalam mengekpresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan melalui: role playing atau bermain peran, rehearsal atau latihan, dan social modeling atau meniru model-model sosial.

G.    KONSELING BEHAVIORAL
Yang dapat digolongkan sebagai tokoh-tokoh dan banyak memberikan informasi mengenai konseling behavioral antara lain John D. Krumboltz, Carl E. Thoresen, Ray E. Hosford, Bandura, wolpe dan sebagainya.
     I.            Konsep pokok
Konselor behavioral membatasi perilaku sebagai fungsi interaksi antara pembawaan dengan lingkungan. Perilaku yang dapat diamati merupakan suatu kepedulian dari para konselor sebagai criteria pengukuran keberhasilan konseling. Menurut pendangan ini manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar seperti yang dikemukakan oleh Freud.
Thoresen (shertzer dan stone, 1980, 188) member ciri konseling behavioral sebagai berikut:
a)      Kebanyakan perilaku manusia dipelajari dan karena itu dapat diubah.
b)      Perubahan-perubahan khusus terhadap lingkungan individual dapat membantu dalam mengubah perilaku-perilaku yang relevan prosedur-perosedur konseling berusaha membawa perubahan-perubahan yang relevan.
c)      Prinsip-prinsip belajar special seperti :reinforcement” dan “social modeling”, dapat digunakan untuk mengembangkan prosedur-perosedur konseling.
d)     Keefektifan konseling dan hasil konseling dinilai dari perubahan dalam perilaku-perilaku khusus diluar wawancara prosedur-prosedur konseling.
e)      Prosedur-prosedur konseling tidak statis, tetap atau ditentukan sebelumya, tetapi dapat secara khusus didesain untuk membantu klien dalam memecahkan masalah khusus.

  II.            Prosedur konseling
Koseling behavioral merupakan suatu proses membatu orang utnuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu.
Tujuan konseling menurut Krumboltz harus memperhatkan criteria berikut: (1) tujuan harus diinginkan oleh klien, (2) konselor harus berkeinginan untuk membantu klien mencapai tujuan, (3) tujuan harus mempunyai kemungkinan untuk dinilai pencapaiannya oleh klien.
Mengenai Metode Konseling, Krumboltz. Mengategorikan men jadi empat pendekatan yaitu pendekatan: (1) operant learning, (2) unitative learning atau sosial modeling. (3) cognitive learning dan (4) emotional learning.
Metode Unitative Learning atau sosial modeling diterapkan oleh konselor dengan merancang auatu perilkau adaptasi yang dapat dijadikan model oleh klien.
Metode Cognitive Learning atau pembelajaran kognitif merupakan metode yang berupa pengajaran secara verbal, kontrak antara konseling dengan klien dan bermain peranan.

Selanjutkan metode “ Emotional Learning” atau pembelajaran emosional diterapkan pada individu yang mengalami suatu keemasan.

III.            Kritik dan Kontribusi
Beberapa kritik terhadap konseling behavioral adalah antara lain: konseling behavioral bersifat dingin, kurang menyentuh aspek pribadi, bersifat manipulative, dan mengabaikan hubungan antara pribadi.
Konseling behavioral lebih terkonsentrasi kepada tehnik. Meskipun konselor behavioral sering menyatakan persetujuan kepada tujuan klien, akan tetapi pemilihan tujuan lebih sering ditentukan oleh konselor.
Perubahan klien hanya berupa gejala yang dapat berpindah kepada bentuk perilaku yang lain. Sedangkan konseling behavioral adalah antar lain :
1)      Telah mengembangkan konseling sebagai ilmu karena mengundang penelitian dan menerapkan ilmu pengetahuan kepada proses konselor.
2)      Mengembangkan perilaku  yang spesifik sebagai hasil konseling yang dapat diukur.
3)      Memberikan ilutrasi bagaimana mengatasi keterbatasan lingkungan.
4)      Penekanan bahwa konseling hedaknya memusatkan pada perilaku sekarang dan bukan kepada perilaku yang terjadi dimasa lalu.

H.    KONSELING PSIKOANALISA
1)      Konsep Pokok
Pada mulanya Freud mengembangkan teorinya tentang struktur kepribadian dan sebab-sebab gangguan jiwa.
Teori kepribadian menurut Freud, menyangkut tiga hal yaitu: struktur, dinamika dan perkembangan kepribadian.
a)      Struktur kepribadian
Menurut Freud, kepribadian terdiri atas tiga system, yaitu : id, ego, dan super geo. Ketiga system ini mempunyai fungsi,sifat, prinsip kerja dan dinamika sendiri-sendiri.
Id adalah aspek biologis yang merupakan system kepribadian yang asli.
Ego adalah aspek psikologis yang timbul karena kebutuhan organism untuk berhubungan dengan dunai kenyataan.
Super ego merupakan aspek sosiologis yang mencerminkan nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat yang ada didalam keperibadian individu.
b)      Dinamika keperibadian
Freud menganggap organism manusia sebagai suatu sistem energy yang kompelks. Energy diperoleh dari makanan (energy fisik). Berdasarkan hukum penyimpanan (conservation of energy) energi tidak dapat menghilang energi fisik dapat berbah menjadi psikis. Jembatan antara energi tubuh dengan kleperibadian ialah id beserta insting-instingnya.
Insting menurut Freud sebagai sumber perangsang somatic yang dibawa sejak lahir. Suatu insting adalah sejulah energi psikis, kumpulan dari semua insting-insting merupakan keselruhan energi psikis yang dipergunakan oleh keperibadian . insting mempunyai empat sifat utama yaitu : Sumber , tujuan objek dan mendorong, insting bersumber dari kebutuhan dan bertujuan menghilangkan sumber ketegangan yang diakibatkan Karena adanya kebutuhan.
Sedangkan objek insting adalah segala aktivitas atau benda yang menyebabkan tercapainya kebutuhan.
                       
                       
DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas, 2005, Rencana Strategi Departemen Nasional Tahun 2005-2009, Jakarta; Departemen Pendidikan Nasional.
Istifah, M, 2008 Pendidikan Holistik, Departemen ilmu keluarga dan konsumen, institute pertanian bogor.
Mewangi IR, Melly I, Wahyu F.D, 2005, Pendidikan Holistik, Cimanggis, Indonesia.
Prof. DR, H. Mohamad Surya, Teori-teori Konseling, Bandung; Pustaka bani Quraisy.


[1] M.Yunan Rauf, M.Pd. Teori-teori konseling, hal 14.
[2] http/geogle/holistic konseling/2002

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar