Rabu, 26 Oktober 2011

METAFISIKA


METAFISIKA

Oleh:
Boharudin

A.    Pendahuluan
Metafisika adalah bagian kajian filsafat yang paling abstrak dan dalam pandangan sementara orang merupakan bagian yang paling “tinggi” karena berurusan dengan realitas paling utama, berurusan dengan “apa yang sungguh-sungguh ada” yang membedakan sekaligus menentukan bahwa sesuatu itu mungkin ataukah tidak. Sekalipun demikian, subjek yang pasti dari kajian metafisika secara terus-menerus dipertanyakan, demikian juga validitas klaim-klaimnya dan kegunaannya (Hamlyn, 1993: 556). Dengan demikian, pertanyaan pokok yang agaknya perlu dijawab dahulu adalah: Mengapa perlu berkenalan dengan Metafisika? Jika ternyata banyak pengertian “metafisika”, lantas “metafisika” yang mana yang perlu dipelajari dalam rangka studi filsafat? Pertanyaan pertama terkait dengan persoalan relevansi studi metafisika, sedangkan pertanyaan kedua berhubungan dengan batasan dan ruang lingkup studi metafisika.
Terkait dengan pertanyaan pertama, dapat dijawab melalui, setidaknya dua konteks, yakni konteks filosofis dan konteks praksis kehidupan. Dalam konteks filosofis, jika filsafat merupakan suatu usaha yang pertanyaan-pertanyaannya selalu bersifat mendasar, kritis-reflektif (mempertanyakan dasar-dasar pertanyaan dan argumentasinya sendiri) dalam rangka mengungkap asumsi-asumsi tersembunyi dari klaim-klaim tentang segala hal (“pengetahuan”, “realitas”, “yang baik”, “yang indah”, dll), maka “metafisika” merupakan basic philosophy (filsafat dasar) yang merupakan dasar penting bagi semua cabang filsafat lain (Sontag, 1970: 1). Metafisika dalam konteks filsafat lebih menunjukkan objek formal, bukan terkait dengan keluasan objek materialnya, namun sudut pandangnya mengenai inti yang termuat dalam setiap kenyataan, yang pada dasarnya merupakan refleksi filosofis mengenai kenyataan yang paling mutlak, paling mendalam dan paling ultima (Bakker, 1992: 15), dan juga “sebab pertama” sebagaimana dahulu diangkat sebagai issue filosofis paling penting oleh Aristoteles (MRLSU, 2007: 2)
Terkait dengan konteks praksis kehidupan, metafisika bisa jadi memiliki peran yang sangat sentral dewasa ini. Jika hari-hari kita sekarang ini kita terima sebagai saat yang penuh dengan perubahan radikal terkait dengan prinsip-prinsip dasar, nilai, dan lembaga-lembaga sosio-kultural, maka dewasa ini juga merupakan saat yang tepat untuk belajar metafisika, lantaran hanya melalui pengkajian yang sedemikian mendasar sebagaimana ada pada studi metafisika, kita akan menemukan kembali orientasi mental dan moral. (Sontag, 1970: xi). Perubahan sosial yang cepat dan merombak sendi-sendi identitas dan hubungan antar manusia, tentu menuntut adanya suatu pijakan kontemplatif yang dapat melihat dengan lebih jernih dasar dan akar perubahan tersebut.
Tugas makalah sengaja di buat walau senyatanya jauh dari maksud untuk secara mendalam membawa pada isu metafisika, mengingat pergumulan metafisis mensyaratkan adanya ketuntasan dan totalitas berfilsafat, yang itu mengandaikan suatu point no return. Sekali muncul persoalan filosofis (baca: metafisis) di benak kita (misalnya, “apakah Tuhan itu ‘ada’?” “Adakah syarat kategorial untuk ‘ada’ Tuhan sama dengan untuk ‘ada’ yang lain?), maka baik kita dapat menemukanjawabannya atau tidak, dunia dan hidup akan menjadi nampak berbeda bagi kita. Oleh karenanya, titik pijak diskusi ini cukuplah sikap open mind, dalam arti bahwa sebuah kencan singkat bisa jadi hanya menjadi “pengisi waktu luang dan penghibur kejenuhan”, namun bisa pula membawa pada impresi “sekali untuk selamanya…

B.     Sekilah Tentang Metafisika
Istilah metafisika yang berasal dari bahasa Yunani: meta “setelah atau di balik”, phúsika “hal-hal di alam” adalah cabang filsafat yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia. Metafisika adalah studi keberadaan atau realitas. Metafisika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah sumber dari suatu realitas, apakah Tuhan ada, dan sebagainya. Metafisika dapat berarti sebagai usaha untuk menyelidiki alam yang berada di luar pengalaman atau menyelidiki suatu hakikat yang berada di balik realitas. Cabang utama metafisika adalah ontologi, studi mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan hubungan antara satu dan lainnya. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia, termasuk keberadaan, kebendaan, sifat, ruang, waktu, hubungan sebab akibat, dan kemungkinan.
Metafisika berusaha menjangkau dan mengkaji apakah hakikat dari kenyataan/realitas ini sebenar-benarnya. Metafisika merupakan bagian dari filsafat Perennial yang diperuntukan untuk mengetahui adanya hakikat realitas Ilahi yang merupakan substansi dunia ini baik yang material, biologis maupun intelektual.
Metafisika merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafati termasuk pemikiran ilmiah. Diibaratkan pikiran adalah roket yang meluncur ke bintang-bintang, menembus galaksi dan awan gemawan, maka metafisika adalah landasan peluncurannya. Dunia yang sepintas lalu kelihatan sangat nyata ini ternyata menimbulkan berbagai spekulasi filsafati tentang hakikatnya.
C.    Ruang lingkup Metafisika dan bidang-bidang filsafat yang terkait
Sesuai dengan kata“metafisika” merupakan istilah yang sangat sulit didefinisikan. Banyaknya istilah lain yang juga menggunakan “meta” (yang berarti: melampaui, mengatasi, melewati, di atas) seperti pada “metabahasa”, “metaetika”, dan bahkan “metafilsafat”, mudah membawa kesan bahwa “metafisika” merupakan pembicaraan tentang hal-hal yang “melampaui” hal-hal fisik, sebagai studi yang diabdikan untuk mengungkap pokok soal yang mengatasi kajian-kajian yang dilakukan oleh para fisikawan seperti Newton, Einstein dan Heisenberg. Kesan dan anggapan semacam ini jelas salah (MRLSU, 2007: 2). Istilah yang kemudian digunakan untuk menyebut salah satu bidang kajian filsafat tersebut berasal dari Andronicus dari Rodhes sekitar tahun 70 SM untuk menamai kumpulan tertentu karya Aristoteles. Ke empatbelas karya-karya tanpa nama dari Aristoteles tersebut kemudian disebut sebagai “Buku-buku yang datang sesudah Fisika” (ta meta ta physica). Dalam kumpulan karya itu ditemukan pembahasan-pembahasan tentang realitas, kualitas, kesempurnaan, “yang ada” yang mengatasi dunia fisik (Bagus, 1991: 18).
Objek formal metafisika adalah yang-ada sebagai yang-ada (ens in quantum ens) (Bagus, 1991: 25). Oleh karena pengertian inilah secara tradisional metafisika dimengerti sebagai the science of being as such, “ilmu tentang ‘ada’ sebagaimana adanya” (Runes, 1976: 196). Metafisika berurusan dengan "ada" sebagai "ada", dengan "keberbedaan" sebagai "keberbedaan", dengan "menjadi" sebagai "menjadi" (Luijpen, 1960: 57).
Makna sekunder dan jabaran yang secara umum digunakan dalam masyarakat luas, metafisika digunakan juga untuk pembicaaan mengenai segala sesuatu yang terkait dengan hal-hal “supra-fisis” sebagaimana dengan mudah ditemukan dalam istilah “penyembuhan metafisis”, “puisi metafisis” atau “kursus singkat metafisis”. Metafisika juga sering dipakai untuk gambaran dan penjelasan dalam rangka mengatasi ke-tidak-memadai dan ke-tidak-tepatan pemikiran keseharian (Runes, 1976: 196). Dengan demikian, jelas kiranya bahwa metafisika yang dibicarakan dalam makalah ini adalah metafisika dalam makna primernya sebagaimana berkembang dalam tradisi akademik filsafat, sekalipun tidak menutup kemungkinan untuk merambah realitas yang selama ini secara awam diidentikan dengan “dunia lain”, atau pun “dunia klenik”, mengingat objek material metafisika tidak terbatas dan yang menentukan adalah objek formalnya, yakni pencarian “ada sebagaimana adanya”.
Melalui The Problems of Metaphysics, Sontag menegaskan kembali sifat khas metafisika yakni bahwa untuk mempelajari metafisika atau pun memahami persoalan-persoalan metafisika hanya bisa dilakukan bila jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tentang "bermetafisika" telah diperoleh, terutama terkait dengan "bermetafisika" sebagai proses yang "tiada akhir" (Sontag, 1970: 17).
Berikut beberapa masalah dasar metafisika yang secara “tradisional” memberi batasan pada ruang lingkup kajian metafisika.
1.      Ada dan Non-ada
Masalah "Ada" merupakan persoalan yang hendak dijawab oleh setiap teori metafisika karena setiap usaha metafisis untuk memaparkan gambaran paling umum tentang struktur segala sesuatu (realitas) tentu merupakan gambaran tentang ciri-ciri yang diterapkan pada segala sesuatu yang "ada", "akan ada" dan "mungkin ada". Karena metafisika mengarah pada suatu upaya untuk memperoleh sebuah gambaran struktur umum dari "Ada", maka terdapat "paradoks" dalam metafisika, yakni bahwa pada satu sisi suatu usaha untuk menggeneralisasi fakta ternyata sama sulitnya dengan aplikasi spesifik dari teori metafisika tertentu, pada sisi lain kemungkinan dan nilai suatu generalisasi struktur "Ada" langsung terkait dengan status dan manfaat dari metafisika. Persoalan tentang "Ada" memuat berbagai implikasi masalah. yakni: masalah Non-ada (terkait dengan fakta bahwa tidak semua "yang ada" hadir setiap saat); masalah "yang mungkin" (terkait dengan persoalan mengapa struktur Ada tertentu mungkin dan yang lain tidak); masalah "satu" dan "banyak" (terkait dengan masalah struktur dasar semua Ada); masalah status "kesatuan" (terkait dengan masalah apakah sesuatu itu merupakan "kesatuan mutlak" tanpa keserbaragaman); dan masalah fungsi "akal" (terkait dengan pokok soal penggambaran hubungan antara Ada dan Non-ada).
2.      Waktu dan Keharusan
Terkait dengan fakta bahwa tidak semua "yang ada' selalu hadir setiap saat, masalah tentang "waktu" juga menentukan pemahaman tentang struktur Ada. Tanpa pemahaman tentang masalah "waktu"  dalam kaitan dengan pemahaman tentang hubungan masa lalu, masa depan dan masa kini, dan kemampuan pikiran untuk mempertimbangkan ketiganya secara simultan menentukan kemampuan pikiran untuk "mentrasendensikan" masa kini. Masalah tentang "waktu" membawa pula beberapa implikasi masalah, yakni: masalah "perubahan"; masalah kemampuan pikiran untuk menangkap struktur tertentu yang non temporal; masalah "keharusan" (terkait dengan persoalan apakah "waktu" berlaku bagi semua Ada); dan masalah "kebebasan" (terkait dengan persoalan adakah kebebasan bila suatu "keharusan" berlaku untuk semua Ada). Dalam pokok soal tentang "keharusan" inilah metafisika membutuhkan epistemologi dan sekaligus muncul polemik tentang mana yang lebih utama: metafisika atau epistemologi ? Bagi Sontag metafisika lebih utama karena "pengetahuan" tidak dapat ditentukan ciri-cirinya bila terlebih dahulu tidak diketahui ciri-ciri Ada atau Non-ada (Sontag, 1970: 23).
3.      Substansi dan Aksidensia
Selain dimengerti sebagai suatu usaha untuk mencari ciri-ciri paling umum dari Ada, metafiska juga dimengerti sebagai suatu pencarian "substansi", yakni "sesuatu yang tetap" yang eksis tanpa tergantung pada yang lain dan berbeda dengan sifat-sifat yang melekat pada substansi tersebut. Masalah "subtansi" juga memiliki beberapa implikasi masalah, yakni: masalah esensi (prinsip internal utama pada mana atribut dan kualitas-kualitas yang membentuk sesuatu ditentukan , dan tidak mungkin ada sesuatu tersebut tanpa prinsip tersebut); masalah "akal" sebagai "esensi manusia"; masalah "aksidensia" (sesuatu "yang tidak tetap" dan eksistensinya tergantung pada yang lain, dan tanpanya sesuatu tetap eksis); masalah "keharusan" dan aksidensia (terkait dengan persoalan apakah dasar dari "keharusan" bahwa unsur-unsur tertentu meski ada dan yang lain aksidensial, atau bahkan tida ada aksidensi sama sekali); masalah apakah "jiwa" merupakan substansi; dan apakah status "kebebasan jiwa" terkait dengan substansi, esensi, dan aksidensi.

4.      Yang Pertama dan Yang Terakhir
Semua metafisika terkait dengan masalah Ada, namun bila masalah diperluas hingga persoalan "Yang Pertama dan Yang Terakhir", tidak semua metafisikus memasukkan persoalan tersebut dalam metafisika. Pada titik persoalan ini muncul keterkaitan antara teologi dan metafisika, sekalipun tetap menjadi "pilihan terbuka' untuk pada satu sisi menerima adanya Tuhan atau suatu penyebab pertama, dan pada sisi lain tetap meninggalkan suatu prediksi tentang "yang paling akhir" sebagai suatu persoalan terbuka. Sikap terhadap persoalan "Yang Pertama dan Yang Terakhir" ini memiliki implikasi pada persoalan tentang "yang baik" dan "yang jahat" dan juga terkait dengan implikasi nilai dari pilihan dan tindakan manusia. Dalam konteks ini, secara metafisis masalah kreasi dan eskatologi menjadi penting bila kemudian dipersoalkan pula asal mula dan dasar ketentuan dari "yang baik" dan "yang jahat" tersebut, dan juga bila dipersoalkan mengapa dunia kita memiliki bentuk seperti ini dan tidak dalam bentuk lain yang mungkin, dan persoalan ini menuntut manusia untuk menentukan hubungan antara "tyang baik" dan "yang jahat".
5.      Tuhan dan Kebebasan.
Persoalan tentang Tuhan dan kebebasan ditempatkan terakhir bukan karena "paling tidak penting" (namun justru sebaliknya), tetapi karena pembahasan tentang masalah Tuhan memerlukan konteks metafisika yang lebih detail dan karena adanya kesulitan "teknis", yakni bahwa Tuhan "tidak bisa didekati sebara langsung". Oleh karenanya telaah tentang Tuhan umumnya merupakan "puncak" metafisika, bahkan Sontag memberikan dalil bahwa "perlakuan terhadap masalah tentang Tuhan merupakan indikator paling memadai untuk menentukan jenis metafisika yang dibangun, atau setidak-tidaknya persoalan tentang Tuhan merupakan suatu batu uji bagi alasan-alasan dibalik penolakkan metafisis terhadap Tuhan". Persoalan tentang Tuhan ini, dan dalam korelasi dengan masalah "keharusan" dan "teori tentang Jiwa" sebagaimana implisit dalam sub bab B dan D, juga membawa implikasi metafisis pada persoalan tentang "kebebasan". Sontag menegaskan bahwa jawaban terhadap persoalan "kebebasan" merupakan hasil dari sejumlah ajaran metafisis yang utama. Dalam konteks "bermetafisika", masalah "kebebasan" merupakan masalah metafisis yang pertama harus dijawab, yang jawaban tersebut mengarahkan tujuan dari "bermetafisika itu sendiri, dan pada akhirnya menentukan pula batasan "bermetafisika" itu sendiri. Pertanyaan pertama yang harus dijawab sebelum "bermetafisika" tersebut adalah: ADAKAH "KEBEBASAN" DALAM "BERMETAFISIKA" ?
Ada beberapa tafsiran Metafisika:
  1. Animisme
Animisme adalah kepercayaan yang berdasarkan pemikiran supernaturalisme, dimana manusia percaya bahwa terdapat roh-roh yang bersifat gaib yang terdapat dalam benda-benda seperti: batu, pohon dan air terjun. Animisme merupakan kepercayaan yang paling tua umurnya dalam sejaran perkembangan kebudayaan manusia dan masih di peluk oleh beberapa masyarakat di muka bumi.
  1. Materialisme
Materialisme merupakan lawan dari aliran anisme. Materialisme merupakan paham yang berdasaran paham naturalisme, yang berpendapat bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang bersifat gaib, melainkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri. Paham ini dikembangkan oleh Demokritos ( 460-370 SM ). Kaum yang mendukung paham ini adalah kaum mekanistik, mereka melihat gejala alam (termasuk makhluk hidup) hanya merupakan gejala kimia fisika semata. Adapun kaum yang menentang paham ini adalah kaum vitalistik yang berpendapat bahwa hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substansi dengan proses tersebut di atas.
  1. Aliran monistik
Aliran monistik mula-mula dipakai oleh Christian Wolff , mempunyai pendapat yang tidak membedakan antara pikiran dan zat, mereka hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai substansi yang sama. Ibarat zat dan energy, dalam teori relativitas Einstein, energy merupakan bentuk lain dari zat. Jadi yang membedakan robot dan manusia bagi kaum yang menganut paham monistik hanya terletak pada komponen dan struktur yang membangunnya dan sama sekali bukan terletak pada substansinya yang pada hakikatnya berbeda secara nyata. Kalau komponen dan struktur robot sudah dapat menyamai manusia, maka robot itu bisa menjadi manusia.
  1. Aliran Dualistik
Terminologi dualisme ini mula-mula dipakai oleh Thomas Hyde (1700). Dalam metafisika penafsiran dualistik membedakan antara zat dan pikiran yang bagi mereka berbeda secara substantive. Filsuf yang menganut paham dualistik ini diantaranya adalah Rene Decrates (1596-1650), John Locke (1632-1714) dan George Berkeley (1685-1753). Ketiga berpendapat bahwa apa yang ditangkap oleh pikiran, termasuk penginderaan dari segenap pengalaman manusia, adalah bersifat mental. Bagi Descartes maka yang bersifat nyata adalah pikiran sebab dengan berpikirlah maka sesuatu itu lantas ada. Locke sendiri menganggap bahwa pikiran manusia pada mulanya dapat diibaratkansebuah lempeng lilin yanglicin dimana pengalaman indera lalu melekat pada lempeng tersebut. Makin lama makin banyak pengalaman indera yang terkumpul dan kombinasi dari pengalaman-pengalaman indera ini seterusnya membuahkan ide yang kian lama kian rumit. Dengan demikian pikiran dapat diibaratkan sebagi organ yang menangkap dan menyimpan pengalaman indera.

Objek metafisika menurut Aristoteles, ada dua yakni :
1.      Ada sebagai yang ada; ilmu pengetahuan mengkaji yang ada itu dalam bentuk semurni-murninya, bahwa suatu benda itu sungguh-sungguh ada dalam arti kata tidak terkena perubahan, atau dapat diserapnya oleh panca indera. Metafisika disebut juga Ontologi.
2.      Ada sebagai yang Illahi; keberadaan yang mutlak, yang tidak bergantung pada yang lain, yakni TUHAN (Illahi berarti yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera).
Oleh karenaya dari beberapa masalah pokok dalam metafisika di atas, secara sistematik kemudian dikaji melalui sub-sub kajian metafisika, yakni ontologi, kosmologi, filsafat manusia, dan filsafat ketuhanan.
D.    “Senjakala” Metafisika
Penentangan terhadap metafisika datang baik dari dalam maupun dari luar filsafat. Positivisme Logis, walau sekarang sudah sangat berkurang gaungnya, memandang bahwa persoalan metafisika merupakan persoalan yang tidak bermakna (meaningless). Pandangan semacam ini juga sejalan dengan pandangan populer para ilmuwan yang mendasarkan ilmunya pada empirisme yang memang cenderung tidak menyadari asumsi-asumsi metafisis yang mendasari ilmu mereka dan kenaifan argumentasi-argumentasi mereka secara filosofis (Lowe, 1993: 559). Setidaknya, sejak Hume melalui skeptisismenya sudah mempertanyakan bahwa sesungguhnya apakah kita mampu memilah mana pernyataan metafisis dan mana pernyataan yang bukan metafisis karena pernyataan-pernyataan terkait dengan klaim kategorial tersebut tidak dapat ditentukan benar-salahnya (MRLSU, 2007: 23). Suatu argumentasi yang kemudian “dikembangkan” oleh empirisme logis dan positivisme logis pada paruh kedua abad ke-20.
Penentangan dewasa ini muncul dari Postmodernisme dan Dekontruksionisme, yang menyatakan bahwa “metafisika telah mati”. Mereka berpendapat demikian karena dilihat dari perspektif historis, metafisika merupakan bagian dari sejarah intelektual Barat, sementara asumsi yang lebih dapat dipegang adalah relativisme kultural. Tidak ada lagi “persoalan perenial”, dan persoalan tentang “universalia” dan “substansi” tidak relevan lagi (Lowe, 1993: 559). Dari sisi “filsafat bahasa”, diwakili oleh Carnap menyatakan menolak metafisika tradisional dan menilainya sebagai pseudo-inquiry karena mereka menilai bahwa objek kajian sesungguhnya adalah bahasa dan relativisme linguistik (Sosa, 1993: 562).
Dalam konteks sebagaimana telah bergesernya paradigma "pengetahuan tentang objek" kepada paradigma "pemahaman timbal balik di antara subjek yang berwicara dan bertindak" (Habermas, 1987: 295-296), kajian metafisika klasik (dan modern) yang bertumpu pada subjek dan pengandaian adanya “realitas objektif’, secara filosofis sudah sulit diterima lagi. Jangkar pengetahuan dan kebenaran bukan lagi pada dimensi “isolatif” subjek, namun pada dimensi interaksi komunikatif intersubjektif. Dalam perspektif yang demikian tidak lagi dapat diklaim adanya pengatahuan absoulut atau pun hal absoulut. Semuanya berjangkar pada dinamika intersubjektif dengan segala jangkar sosio-historis-kulturalnya. Sebagaimana secara epsitemis oleh Postmodernisme diklaim tidak lagi ada “kebenaran” dengan “K”, demikian mungkin meski juga diterima bahwa tidak lagi ada “realitas” dengan “R”, atau pun “metafisika” dengan “M”.
Namun bagi yang jatuh-mati (lebih dahsyat dari jatuh-hati) terhadap metafisika, argumentasi Sontag mungkin dapat dijadikan pelipur lara. Bagi Sontag metafisika memiliki kemungkinan hidup lebih daripada kucing dalam pepatah yang memiliki nyawa rangkap. Dapat terjadi demikian karena serangan atau pun penolakan terhadap metafisika sesungguhnya hanya berarti bergerak dalam proses bermetafisika. Ada dua argumentasi: Pertama, dalam menyerang titik lemah sikap metafisis, Anda hanya bergerak dalam proses berusaha untuk merumuskan metafisika yang lebih memadai; dan kedua, prinsip yang menjadi dasar penolakan terhadap pandangan metafisis itu sendiri kemudian akan diteliti dengan cermat dan diserang. Serangan terhadap metafisika menghasilkan akibat metafisis yang mengundang pengkajian terhadap prinsip pertama dari pandangan yang mengkritisi metafisika itu sendiri. Membunuh satu bentuk metafisika tidaklah berarti menyingkirkan semua metafisika dengan satu pukulan. Malahan penyerang ditantang untuk menghasilkan sebuah metafisika yang berbeda--yaitu, seperangkat prinsip metafisis sebagai alternatif bagi metafisika yang diserang (Sontag, 1970: 4-5). Menentang dan menolak metafisika diartikan sama dengan membuat metafisika baru.
E.     Penutup
Sebuah perkenalan sangat ditentukan maknanya oleh intensitas korelasional yang terbangun. Metafisika sendiri dewasa ini bukan lagi merupakan bidang “utama” dalam studi-studi filsafat, baik karena alasan “filosofis” (karena paling abstrak, tentu menjadi paling menguras penalaran, di samping gugatan-gugatan terhadap otoritas “elit intelektual” atau “filsuf” atas klaim kebenaran yang mereka buat) atau pun alasan “pragmatis” (tidak bisa bermetafisika kalau harga BBM naik terus….). Namun karena watak kajian metafisika itu sendiri, dalam batas-batas akhir pencarian dan pemahaman atas semesta realitas, siapa pun pada akhirnya kembali lagi pada persoalan-persoalan metafisis yang “abadi”. Apakah hakikat segala sesuatu itu tunggal ataukah jamak? Tetap ataukah berubah? Sesuatu yang material ataukah yang spiritual? Adakah semesta realitas memiliki struktur ataukah tidak? Apakah realitas pada dirinya telah memuat nilai? Adakah realitas mengalami perkembangan? Teleologis ataukah tak terarah?
Sekalipun filsafat selalu dan selalu berurusan dengan “BIG problems”, dalam kehidupan keseharian kita dapat saja (dan mungkin malah harus) mengesampingkan persoalan BESAR tersebut, terlebih bila kita ingin hidup “normal”. Kalau, misalnya ketika kita akan makan saja didahului dengan sebuah perenungan filosofis tentang “hakikat makan” itu apa…., apakah kita makan ini demi “jiwa” atau “tubuh”? Adakah hakikat “jiwa” dan “tubuh” berbeda? Kalau demikian, tentu masing-masing menuntut jenis makanan yang berbeda. Tapi ketika kita merasa “nikmat” oleh karena makanan itu, tidakkah sesungguhnya yang bisa merasakan “nikmat” itu “jiwa”? Kalau demikian, apakah benar anggapan yang dibangun fisikalisme bahwa sebenarnya jiwa sangat tergantung dengan stimulus dan impresi psikis yang terbentuk pada sistem otak kita? Lantas, apakah sesungguhnya “jiwa” itu?.....dan seterusnya…. Jika perenungan filosofis ini yang terjadi ketika saudara hendak makan, yang terjadi mungkin adalah: saudara tidak jadi makan lantaran penasaran dengan pertanyaan yang saudara lontarkan sendiri, atau, bisa saja saudara tetap makan makanan yang tersedia, namun hanya mengikuti “naluri mamalia” dalam rangka bertahan hidup…

Daftar Bacaan
Suriansumantri, Jujun S (2005), Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Tafsir, Ahmad (2010), Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistomologi dan Aksiologi Pengatahuan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Anshari, Endang Saifuddin (2009), Ilmu, Filsafat, & Agama. Surabaya : PT Bina Ilmu.
Bagus, L., (1991), Metafisika, Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Metaphysics Research Laboratory Stanford University (MRLSU), 2007, Metaphysics, http://plato.stanford.edu/entries/metaphysics.

Makalah ini disampaikan pada mata kuliah filsafat ilmu...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar