Selasa, 07 Juni 2011

Rasionalisasi Pengendalian Diri Dalam Menghadapi Masalah Sosial

 
RASIONALISASI PENGENDALIAN DIRI DALAM
 MENGHADAPI MASALAH SOSIAL
Oleh
Fitra Herlinda, M.Ag *
A.    PENDAHULUAN
Mencermati fakta dan realita yang terjadi sekarang ini, siswa menunjukkan sikap dan prilaku yang tidak terpuji seperti perkelahian antar pelajar, bahkan sebagai anggota masyarakat penodongan sampai penganiayaan dan pembunuhan. Hal ini diperkuat dengan adanya di kalangan siswa yang berbuat anarkis, siswa yang berkata kasar, menantang guru dan tidak hormat, kecenderungan melanggar disiplin sekolah dan lain sebagainya. Kondisi ini menunjukkan bahwa siswa yang berperilaku demikian di samping tidak bermoral juga siswa tersebut menunjukkan punya masalah sosial dalam menjalani kehidupan ini.
Kenyataan lain  ada orang yang kelihatannya selalu gembira dan bahagia. Walau apapun keadaan yang dihadapinya, , tidak cocok dengan orang lain. Disamping itu ada pula orang yang dalam hidupnya suka mengganggu, melanggar hak dan ketentangan orang lain, suka mengadu domba, menfitnah, menyeleweng, menganiaya, menipu dan sebagainya.
Dizaman reformasi dan globalisasi ini, tantanan kehidupan masyarakat banyak mengalami perubahan. Perubahan ini terjadi diberbagai bidang kehidupan yaitu dibidang politik, sosial dan budaya. Danpak positif dari era ini adalah banyaknya peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan dirinya seoptimal mungkin. Kondisi ini mendorong masyarakat untuk terus berfikir, meningkatkan kemanpuannya, dan tidak puas terhadap apa yang telah dicapainya saat ini.
Diantara dampak negative tersebut adalah banyaknya tantangan dan masalah baru yang bermunculan dimasyarakat kita. Masalah itu adalah adanya keresahan hidup dimasyarakat semangkin meningkat, adanya kecenderungan pelanggaran disiplin secara terbuka oleh sebagian massyarakat dan adanya ambisi yang berlebihan untuk memaksa kehendak adanya kecenderungan masyarakat lain dari masalah, yang pada hakekatnya memicu terjadinya konflik dengan orang lain.
Tidak seorang pun yang tidak ingin menikmati ketenangan dan kebahagian dalam hidup. Dan semua orang akan berusaha mencari kebahagian tersebut, meskipun tidak semuanya dapat mencapainya, yang diinginkannya itu. Bermacam sebab dan rintangan yang mungkin terjadi, sehingga banyak orang yang mengalami kegelisahan, kecemasan dan ketidakpuasan. Keadaan yang tidak memungkinkan itu tidak terbatas kepada golongan tertentu saja, baik kaya ataupun miskin, tua ataupun muda, yang berpangkat ataupun rakyat biasa. Semua ini diperkaya lagi oleh pengaruh-pengaruh dari luar seperti arus globalisasi dan informasi yang membuat sesuatu itu lebih singkat, lebih dekat, lebih terbuka dan lebih mudah. Tapi dipegang dan dipakai oleh orang-orang tanpa dilandasi dengan nilai-nilai religius yang kuat.

*) Fitra  Herlinda, M.Ag. Dosen Prodi Bimbingan dan Konseling Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau. Makalah disampaikan dalam kegiatan Seminar Internasional “Peranan BK dalam meningkatkan Mutu Pendidikan” yang diselenggarakan oleh Prodi BK Jurusan KI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau, pada tanggal 5 Juni 2010 di Rektorat UIN Suska Riau.



 
 
Di era ini, masyarakat ditantang dengan berbagai peluang sekaligus ancaman baik dari dalam maupun dari luar negeri. Masyarakat harus terus berjuang sebaik mungkin menghindari berbagai godaan dan ancaman yang akan menghancurkan, sehingga mereka dapat eksis dan dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan reformasi dan globalisasi ini.
Agar masyarakat manpu menghadapi berbagai tantangan dan godaan seperti manpu memanpaatkan peluang yang ada di era ini, salah satunya diperlukan manusia yang handal yang akan memimpin diri mereka keluar dari berbagai krisis dan kesulitan. Pemimpin masyarakat di era ini jauh lebih sulit dibandingkan dengan pemimpin di era sebelumnya. Banyak tantangan dan ancaman yang akan dihadapi pemimpin di era ini.
Sesungguhnya ketenangan hidup, ketentraman jiwa atau kebahagiaan batin, tidak hanya tergantung pada factor-faktor eksternal saja seperti keadaan sosial, ekonomi, politik dan kebiasaan, akan tetapi lebih tergantung kepada cara dan sikap menghadapi factor-faktor tersebut. Kita tidak meniadakan pengaruh factor-faktor luar itu, karena memang ada pengaruhnya, tapi yang menentukan ketenangan dan kebahagiaan hidup adalah mental yang sehat yang manpu mengendalikan diri, mental yang sehat dan kemampuan mengendalikan diri itulah yang menentukan tanggapan seseorang terhadap suatu persoalan.
Untuk itu disekolah, siswa perlu dibekali dengan berbagai kompetensi pengendalian diri. Pribadi yang punya mental yang sehat dan manpu menyesuaikan diri melalui suatu layanan yang disebut dengan bimbingan dan konseling. salah sayu strategi bimbingan dan konseling yang perlu dimiliki siswa adalah untuk mengembangkan kompetensi kepemimpinannya adalah strategi pengendalian diri. Strategi pengendalian diri ini akan membekali siswa dalam menghadapi berbagai godaan yang akan menghancurkan dirinya dan masyarakat. Siswa yang manpu mengendalikan diri akan mampu mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya dan manpu mengembangkan potensi-potensi dirinya. Seoptimal mungkin siswa yang manpu mengendalikan diri akan dijadikan contoh dan teladan oleh masyarakat yang ada disekitarnya.
B. PENGENDALIAN DIRI
     1. .Pengertian, Tujuan dan Strategi Pengendalian diri
 Masyarakat sering tergoda untuk melakukan tindakan-tindakan yang akan memberikan kepuasan sesaat namun akan sangat merugikan bahkan menghancurkan masa depannya. Contoh-contoh tindakan ini antara lain :
  1. mencuri yang menyebabkan pelaku dipenjara
  2. Merokok yang menyebabkan pelaku menderita kanker
  3. Meminum alcohol yang menyebabkan pelakunya kehilangan kesadaran dan lebih jauh lagi akan menyebabkan kehancuran otak.
  4. Menggunakan kartu kredit diluar kemampuan untuk membayarnya dengan menyebabkan pelakunya banyak hutang
  5. Melakukan Seks bebas yang akan menyebabkan pelaku menderita penyakit kelamin.
  6. Berpesta maupun besok mau ujian, yang menyebabkan pelakunya gagal ujian
  7. Membeli mobil idaman dari pada menabung untuk masa tua atau pension, yang menyebabkan pelakunya bersifat boros.
  8. Makan berlebihan daripada / mengatur makan untuk menjaga kesehatan, yang menyebabkan pelakunya banyak menderita penyakit.
Contoh-contoh diatas adalah tindakan dari seseorang yang tidak manpu mengendalikan diri. Kita berusaha untuk menghindari prilaku diatas dan kita berusaha untuk manpu mengendalikan diri.[i]
Dalam pandangan Zakia Darajat orang yang sehat mentalnya akan dapat menunda buat sementara pemuasan kebutuhannya itu atau ia dapat mengandalkan diri dari keinginan-keinginan yang bisa menyebabkan hal-hal yang merugikan. Lebih lanjut Zaskia Darajat menjelaskan orang yang sehat mental, sanggup menunggu adanya kesempatan yang memungkinkannya mencapai keinginannya itu. Tetapi jika orang tidak manpu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara-cara yang wajar, maka ia akan berusaha mengatasinya dengan cara-cara lain tanpa mengindahkan orang dan keadaan sekitarnya.[ii] Ciri-ciri orang yang sehat mentalnya dalam pandangan penulis adalah orang yang manpu mengendalikan diri.
Menurut Logve, A.W Self Control as the Choise of the large more delayed outcame. Logve dalam memaknai pengendalian diri lebih menekankan pada pilihan tindakan yang akan memberikan manfaat dan keuntungan yang lebih luas dengan cara menunda kepuasan sesaat (Choise are delay gratification immedial gratification)
Dalam bahasa umum pengendalian diri adalah tindakan menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang akan merugikan dirinya dimasa kini maupun dimasa yang akan dating. Kerugian itu bentuknya macam-macam mungkin sakit badan, sakit hati, bangkrut, gagal dalam mencapai cita-cita dan tidak dipercayai oleh orang lain.[iii]
Dalam bahasa agama pengendalian itu adalah upaya untuk menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama. Allah memerintahkan kepada kita untuk menjaga diri dari keluarga kita dari api neraka . Api neraka ditafsirkan disini sebagai sesuatu yang menyakitkan, merugikan dan menghancurkan. Disurat lain Allah juga memerintahkan kita untuk tidak menjerumuskan diri kedalam lembah kebinasaan dan kerusakan.
Agar kita dapat mengendalikan diri, kita hendaknya mampu mengendalikan hati kita, sebab hati sangat berkuasa atas wawasan, fikiran dan tindakan seseorang sebagai contoh ketika kemarahan memuncak, suasana hati seringkali berdetak tak terkendali tekanan yang kian menumpuk terus membengkak hingga mencapai titik batas dan terus menumpuk, mendekati titik kritis yang tak tertahankan. Akibatnya persoalah kecil yang biasanya tidak menimbulkan masalah apa-apa akan berubah menjadi persoalan serius yang sangat mengesalkan hati dan membuat kita resah atau gusar. Puasa adalah melatih diri untuk mengendalikan diri kita.[iv]
Islam menyuruh kita untuk mengendalikan diri dalam menghadapi ujian dan cobaan. Sebab dengan ujian dan cobaan menyebabkan manusia dengan mudah tergelincir. Banyak orang mengaku muslim dan beriman, setelah diuji iman dan agamanya oleh Allah dengan berbagai cobaan, ternyata ia lemah dan terjerumus dalam lembah kesesatan.
Adapun tujuan Allah memberikan ujian dan cobaan kepada hambanya adalah :
1). Membersihkan dan memilih mana orang muknin yang sejati dan mana yang munafik, mana emas murni dan mana emas palsu.
2). Mengangkat derajat dan menghapus dosa
3). Mengungkapkan hakekat manusia itu sendiri sehingga tampak jelas kesabaran dan ketaatannya
4). Membentuk dan menempa kepribadiannya menjadi pribadi yang benar-benar tahan menderita dan tahan uji.[v]
Dalam istilah lain, Islam juga mengenal istilah sabar. Sabar artinya tabah, tahan cobaan. Orang yang sabar akan tahan tahan dan menerima hal-hal yang tidak disenangi dan menyerah diri kepada Allah SWT.[vi] Kita diperintahkan untuk senantiasa sabar, sebab apapun yang diberikan Allah kepada kita pasti ada hikmanya. Kita hendaknya mengambil pelajaran dari setiap kejadian yang kita alami. Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa orang yang sabar adalah orang yang manpu mengendalikan diri dalam menerima ujian dan cobaan hidup.
Tujuan utama mengendalikan diri adalah memperoleh keberhasilan dan kebahagiaan. Dilihat dari sudut agama, tujuan pengendalian diri adalah menahan diri dalam arti yang luas. Menahan diri dari belenggu nafsu duniawi yang berlebihan dan tidak terkendali atau nafsuh bathiniah yang tidak seimbang kesemuanya itu apabila tidak diletakan pada yang benar akan menyebabkan suatu ketidakseimbangan hidup yang berakhir pada kegagalan. Dorongan nafsu pisik atau batin secara berlebihan akan menghasilkan sebuah rantai belenggu yang akan menutup asset yang paling berharga dari diri manusia yaitu “God Spot”. God Spot adalah kejernihan hati dan pikiran yang merupakan sumber-sumber suara hati yang selalu memberikan bimbingan maha penting untuk keberhasilan, kemajuan, dan kebahagiaan manusia.[vii]
Dalam istilah Ahmad Amin suara hati (Consciense) adalah kekuatan memerintah dan melarang kekuatan itu sebagai yang kita ketahui mendahului perbuatan, mengiringinya dan menyusulnya. Dia mendahuluinya dengan memberi petunjuk akan perbuatan wajib dan menakutinya dari kemaksiatan dan mengiringinya dengan mendorong buat menyempurnakan perbuatan yang baik dengan menahan diri dari perbuatan yang buruk, dan menyusulnya dengan gembira dan senang waktu ditaati dan terasa sakit dan pedih dilangganya.
Suara hati ini kita rasakan seolah-olah yang timbul dari hati kita, perintah kepada kita supaya melakukan kewajiban dan memperingatkan kita agar jangan sampai menyalahinya, walaupun kita tidak mengharap-harap balasan atau takut siksaan yang lahir. Seorang miskin yang mendapat barang dijalan, ia yakin bahwa tidak ada yang melihatnya kecuali Allahnya dan kekuasaan undang-undang negeri tidak akan mengenainya, kemudian ia sampaikan barang tersebut kepada pemiliknya atau kepada pusat kepolisian, maka apakah yang mendorongnya berbuat demikian ?. Jawabannya adalah suara hati.[viii]
Berdasarkan kutipan diatas jelas bagi kita bahwa suara hati sangat erat kaitannya dengan pengendalian diri. Dengan mengikuti suara hati maka seseorang harus manpu mengendalikan diri. Berikut ini adalah strategi pengendalian diri :
1.      ingin terus kepadaAllah yang senantiasa mengatur diri kita.
2.      berfikir terlebuh dahulu dengan menggunakan akal yang jernih keuntungan dan kerugian bagi diri kita sebelum melakukan sesuatu
3.      bertanya pada hati nurani kita yang paling dalam kebaikan dan keburukan yang akan di timbulkan dari perbuatan kita.
4.       Bersabar apabila kita terkena musibah
5.      Kita bersabar dalam mengerjakan sesuatu yang di perintahkan Allah
6.      Kita bersabar dalam menghindari sesuatu yang dilarang Allah
7.      Kita bersyukur apabila mendapat nikmat
8.      kita empati pada orang lain.[ix]
     B.. Manfaat Pengendalian Diri
Bukti ilmiah tentang manfaat mengendalikan diri ditulis oleh Daniel Golemen, seorang ahli dan peneliti tentang kecerdasan emosi. Anak-anak berusia empat tahun di Taman Kanak-Kanak Standford disuruh masuk kedalam sebuah ruangan seorang demi seorang, sepotong marshmallow (manisan putih yang empuk) diletakan diatas meja didepan mereka, “kalian boleh makan manisan ini jika mau, tetapi jika kalian memakannya sekembali saya kesini, kalian berhak mendapatkan sepotong lagi”.
Sekitar empat belas tahun kemudian, sewaktu anak-anak itu lulus sekolah lanjut tingkat atas (SMA), anak-anak yang dahulu langsung memakan manisan dibandingkan dengan anak-anak yang manpu mengendalikan diri sehingga mendapatkan dua potong menunjukan perkembangan sebagai berikut. Mereka yang langsung memakan manisan dibandingkan mereka yang tahan menunggu (mampu mengendalikan diri), cenderung tidak tahan menghadapi stres, muda tersinggung, muda berkelahi, dan kurang tahan uji dalam mengejar cita-cita mereka.
Efek yang betul-betul tak terduga dari anak-anak yang mampu mengendalikan diri. Anak-anak yang manpu menahan diri dalam ujian manisan, dibandingkan dengan yang tidak tahan, memperoleh nilai yang lebih tinggi dalam ujian masuk ke perguruan tinggi.
Ketika anak-anak dari Taman Kanak-kanak Stanford itu tumbuh menjadi dewasa dan bekerja, perbedaan-perbedaan diantara mereka semangkin mencolok. Di penghujung usia duapuluhan, mereka yang lulus ujian manisan ketika kanak-kanak, tergolong orang yang sangat cerdas, berminat tinggi, dan lebih manpu berkonsentrasi. Mereka lebih manpu mengembangkan hubungan yang tulus dan akrab dengan orang lain, lebih handal dan lebih bertanggung jawab, dan pengendalian dirinya lebih baik saat menghadapi frustasi.
Sebaiknya, mereka yang langsung memakan manisan sewaktu berusia empat tahun, saat usia mereka hamper tiga puluh tahun, kemanpuan kognitif mereka kurang dan kecakapan emosinya sangat lebih rendah disbanding kelompok yang tahan uji. Mereka lebih sering kesepian, kurang dapat diandalkan, lebih mudah kehilangan konsentrasi, dan tidak sabar menunda kepuasan dalam mengejar sasaran. Bila menghadapi stress, mereka hamper tidak mempunyai toleransi atau pengendalian diri. Mereka tidak luwes dalam menanggapi tekanan, bahkan sering mudah meledak dan ini cenderung menjadi kebiasaan.
Kisa anak-anak dan manisan mengandung pelajaran yang lebih mendalam tentang kerugian akibat ketidakmampuan mengendalikan diri. Bila kita berada dibawa kekuasaan implus, agitasi, dan emosionalitas, kemampuan berpikir dan bekerja kita merosot sekali. Ujian manisan ini membuktikan pentingnya ibadah puasa yang diperintahkan oleh Tuhan yang Maha Kuasa.
Puasa tidak hanya berfungsi untuk menahan dan mengendalikan hawa nafsu seperti makan dan minum atau nafsu amarah saja, tetapi juga mengendalikan fikiran dan hati agar tetap berada pada garis orbit yang telah “digariskan”  dalam prinsip berfikir berdasarkan rukun iman. Disinilah sesungguhnya letak keunggulan puasa yang tertinggi yaitu pengendalian diri agar selalu berada pada jalur fitrah, agar selalu memiliki tingkat kecerdasan emosi yang tinggi.[x]
Puasa yang merupakan rukun islam ketiga sangat sarat dengan hikma dan manfaat bagi kehidupan umat manusia. Diantara hikma puasa itu adalah mampu mengendalikan diri dari perbuatan yang dilarang agama. Ibada puasa mendidik orang-orang yang beriman untuk menahan diri dari lapar dan haus dan dari perbuatan-perbuatan godaan-godaan syaitan: bayangkan saja dalam keadaan tanpa pengawasan siapapun dari manusia namun tetap orang-orang yang beriman itu tidak mau membatalkan puasanya (tidak makan,tidak minum dan tidak pula mau melakukan sesuatu yang membatalkan ibadah puasa). Ibadah puasa bisa dijadikan sebagai benteng diri dari berbagai godaan dan kenikmatan dunia.
Kalau dibandingkan hikmah puasa dalam mengendalikan diri dengan hasil penelitian di atas, dapat dipahami bahwa orang yang dapat mengendalikan diri diperkirakan akan mampu menghadapi tantangan, godaan dan rintangan. Mereka juga diperkirakan akan mampu berkonsentrasi dalam bekerja. Seseorang yang bekerja sedang berpuasa, mereka terlihat lebih konsentrasi dan lebih fokus pada pekerjaan yang dilakukannya, karena fikiran pada waktu itu lebih jernih,lebih tenang,dan lebih teliti. Di samping itu mereka lebih mampu mengembangkan hubungan yang tulus dan akrab dengan porang lain, lebih handal dan lebih bertanggungjawab dan pengendalian diri lebih baik pada saat menghadapi prestasi.
Frustasi adalah suatu proses yang menyebabkan orang merasa akan adanya hambatan terhadap terpenuhinya kebutuhan-kebutuhannya atau menyangka bahwa akan terjadi suatu hal yang menghalangi keinginannya.[xi] Dalam kondisi ini manusia membutuhkan suatu dorongan diri yang memberikan arahan-arahan bagaimana ia bisa menghadapi proses tersebut. Dan dalam kondisi kalau ia bisa mengendalikan diri, maka tidak akan muncul prilaku-prilaku menyimpang yang merugikan dirinya dan orang lain.
Seorang siswa yang mampu mengendalikan diri,akan melahirkan siswa yang punya kepribadian. Kepribadian merupakan susunan sistem-sistem psikofisik yang berada dalam diri individu dan menentukan penyesuaian-penyesuaian yang unik terhadap lingkungannya. Keteladanan kita di dalam melaksanakan pekerjaan adalah salah satu faktor penunjang adalah kepribadian yang utuh.
Siswa teladan yang memiliki kepribadian adalah mereka yang memiliki cirri sebagai berikut :
1.      Penampilan sesuai dengan profesi.
2.      Memiliki sikap terbuka.
3.      Memiliki pendirian yang teguh
4.      Tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negative.
5.      Memiliki stabilitas emosi.
6.      Toleransi terhadap sesama teman, atasan dan bawahan.
7.      Bisa bergaul, ramah tamah dan tenggang rasa.
8.      Tidak mudah frustrasi jika mendapatkan kesulitan.[xii]
Jadi singkatnya dengan pengendalian diri akan bermanfaat bagi seseorang/siswa :
1.      Dalammenghadapi tantangan, hambatan, godaan dan rintangan yang muncul dalamsetiap aspek kehidupannya.
2.      Membuat seseorang/siswa bisa mengembangkan hubungan yang tulus dan akrab dengan orang lain, mampu beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan secara baik dan wajar.
3.      Adanya rasa tanggungjawab dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepada seseorang/siswa tersebut.

C. Mengenal potensi diri.
   Agar kita dapat mengendalikan diri ke arah yang lebih baik,sehingga potensi kita dapat berkembang seoptimal mungkin, maka terlebih dahulu perlu mengenal dan memahami potensi diri. Manusia memiliki berbagai potensi atau kecerdasan. Howard Gardner (1993) menyebutkan dengan istilah multiple Inteligences jamak yang terdiri dari :
  1. Inteligensi musika yaitu kemampuan seseorang untuk mengubah lagu,  bernyanyi dan memainkan alat musik.
  2. Inteligensi badaniah yaitu kemampuan seseorang untuk menggunakan alat tubuh (penari, aktor, ahli mimik, dll)
  3. Inteligensi logika-matematik yaitu kemampuan seseorang untuk menghafal,menghitung dan mengali pemikirang logis.
  4. Inteligensi berbahasa yaitu kemampuan seseorang untuk berbicara atau menulis.
  5. Inteligensi ruang yaitu kemampuan seseorang melukis, memotret atau mematung.
  6. Inteligensi antarpribadi yaitu kemampuan seseorang untuk berhubungan dengan orang lain.
  7. Inteligensi intrapribadi yaitu kemampuan seseorang untuk mengelola perasaan dan kesadaran diri sendiri.
  8. Inteligensi naturalis yaitu kemampuan seseorang untuk mengenal benda-benda di sekitarnya.
  9.  Inteligensi spiritual yaitu kemampuan seseorang untuk memaknai kehidupannya.
  10.  Inteligensi ruhaniah yaitu kemampuan seseorang untuk mendengar hati nuraninya atau bisikan kebenaran yang mengilhami dalam cara dirinya mengambil keputusan atau melakukan pilihan berempati dan beradaptasi.[xiii]
Setiap siswa mempunyai kesepuluh aspek inteligensi di atas. Namun demikian kadar masing-masing aspek tersebut tidak sama. Ada siswa yang menonjol pada inteligensi / kecerdasan. Spiritual dan emosional. Ada juga siswa yang menonjol pada kecerdasan intelektual. Seswa dituntut untuk manpu mengembangkan kecerdasan-kecerdasan yang dimilikinya secara optimal sehingga mereka dapat merahi keberhasilan dan kebahagian . Cara untuk mengembangkan itu adalah dengan cara belajar terus sepanjang hayat. Senada dengan penjelasan diatas, Tohirin[xiv] menegaskan bahwa inteligensi merupakan kecakapan yang tediri atas tiga jenis, yaitu :
1.       Kecakapan untuk mengetahui dan menyesuaikan diri kedalam stuasi yang baru dengan cepat dan efektif
2.       Mengetahui dan menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif
3.       Mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
Inteligensi juga merupakan kemanpuan psiko-fisik untuk mereaksi ransangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat .Dengan demikian, inteligensi bukan persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organ-organ tubuh lainya. Akan tetapi memang harus diakui bahwa peran otak dalam kaitannya dengan inteligensi manusia lebih menonjol dari peran organ tubuh lainnya, mengingat otak merupakan “menara control” hamper semua aktivitas manusia,
Inteligensi besar pengaruhnya terhadap pemajuan dan hasil belajar. Dalam stuasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat inteligensi tinggi akan lebih berhasil dari siswa yang mempunyai tingkat inteligensi yang rendah. Meskipun demikian, siswa yang mempunyai tingkat inteligensi tinggi belum pasti berhasil dalam belajar. Hal ini disebabkan karena belajar merupakan suatu proses yang konpleks dengan factor yang mempengaruhinya, sedangkan inteligensi merupakan salah satu factor yang lain. Jadi inteligensi adalah merupakan salah satu potensi yang dimiliki oleh siswa yang harus dikembangkan lewat pendidikan pada umumnya dan pelayanan bimbingan dan konseling pada khususnya.
Pelanyanan bimbingan dan konseling khususnya di sekolah berfungsi dalam rangka mengungkapkan dan mengembangkan potensi, bakat, minat dan kecenderungan siswa, seluruh potensi. Seluruh potensi, bakat, minat, dan kecenderungan siswa haruslah dikembangkan secara tepat sejauh mungkin. Sekolah harus menyajikan “lingkungan yang subur” dan memberikan kepada mereka arah yang tepat untuk  pertumbuhan dan perkembangan itu.
Pemahaman tentang potensi atau kekuatan siswa merupakan factor penting dalam pemberian bantuan bimbingan dan konseling. Sebenarnya pemahaman tentang siswa secara komprehensif merupakan titik tolak upaya pemberian bantuan terhadap siswa. Sebelum seorang konseling atau guru pembimbing atau pihak-pihak lain dapat memberikan layanan tertentu kepada klien/siswa, maka mereka perlu terlebih dahulu memahami individu yang akan dibantunya itu.pemahaman tersebut tidak hanya sekedar mengenal diri klien/siswa, melainkan lebih jauh lagi yaitu pemahaman yang menyangkut latar belakang pribadi siswa, kekuatan(potensi) dan kelemahan serta kondisi lingkungannya.[xv]
Setiap siswa sejauh mungkin mencoba untuk mewujudkan dirinya sendiri. Segenap potensi yang ada pada dirinya  perlu dikembangkan dan diarah semaksimal mungkin. Untuk itu sekolah harus memberikan pertimbangan-pertimbangan yang perlu diambil dalam pemberian arahan dan penyuburan pertumbuhan dan perkembangan siswa, dan sekolah harus bisa melihat sejauhmana disposisi siswa itu hendaknya dikembangkan dan sudah sejauh mana perkembangan itu berjalan serta pelayanan yang merti diberikan.                                                                                             
D. Emosional Inteligence dan Emational Questiont
Orang sering menggunakan kata emosional questiont dan emotional intelligence secara keliru. Mereka mengartikan kedua istilah itu sama yaitu kecerdasan emosional. Padahal dilihat dari triminologi kedua istilah itu mempunyai pengertian yang berbeda. Emational intelligence artinya kecerdasan emosional, sedangkan emotional questiont artinya ukuranuntuk menunjukan kecerdasan emosional.[xvi]
Menurut Daniel Golemen, dalam kecerdasan emosional terdapat lima konponen penting yang konbinasinya dari masing-masing komponen itu memiliki nilai yang lebih penting daripada IQ. Elemen tersebut adalah kesadaran diri, manajemen emosi, motivasi empati dan mengatur hubungan/relasi.[xvii] Hasil penelitiannya menunjukan bahwa orang yang memiliki hubungan dekat yang  sangat menjadi bintang ditempat kerjanya.
Selanjutnya, Daniel Golemen menunjukan bahwa kerugian pribadi akibat rendahnya kecerdasan emosional  adalah kesulitan dalam perkawinan dan mendidik anak hingga ke buruknya kesehatan jasmani. Rendahnya kecerdasan emosional dapat menghambat perkembangan intelektual dan menghancurkan karir. Sehubungan dengan kecerdasan emosional ini Salovey menempatkan kecerdasan pribadi dari Gardner dalam defenisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetusnya Salovey memperluas kemampuan ini menjadi lima wilayah utama, yaitu mengenali emosi diri, mengelola emosi, motivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan.
1.Mengenali emosi diri
Kesadaran diri yakni mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal yang penting bagi pemahaman diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan kita yang sesungguhnya membuat kita berada dalam kekuasaan perasaan. Orang yang memiliki keyakinan yang lebih tentang perasaannya adalah pilot yang handal bagi kehidupan mereka, karena mereka mempunyai kepekaan perasaan yang tinggi terhadap perasaan mereka yang sesungguhnya dalam mengambil keputusan-keputusan yang sifatnya pribadi.[xviii]
Dalam hal ini erat kaitannya dengan pengendalian suasana hati. Salah satu manfaat puasa sebagai bentuk pelatihan untuk mengendalikan suasana hati. Suasana hati sangatberkuasa atas wawasan, fikiran dan tindakan seseorang. Puasa adalah suatu pelatihan untuk menolak serta menyingkirkan pikiran negative agar bisa tetap positif dan produktif.
2.Mengelola emosi
Sholat adalah pelatihan menyeluruh untuk menjaga serta meningkatkan kualitas kejernihan emosi dan spiritual. Dalam sholat makna dan tujuan hidup ditanamkan didalamnya, sehungga terbangunlah kejelasan visi dan misi yang membuat manusia mantap dalam menjalani setiap aktivitas hidup. Hati nurani sering kali tertutup oleh berbagai belenggu yang menyebabkan orang menjadi buta hati dan tidak mampu mengelola emosi. Hal ini menyebabkan seseorang tidak mampu lagi mendengar informasi-impormasi  penting dari dalam suara hatinya sendiri, dimana dalam hal ini akan mengakibatkan seseorang menjadi tidak mampu lagi membaca dirinya sendiri. Akibatnya ia sering terperosok kedalam berbagai belenggu dan tidak mampu untuk memanfaatkan potensi diri maupun potensi lingkungannya.
Saat sholatlah  sesungguhnya peringatan dini dan kesadaran diri akan arti pentingnya kejenuhan hati dan pikiran untuk mengemukakan, karena kejenuhan pikiran akan menjadi landasan penting bagi pembangunan kecerdasan emosi dan spiritual seseorang.[xix]
Menangani perasaan agar perasaan itu dapat terungkap dengan tepat tergantung pada kesadaran diri kemampuan ini meliputi kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepas kecemasan, kemurungan dan ketersinggungan. Orang-orang yang buruk kemampuannya dalam keterampilan ini akan terus menerus bertarung melalui perasaan murung. Adapun mereka yang pintar dalam keterampilan ini dapat bangkit kemballi dari kemerosotan dan kejatuhan hidupnya dengan jauh lebuh cepat.[xx] Untuk itu dalam mengelola emosi ibadah sholat dan puasa sangat besar peranannya.
3.Motivasi diri sendiri
Jangan sekali-kali meremehkan diri anda, karena anda telah cukup memiliki modal tauhid adalahkepemilikan rasa aman infrinsik, kepercayaan diri yang sangat tinggi, integritas yang sangat kuat, sikap bijaksana dan memiliki motivasi yang sangat tinggi, yang semuanya dilandasi dan dibangun karena iman dan berprinsif hanya kepada Allah serta memuliakan dan menjaga sifat Allah.[xxi]
Menurut Me. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.[xxii] Dari pengertian tersebut motivasi mengandung tiga elemen penting yaitu terjadinya perubahan energi, munculnya rasa/feeling dan adanya tujuan.
Kemudian dalam hubungannya dengan kegiatan bimbingan dan konseling yang paling penting bagaimana menciptakan kondisi atau proses yang menggahirakan si siswa  untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat bagi dirinya. Dalam hal ini barang tentu peran konseling guru pembimbing sangat penting dan jauh lebih penting lagi adalah bagaimana siswa itu bisa memotivasi dirinya dalam melakukan perubahan-perubahan yang lebih baik dan maju.
Menata emosi dengan cara memotivasi diri, menguasai diri dan berkreasi merupakan cara untuk mencapai tujuan. Selanjutnya kendali diri emosional, menahan diri terhadap kepuasan sementara dan mengendalikan dorongan hati merupakan landasan bagi keberhasilan dalam berbagai bidang. Orang-orang yang mampu menyesuaikan diri akan mampu melakukan kinerja yang tinggi dalam segala bidang. Mereka jauh lebuh produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka kerjakan.[xxiii]
4.Mengenali emosi orang lain
Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dipikirkan,  dirasakan dan diinginkan oleh orang lain. Empati ini tergantung kepada kesadaran diri emosional. Empati ini merupakan keterampilan dasar dalam bergaul. Orang-orang yang empati akan lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi dan mengisaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau yang dikehendaki orang lain.[xxiv]
Dalam pelayanan bimbingan dan konseling, untuk menartk keterlibatan siswa, guru pembimbing harus membangun hubungan yaitu dengan menjalin rasa simpati dan empati serta saling pengertian. Hubungan akan membangun jembatan menuju kehidupan bergahirah siswa, membuka jalan memasuki dunia baru mereka, mengetahui minat-minat kuat mereka, berbagai kesuksesan puncak mereka dan berbicara dengan bahasa hati mereka.[xxv] Semua ini akan berpengaruh terhadap kelancaran proses layanan bimbingan dan konseling.
5.Membina hubungan
Dalam Quantum Teaching,[xxvi] memberikan  saran-saran untuk membangun hubungan yaitu :
a.       perlakuan siswa sebagai manusia sederajat
b.      Ketahuilah apa yang disukai siswa, cara fakir mereka dan perasaan mereka mengenal hal-hal yang terjadi dalam kehidupan mereka
c.       Bayangkan apa yang mereka katakan kepada diri sendiri
d.      Ketahui apa yang menghambat mereka untuk memperoleh hal yang benar-benar mereka inginkan, jika tidak tahu tanyakanlah
e.       Berbicara dengan jujur kepada mereka, dengan cara yang jelas dan halus
f.       Bersenang-senang bersama mereka.
Seni membina hubungan, sebagian besar, merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Keterampilan ini akan menunjang popularitas kepemimpinan dan keberhasilan hubungan antara pribadi, orang-orang yang hebatdalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apapun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain. Mereka adalah bintang-bintang pergaulan.
Itulah kelima aspek yang menompang kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional ini penting dimiliki oleh siswa. Sebab mereka adalah calon pemimpin masyarakat yang senantiasa akan berhubungan dengan anggota masyarakat yang berasal dari latar belakang budaya yang beragam. Dengan kecerdasan emosional yang tinggi ini para siswa diharapkan akan mampu mengelolah dirinya dan masyarakatnya dengan lebih arif dan bijaksana.


C. MASALAH SOSIAL
 Masalah sosial dapat diartikan sebagai persoalan-persoalan yang terjadi dalam hubungan sosial.  Dalam perkembangan individu  dengan individu lain tidak selamanya berjalan dengan mulus dan lancar, tapi ada kalanya terjadi kesenjangan dan perbenturan anatara satu kepentingan dengan kepentingan lainnya. Keadaan ini dapat teraktualiasi lewat cara beradaptasi, cara berkomuniukasi dan cara bertingkah laku 
Siswa sebagai individu  akan menghadapui berbagai masalah tentunya berbeda antara  satu dengan yang lain. Konsekwensinya siswa akan memperoleh jenis bimbingan yang berbeda pula sesuai dengaan jenis masalah yang dihadapinya  Masalah sosial itu yang dialami siswa itu antara lain masalah hubungan dengan teman sebaya, hubungan dengan orang tua dan hubungan dengan guru,  hubungan dengan lingkungan  bermacam-macam serta masalah dalam berkomunikasi
Dalam bidang bimbingan sosial, pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah berusaha membantu peserta didik mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosialnya, yang dilandasi budi pekerti dan tanggung jawab  kemasyarakatan dan bernegara. . Bidang ini dirinci menjadi pokok-pokok berikut:
a.       Pengembangan  dan pemantapan kemampuan  berkomunikasi baik melalui ragam lisan maupun tulisan secara efektif
b.      Pengembangan kemampuan bertingkah laku  dan berhubungan sosial, baik di rumah, di sekolah mapun di masyarakat dengan menjunjung tinggi tatakrama , sopan santun serta nilai-nilai agama, adat, peraturan dan kebiasaan yang berlaku
c.       Pengembangan dan pemantapan hubungan  yang dinamis, harmonis, dan produktif dengan teman  sebaya, baik di sekolah yang sama, di sekolah lain, di luar sekolah mapun masyarakat pada umumnya.
d.      Pengenalan, pemahaman dan pemantapan tentang peraturan, kondisi dan tuntutan sekolah, rumah dan lingkungan serta upaya dan kesadaran untuk melaksanakannya secara dinamis dan bertanggung jawab
e.       Pemantapan kemampuan menerima dan mengemukakan pendapat serta berargumen secara dinamis, kreatif dan produktif[xxvii][1]
Secara umum kita dapat melihat bahwa yang  masalah sosial juga menyangkut masalah penyesuaian diri.Individu harus dapat menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan baik lingkungan sekolah keluarga maupun lingkungan masayrakat. Penyesuaian diri merupakan hal yang sangat penting untuk dapat memenuhi kebutuhan individu dengan segala macam kemungkinan yang ada dalam lingkungan tersebut.
Proses penyesuaian diri  dapat menimbulkan  berbagai masalah  terutama masalah sosial yang terjadi pada diri indiviud itu sendiri. Jika individu dapat berhasil memenuhi kebutuhannya  sesuai dengan lingkungannya dan tanpa gangguan dan kerugian bagi lingkungannya hal iini disebut dengan  well adjusted penyesuaian diri dengan baik. Dan sebaliknya jika individu gagal dalm proses penyesuaian diri disebut maladjusted atau salah suai.
Orang yang memiliki  sikap iri hati, hasad, cemburu atau bermusuhan merupakan respon yang tidak sehat. Sedangkan sikap persahabatan persahabatan, toleransi dan memberi pertolongan  merupakan respon yang sehat,.
Berdasarkan pengertian di atas, maka seseorang  dapat dikatakan memiliki penyesuaian diri yang sehat, yang normal yang baik apabila ia mampu memenuhi dan mengatsi masalahnya secara wajar tidak merugikan dirinya dan lingkungannya serta norma agama.
Penyesuaian diri yang normal ini memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.Absence of excessive emotionality, terhindar dari ekspresi emosi yang berlebihan, merugikan atau kurang mampu mengontrol diri
2. Absence of psychological mechanisme, terhindar dari mekanisme-mekanisme psikologi , seperti rasionalisasi, agresi, kompensasi dan lain sebagainya.
3. Absence of the sence of personal frustation, terhindar dari perasaan prustasi atau perasaan kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhannya
4. Rational deliberation and self-direction, memiliki pertimbangan dan penghargaan diri yang rasional, yaitu mampu memecahkan masalah berdasarkan alternatif-alternatif yang telah dipertimbangkan secara matang dan mengarahkan diri  sesuai dengan keputusan yang diambil
5. Ability to learn, mampu belajar, mampu mengembangkan kualitas dirinya, khususnya  yang berkaitan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan  atau mengatasi masalah sehari-hari
6. Utilization of past experience, mampu memamfaatkan pengalaman masa lalu , bercermin ke masa lalu baik yang berkaitan dengan keberhasilan maupun kegagalan untuk mengembangkan kualitas hidup yang lebih baik
7. Realistic, objective attitude, bersikap objektif dan realistin, mampu menerima kenyataan hidup yang dihadapi secara wajar, mampu menghindari, merespon situasi atau masalah sacra rasional, tidak didasari oleh prasangka buruk atau negatif.
 Sebaliknya penyesuaian diri yang menyimpang atau tidak noemal merupakan proses pemenuhan kebutuhan atau upaya pemecahan masalah dengan cara-cara yang tidak wajar atau bertentangan dengan norma yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Dapat juga dikatakan bahwa penyesuaian diri yang menyimpang ini adalah sebagai tingkah laku abnormal, terutama terkait dengan keriteria sosiopsikologis dan agama, ini ditandai dengan respon-respon sebagai berikut:
1.      Reaksi bertahan, mekanisme bertahan diri muncul  dilatabelakangi  oleh dasar-dasar psikologis, salah satunya seperti inferior. Inferior ini menimbulkan gejala-gejala prilaku seperti peka, sangat senang dengan pujian, senang mengkritik atau mencela aorang lain, kurang senang untuk berkompetisi, cenderung senang meneyendiri, pemalu dan penakut.
Berkembangnya sikap inferioritas ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu: kondisi fisik  ( lemah kerdil, cacat, tidak berfungsi atau wajah yang tidak menarik ), psikologis ( kecerdasan di bawah rata-rata, konsep diri yang negatif, frustadi), dan kondisi lingkungan  yang tidak kondusif   hubungan interpersonal dalam kelaurga tidak harmonis, kemiskinan dan perlakuan yang keras dari orang tua.     
2.      Reaksi menyerang atau agresi merupakan bentuk respon  untuk mereduksi ketegangan atau frustasi melalui media tingkah laku yang merusak, berkuasa atau mendominasi.
              Agresi ini  terefleksi dalam tingkah laku verbal dan non verbal. Comtoh yang verbal: berkata kasar, bertengkar, panggilan nama yang jelek \, kritikan yang tajam. Sementara contoh yang non verbal adalah menolak atau melanggar peraturan, memberontak, berkelahi, mendominasi orang lain. Agresi ini timbulk dilatarbelakangi oleh faktor fisik, psikis dan sosial
3.      Rdeaksi melarikan diri dari kenyataan ( escape ). Bentuk reaksi ini seperti berfantasi, melamun, minum-minuman keras, bunuh diri, menjadi pecandu narkoba daan regresi. Reaksi ini  disebabkan oleh faktor psikoligis dan lingkungan keluarga
4.      Penyesuaian yang patologis,  atau disebut juag salah suai. Gejala-gejala salah suai ini  akan dimanifestasikan dalam bentuk tingkah laku yang kurang wajar atau kelainan tingkah laku. Kalau gejala ini dibiarkan tentu akan menganggu baik bagi individu itu sendiri maupun bagi lingkungan.[2][xxviii]
Dari berbagai masalah penyesuain diri di atas  dan sekaligus juga merupakan masalah sosial perlu adanya suatu usaha nyata untuk menanggulani gejala-gejala tersebut, dalam hubungan pengendalian dirimempunyai peran yang cukup penting

D. KESIMPULAN:
Pengendalian diri adalah merupakan sebuah strategis dalam  bimbingan dan konseling secara umum baik disekolah maupun diliar sekolah. Di sekolah strategi pengendalian diri akan membekali siswa dalam menghadapi berbagai tantangan, godaan yang akan menghancurkan dirinya dan masyarakatnya. Disamping itu orang yang mampu mengendalikan diri akan mampu mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya dan mampu mengembangkan potensi-potensi dirinya seoptimal mungkin. Dan pada akhirnya mereka mampu menjadi contoh dan tauladan oleh masyarakat yang ada disekitarnya.
Dalam istilah agama pengendalian diri adalah upaya untuk menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama, sedangkan tujuan utamanya adalah dalam rangka mencapai keberhasilan, kemajuan dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Pengendalian diri dalam menghadapi masalah sosial sanagtlah penting , apalagi dalam menghadapi era globalisasi dan informasi ini. Arus globalisasi dan informasi terkadang menyerat manusia cenderung bersikap individualitas dan egoisenteris. Kondisi ini tentu mengabaikan dimensi-dimensi kemanusiaan, yang salah satunya adalah dimensi sosialitas. Konsekwensinya pengendalian diri sangat diperlukan. Pengendalian diri itu itu antara lain adalah dengan: ingat terus kepada Allah, Sabar, bersukur, empati pada orang lain dan selalu berpikir dengan jernih sebelum berbuat. Strategi pengendalian diri akan melahirkan manfaat yang besar dalam menghadapi tantangan dan godaan, berkonsentrasi dalam bekerja, menjalin silaturrahim dengan orang lain dan menjadikan manusia yang bertanggung jawab.
Pengendalian diri akan dapat diarahkan dengan baik dan benar apabila didahului oleh pengenalan dan pemahaman terhadap potensi-potensi diri. Potensi diri itu meliputi berbagai inteligensi atau kecerdasan yang perlu dikembangkan mulai dari inteligensi musikal sampai ke inteligensi spiritual. Dalam penelitian ditemukan bahwa salah satu kecerdasan/inteligensi manusia yaitu kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang termasuk banyak dalam menentukan keberhasilan seseorang. Untuk itu disekolah khususnya siswa dituntut untuk mampu mengembangkan kecerdasan-kecerdasan yang bimilikinya secara optimal sehingga mereka dapat merahi keberhasilan dan kebahagiaan yaitu dengan cara belajarsecara kontinitas (long live education).
Kecerdasan emosional itu mempunyai lima wilaya utama yaitu mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan. Dengan kecerdasan emosional yang tinggi diharapkan siswa akan mampu mengendalikan diri dan mengelolah diringa dan masyarakatnya dengan arif dan bijaksana.




[1]  Ibid, hal 79
[2] Samsul Yusuf dan A. Juntika Nurihasan,  Landasan Buimbingan dan Konseling, PT.Remaja Rosda Karya, Bandung, hal 210 -221


[i] Ahmad Juntika Nurihsan, Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling, Bandung, Aditama 2005, hl. 69
[ii] Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, Jakarta, Haji Mas Agung, 1989, hl.m 24
[iii] Op.cit, hl.m 70
[iv] QS. At-Tahrim : 6)
[v] Hamdan Daulay dan Muhammad Syukron, Islam dan Pemberdayaan Khutbah Jum’at Pilihan, Yogyakarta, Lekugama, 2004. hl 169
[vi] A. Tabrani Rusyan, Pendidikan Budi Pekerti, Jakarta, Intimedia, tth, hl.m 29
[vii] Ahmad Juntika Nurihsan, Loc. cit
[viii] Ahmad Amin, Etika Ilmu Akhlak, Jakarta, Bulan Bintang 1975, hlm 69
[ix] Achmad Juntika Nurisman, Op. cit. hlm 71
[x] Ary Ginanjar Agustian, EQS Emotional Spritual Question, Jakarta, Arga, 2005, hlm. 309
[xi] Zakiah Daradjat, Op. cit, hlm 24
[xii] Tabrani Rusyan, Op. cit, hlm. 89
[xiii] Achmad Juntika Nurihsan, Op. cit, hlm. 73-77
[xiv] Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2005, hlm 117
[xv] Prayitno dan Erman Amti, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta, Rineka Cipta 2004, hlm 197
[xvi] Ahmad Juntika Nurihsan, Op. cit, hlm 78
[xvii] Adi W. Gunawan, Genius Leraning Strategy,  Jakarta, Gramedia Pustaka Utama 2004, hlm 222
[xviii] Ahmad Juntika Nurihsan, Op. cit, hlm 79
[xix]  Ary Ginanjar Agustian, Op. cit, hlm 285-286
[xx]  Ahmad Juntika Nurihsan, Loc. cit, 
[xxi]  Ary Ginanjar Agustian, Op. cit, hlm 173
[xxii] Sardiman, Motivasi dan Interaksi Belajar Mengajar, Jakarta, Grafindo Persada, 2004, hlm 73
[xxiii] Ahmad Juntika Nurihsan, Loc. cit,
[xxiv] Ibid, hlm 80
[xxv] Bobbi Deporter, Mark Reardon Sarah Singer-Houri, Quastum Teaching, Bandung : Kaifa PT Mizan Pustaka, cet XXI 2007, hlm 24
[xxvi]  Ibid, hlm 26
             [xxvii] Prayitni  dan Erman Amti,Op.Cit, hlm 79
            [xxviii] Syamsul Yusuf dan A.Juntika Nurihsan, Landasan Bimbingan dan Konseling, Bandung : PT.Remaja Rosdakarya, 2008,hlm 210 - 221

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar