Selasa, 29 Oktober 2013

HAKEKAT MANUSIA SEBAGAI PENERIMA DAN PENGEMBANG ILMU DALAM BERBAGAI PARADIGMA



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Filsafat mulai ketika manusia mengagumi dunia dan berusaha menerangkan berbagai gejala dunia. Apabila kita sungguh-sungguh hidup dengan sadar di dunia ini, tak dapat tiada kita tentu akan berhadapan dengan berbagai pertanyaan dan persoalan. Hasrat akan mengerti itu menyatakan diri dalam bermacam-macam pertanyaan yang sungguh-sungguh tidak mudah dijawab sekaligus. Yang dapat bertanya demikian hanya manusia, sedangkan hewan ia hanya memiliki pengetahuan terbatas untuk kelangsungan hidupnya, selain itu hewan juga tidak dapat bertanya dan tidak mempersoalkan apa yang dialaminya. Manusia dianugerahi sifat-sifat Tuhan, salah satunya adalah sifat “Mengetahui”, karena hal itu maka Tuhan memberikan manusia akal dan pikiran untuk menerima ilmu pengetahuan yang disampaikannya melalui wahyu-wahyu Nya. Selain itu manusia juga harus mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut.
Manusia semenjak dilahirkan di dunia ini dihadirkan dengan seluruh pertanyaan-pertanyaan yang selalu ingin dicari jawabannya. Ini jugalah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuannya dan pengetahuan yang mendorong manusia yang menjadi mahluk yang paripurna.
Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia yang disebabkan oleh dua hal utama, yakni pertama manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasi informasi dan jalan fikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua yang menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan mantap adalah kemampuan berfikir menurut suatu alur kerangka berfikir tertentu.

Selain itu wahyu pertama yang turun di Gua Hira’, manusia merupakan makhluk pertama yang disebut sebanyak dua kali. Namun, manusia tetap Man the Unknown. Mengetahui hakikat manusia bukanlah pekerjaan mudah. Kita tidak mengetahui manusia secara utuh, yang kita ketahui hanyalah bahwa manusia terdiri dari bagian-bagian tertentu, Akan tetapi perlu kita ketahui manusia tidak sesederhana itu. Manusia mempunyai banyak keistimewaan dibanding makhluk lainnya, diantaranya adalah potensi untuk menerima dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Berdasarkan pemaparan tersebut, maka kami akan membahas materi yang berkaitan dengan “hakikat manusia sebagai penerima dan pengembang ilmu pengetahuan dalam berbagai paradigma” 

B.     Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah:
Bagaimana hakikat manusia sebagai penerima dan pengembang ilmu pengetahuan dalam berbagai paradigma?
C.    Tujuan
Untuk mengetahui dan memahami bagaimana hakikat manusia sebagai penerima dan pengembang ilmu pengetahuan dalam berbagai paradigma.


BAB II
PEMBAHASAN

            Manusia memiliki kemampuan menalar, kemampuan menalar ini menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang ada. Menurut Jujun S. Suriamantri (2009:39)  secara simbolis manusia memakan buah pengetahuan lewat Adam dan Hawa, dan setelah itu manusia harus hidup berbekal pengetahuan ini. Hal ini berarti manusia sebagai individu yang menerima ilmu dari leluhur sebelumnya dan mengembangkan ilmu yang diterimanya secara sungguh-sungguh tersebut agar mampu bertahan hidup. Selanjutnya menurut Jujun S Suriamantri (2009:39) manusia memilkirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidup, namun lebih dari itu. Hal ini berarti bahwa manusia memiliki tujuan tertentu yang lebih tinggi dalam hidup, sehingga manusia mengembangkan ilmu pengetahuan yang diterimanya sehingga membuat manusia menjadi makhluk yang berbeda dari makhluk lainnya.
Menurut Amsal Bakhtiar (2012:98) pengetahuan diperoleh dari berbagai sumber yakni antara lain:
A.    Empirisme
Empiris merupakan pengalaman, manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Menurut David Hume (dalam Amsal Bakhtiar, 2012:100) menegaskan bahwa pengalaman lebih memberi keyakinan dibandingkan kesimpulan logika atu kemestian sebab akibat.
B.     Rasionalisme
Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan, manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan menangkap objek. Akal selain bekerja karena ada bahan dari indera, juga akal dapat menghasilkan pengetahuan yang tidak berdasarkan bahan indrawi sama sekali, jadi dapat disimpulkan bahwa akal dapat menghasilkan pengetahuan tentang objek yang betul-betul abstrak.
C.     Instuisi
Menurut Henry Bergson (dalam Amsal Bakhtiar, 2012:106) intuisi adalah hasil dari evolusi pemahaman yang tertinggi, intuisi mengatasi sifat lahiriah pengetahuan simbolis yang bersifat analisis, menyeluruh, mutlak dan tanpa dibantu oleh penggambaran secara simbolis. Jadi intuisi adalah sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika.
D.    Wahyu
Wahyu adalah pengetahuan yang disampaikan oleh Allah kepada manusia lewat perantaraan para nabi. Para nabi memperoleh pengetahuan dari Tuhan. Pengetahuan dengan jalan ini merupakan kekhususan para nabi, sehingga membedakan para nabi dengan manusia lainnya. Wahyu Allah berisikan pengetahuan, baik mengenai kehidupan seseorang yang terjangkau oleh pengalaman, maupun yang mencakup masalah transedental.
          Menurut Jujun S. Suriamantri (2009:40) menyebutkan ada dua faktor yang menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang diterima dan dimilikinya yakni: manusia memiliki bahasa yang mampu mengkomunikasikan suatu informasi, dan manusia mampu berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu.
            Ada berbagai pendapat yang berbeda dalam memandang hakikat manusia sebagai penerima dan pengembang ilmu, yakni antara paradigma Pakar Barat dengan Paradigma Islam. Adapun perbedaannya hakikat manusia antara kedua paradigm ini adalah sebagai berikut:
A.    Hakikat Manusia dari Sudut Pandang (Paradigma) Pakar Barat
Hakikat Manusia dari Sudut Pandang (Paradigma) Pakar Barat Berbicara tentang hakikat manusia menurut pandangan Barat tidak terlepas bagaimana mereka memandang manusia. Dibawah ini adalah aliran-aliran filsafat yang mencoba menggali lebih dalam tentang hakikat manusia.
1.      Aliran Monoisme ialah Paham yang menganggap bahwa seluruh semesta, termasuk manusia, hanya terdiri atas satu asas, satu zat. Faham ini terbagi kepada dua aliran yaitu:
a.       Paham Materialisme
Paham ini berpendapat semua yang dilihat adalah materi, serba benda, serba zat. Itulah sebenarnya hakikat. Maka manusia sebagai materi (terdiri atas darah, daging dan tulang), sifat dan tingkah lakunya harus sejalan dengan sifat dan tingkah laku alamiah, yakni terikat dengan hukum alam, otomatis harus pada hukum kausalitas. Apa yang disebut dengan ruh, jiwa, pikiran dan perasaan tidak lain adalah fungsi atau kerja badan yang terdiri dari zat untuk merespon stimulus yang datang dari alam. Maka manusia hanyalah membutuhkan pengalaman, latihan dan pendidikan adalah sarananya . Untuk itu kurikulum harus sesuai dengan kodrat alamiah. “yang ada dalam wujud adalah zat. Zat dan sifat badan tidak pernah tinggal dalam dua zaman”. Bagi mereka yang berpandangan empirisme-materialistik akan sulit diajak untuk menghayati makna penyempurnaan kualitas insani sebagaimana yang lazim diyakini di kalangan para sufi. Paham pemikiran materialisme ini memberikan implikasi terhadap pemahaman Jhon Lock tentang pengembangan sumber daya manusia yang mengatakan bahwa setiap manusia lahir dalam keadaan kosong dan pengalamannya-lah yang memberikan ilmu pengetahuan (Empirisme). Jhon Lock (dalam Irma Suryani, 2010) berpendapat bahwa pendidikan memberikan tujuan membawa anak didik untuk dapat memilih yang baik dari yang jahat dan mengendalikan nafsu-nafsunya serta dapat mengikuti apa yang dituju akal sebaik-baiknya dengan dibantu sepenuhnya oleh panca indera. Aliran positivisme juga berasal dari pemahaman ini, yang berpendapat bahwa sumber ilmu pengetahuan berasal dari fakta dan cara memperoleh ilmu pengetahuan yang benar adalah melalui penelaahan fakta yang ada melalui panca indera. Dengan kata lain, satu-satunya pengetahuan yang benar adalah diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman panca indera.
b.      Paham Idealisme
Paham ini juga disebut dengan spritualisme, rasionalisme. Bagi penganut aliran ini fungsi mental adalah segalanya. Karena itu jasmani atau tubuh (materi, zat) merupakan alat jiwa untuk melaksanakan tujuan, keinginan dan dorongan jiwa manusia. Karena itu hakikat manusia adalah jiwa. Jiwa merupakan asas primer yang menggerakkan semua aktivitas manusia. Sedangkan jasmani tanpa jiwa akan tiada berdaya sama sekali. Filsafat Idealisme memandang bahwa realitas akhir ialah Roh, bukan materi (fisik). Idealisme mengemukakan bahwa pengetahuan yang benar hanya merupakan hasil akal belaka, karena akal dapat membedakan bentuk spritual dari benda-benda yang diluar penjelmaan material, sehingga pengetahuan yang diperoleh melalaui indra tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran idealisme mengarahkan pengembangan ilmu pengetahuan di sekolah sebagai pengaktifan kembali ide rohani yang berasal dari ide besar (Tuhan). Kaum idealis percaya bahwa anak, merupakan bagian dari alam spritual, yang memiliki pembawaan spritual sesuai dengan potensi aktivitas. Oleh karena itu filsafat idealisme, menekankan pada pertumbuhan rohani. Hakikat segala yang ada, juga manusia adalah idea. Idea (Ruh) itu non materi karena itu ia tidak menempati ruang. sedangkan Materi adalah manifestasi ruh dalam arti lain kenyataan materi ini adalah kekeliruan pandangan kita saja. Pada saat ini pendidikan harus dilaksanakan untuk mengembangkan potensi jiwa. Pendidikan bukanlah karena faktor luar, pengalaman, melainkan ditentukan oleh faktor dalam (potensi-potensi hereditas). Paham pemikiran ini melahirkan teori pendidikan yang bernama Nativisme yang dipelopori oleh A. Scophenhour, yang mengatakan manusia sejak lahir telah membawa potensi. Potensi tersebut akan berkembang sendirinya. Kedudukan lingkungan (pendidikan) tidak mempengaruhi potensi yang dimiliki oleh manusia tersebut. Potensi tersebut akan teraktualisasi bila ada sentuhan atau stimuli dari luar diri manusia (lingkungan) dimana manusia itu berada. Posisi lingkungan merupakan sarana bagi pengembangan potensi yang dimiliki manusia. Akan tetapi sifatnya hanya membantu merangsang tumbuhnya potensi pasif yang dimiliki manusia menjadi potensi aktif.
2.      Aliran Dualisme
Aliran ini melihat realita semesta sebagai sintesa dua kategori yaitu, benda mati dan makhluk hidup. Demikian pula manusia merupakan kesatuan rohani dan jasmani, jiwa dan raga. Bagi aliran ini pendidikan adalah masalah latihan mind (yakni daya-daya jiwa), meskipun demikian jasmani tetap mengambil peranan aktif yang penting dalam semua aktifitas. Dengan demikian segala aktifitas manusia merupakan kerja sama antara jasmani dan rohani. Aliran ini kemudian melahirkan aliran baru dalam dunia pendidikan yaitu konvergensi yang dipelopori oleh William Sterm. Paham ini merupakan perpaduan antara nativisme dan empirisme. Menurut mereka memang manusia memiliki kemampuan dalam dirinya (bakat/potensi), tetapi potensi itu hanya dapat berkembang jika ada pengarahan pembinaan serta bimbingan dari luar (lingkungan). Harus ada perpaduan antara faktor dasar (potensi dan bakat) dan ajar (bimbingan). Perkembangan seorang manusia tidak hanya ditentukan oleh kemampuan potensi/bakat yang dibawanya. Tanpa ada intervensi dari luar (lingkungan), bakat/potensi seseorang tak mungkin berkembang dengan baik.
B.     Hakikat Manusia dari Sudut Pandang (Paradigma) Pakar Timur (Islam)
Di dalam Al-qur’an ada tiga kelompok istilah yang digunakan untuk menjelaskan manusia secara totalitas, baik fisik maupun psikis diantaranya:
1.      Kelompok al-basyar, secara bahasa maknanya fisik manusia. Al-Qur’an menggunakan kata al-basyar untuk menjelaskan manusia sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan hanya sekali dalam bentuk mutsanna (dua). Dari penjelasan ayat-ayat yang menjelaskan al-basyar tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian al-basyar secara istilah tidak lain adalah manusia pada umumnya, yaitu manusia dalam kehidupannya sehari-hari yang sangat bergantung pada kodrat alamiahnya, seperti makan, minum dan berhubungan seks, tumbuh, berkembang dan akhirnya mati, hilang dari peredaran kehidupan dunia.
2.      Kelompok al-Insan
Kata al-Insan yang sejenisnya yaitu al-ins, al-nas dan al-unas. Kemudian kata al-Insan disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 65 kali, masing-masing dalam 63 ayat dan 43 surah. Menurut Ibnu Mansur al-insan mempunyai tiga asal kata yaitu: (1) Anasa, yang berarti melihat, mengetahui dan meminta izin, maka ia memiliki sifat-sifat potensial dan aktual untuk mampu berfikir dan bernalar. (2) Nasiya, yang berarti lupa menunjukkan bahwa potensi manusia untuk lupa dan bahkan lupa ingatan. (3) Al-unas yang berarti jinak, ini menunjukkan bahwa manusia menunjukkan sikap ramah dan mudah mengenalkan diri dengan lingkungan. Selanjutnya al-ins. Istilah al-Ins dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 18 kali masing-masing 17 ayat dan 9 surah.
Biasanya selalu dihubungkan penjelasannya dengan al-jin. Aisyah binti al-Syati menyimpulkan al-ins berarti jinak sebagai lawan al-jin yang berarti buas. Yang mana keduanya selaku hamba Allah yang senantiasa diwajibkan mengabdikan diri kepada Allah disepanjang hidupnya. Al-ins dipakai al-Qur’an dalam kaitannya dengan berbagai potensi jiwa manusia yaitu potensi manusia untuk menjadi baik atau buruk, maka manusia terlihat sangat bergantung kepada pengaruh lingkungan. Selanjutnya kata al-unas terdapat dalam al-Qur’an sebanyak 5 kali, masing-masing dalam 5 ayat dan dalam 4 surah. Berdasarkan penggunaan kata al-unas dalam berbagai konsteks ayat yang menjelaskan al-uns tersebut dapat disimpulkan bahwa ia selalu dihubungkan dengan kelompok manusia, baik sebagai suku bangsa, kelompok pelaku kriminal, maupun kelompok orang yang baik dan buruk nanti di akhirat. Dari situ dapat dipahami bahwa manusia adalah makhluk yang berkelompok, dan ia akan selalu membentuk kelompok sesuai dengan suku, bangsa, dan lain-lain.
Kemudian istilah berikutnya adalah al-nas disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 243 kali, masing-masing 54 surah dan 230 ayat. Diantara kata yang terpenting mengikuti istilah al-nas adalah ya ayyuhan nas (wahai manusia). Allah menggunakan istilah ini yang berlaku umum, bukan hanya untuk ummat muslim. Jika dianalisa ayat yang menggunakan ya ayyuhan nas akan ditemukan bahwa ayat-ayat itu mengajarkan nilai-nilai yang dipandang baik untuk seluruh manusia. Dengan demikian menurut al-Qur’an, sifat dasar manusia sebenarnya adalah saling mencintai. Itulah nilai universal umat manusia. Dan untuk menegasklan universal itu, al-Qur’an memulai ayat ayat tersebut dengan ya ayyuhan nas (wahai manusia.).
3.      Bani Adam
Secara bahasa bani adalah bentuk jamak dari ibnun, yang berarti anak. Istilah bani adam dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 7 kali, masing- masing dalam 7 surah dan 7 ayat. Dari keseluruhan ayat yang menggunakan kata bani adam tersebut dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai kelebihan dan keistimewaan dari makhluk lainnya. Keistimewaan itu meliputi fitrah keagamaan, peradaban, dan kemampuan memanfaatkan alam. Dengan kata lain bahwa manusia adalah makhluk yang berada dalam relasi dengan Tuhan (hablun min al-Allah) dan relasi dengan sesama manusia (hablun minannas) dan relasi dengan alam (hablun min al ‘alam). Tugas manusia adalah sebagai khalifah di muka bumi, yakni pemelihara dan penjaga amanah Allah.
C.     Perbedaan Paradigma Barat Dan Islam Memandang Manusia Sebagai Penerima dan Pengembang Ilmu Pengetahuan
Beranjak dari penjelasan sebelumnya, maka dapat dipahami bahwa perbedaan hakikat manusia sebagai penerima dan pengembang ilmu pengetahuan menurut paradigma barat dan Islam adalah:
1.      Barat memandang bahwa manusia pada hakikatnya adalah sebagai sosok makhluk yang merdeka tanpa terikat oleh nilai-nilai ilahiyah. Manusia bebas berbuat sesuai dengan potensi yang dimilikinya untuk memenuhi kebutuhannya. Sedangkan dalam Islam walaupun manusia diberi kebebasan akan tetapi kebebasan itu tidak mutlak dimana ia sanggup berbuat semaunya dalam masa dan tempat yang dikehendakinya. Kebebasan dalam Islam adalah kebebasan yang terikat oleh rasa tanggung jawab, tidak menghalangi kebebasan orang lain, nilai-nilai agama dan moral yang dianut masyarakat, undang-undang yang berlaku, kebersamaan dan keadilan serta akal logika. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kamu pemimpin dan setiap kamu akan mempertanggung jawabkan atas kepemimpinanmu”. (H.R. Bukhari).
2.      Menurut Islam pendidikan tidaklah diukur dengan penguasaan atau supremasi atas segala kepentingan duniawi saja akan tetapi sampai dimana kehidupan duniawi memberikan aset untuk kehidupan di akhirat kelak. Berbeda dengan pendidikan di Barat yang bertitik tolak dari filsafat pragmatisme yang mengukur kebenaran menurut kepentingan waktu, tempat, situasi dan berhenti pada garis hajat, yang bertitik tolak dari filsafat pendidikannya adalah kegunaan/utilitas, yang diukur dari kepentingan duniawi saja.
3.      Menurut Islam konsep hakikat manusia tidak sama dengan paham materialisme yang mengatakan bahwa manusia terlahir suci, bersih seperti kertas putih. Orang tua dan lingkungannyalah yang yang mewarnai dan mengarahkan kemana anak akan dibawa. Sedangkan dalam Islam, manusia sejak lahir telah memiliki berbagai bentuk potensi yang bisa dikembangkan. Tanpa potensi tersebut, manusia akan sulit untuk mampu melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai wakil Allah. Konsep fitrah manusia juga berbeda jauh dengan paham idealisme yang melahirkan teori nativisme A. Scophenhour, yang mengatakan manusia sejak lahir telah membawa potensi. Potensi tersebut akan berkembang sendirinya. Kedudukan lingkungan sama sekali tidak mempengaruhi potensi yang dimiliki oleh manusia tersebut. Sedangkan dalam Islam, mengakui adanya pengaruh yang besar dari luar diri manusia, baik insani maupun non insani dalam mengembangkan dan memodifikasi potensi yang dimilikinya. Konsep fitrah menurut Islam juga berbeda dengan paham dualisme yang melahirkan teori konvergensi yang dipelopori oleh William Stern yang mengatakan bahwa sejak lahir manusia telah membawa sejumlah potensi yang akan berkembang bila mendapatkan sentuhan dari lingkungannya. Sedangkan dalam Islam perkembangan potensi manusia itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh lingkungan semata dan tidak bisa ditentukan melalui pendekatan kuantitas sejauh mana peranan keduanya (potensi dan lingkungan) dalam membentuk kepribadian manusia, tapi ada kalanya juga lingkungan yang lebih dominan, atau kedua-duanya sama-sama dominan.
4.      Otoritas. Dalam pandangan barat tidak mengenal istilah otoritas dalam keilmuan, menurut mereka ilmu atau teori dianggap benar manakala belum ada teori lain yang bisa menumbangkan teori tersebut. Dalam pandangan barat tidak ada pengetahuan yang bersifat mutlak dan absolut. Sedangkan menurut Islam sebagaimana dikemukakan Al-Attas, kebenaran pengetahuan itu terbagi kepada dua macam. Pertama, Produk manusia berupa teori-teori yang telah terbukti kebenarannya. Kebenaran ini bersifat relatif. Kedua, risalah atau pesan yang dibawa oleh Rasulullah SAW dari Allah. Kebenarannya bersifat absolut. Otoritas yang tertinggi dalam paradigma Islam adalah al-Qur’an kemudian al-Sunnah yang terbukti keabsahannya baru kemudian produk (hasil pemikiran manusia. Dengan demikian, paradigma Islam memiliki otoritas yang bertingkat.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Adapun dari uraian di atas dapat di simpulkan sebagai berikut:
1.      Manusia mempunyai banyak keistimewaan dibanding makhluk lainnya, diantaranya adalah potensi untuk menerima, menalar yang menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang ada.
2.      Lebih luas lagi manusia adalah makhluk yang mempunyai kelebihan dan keistimewaan dari makhluk lainnya. Keistimewaan itu meliputi fitrah keagamaan, peradaban, dan kemampuan memanfaatkan alam. Dengan kata lain bahwa manusia adalah makhluk yang berada dalam relasi dengan Tuhan (hablun min al-Allah) dan relasi dengan sesama manusia (hablun minannas) dan relasi dengan alam (hablun min al ‘alam). Tugas manusia adalah sebagai khalifah di muka bumi, yakni pemelihara dan penjaga amanah Allah.
3.      Manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya (empirisme), manusia memperoleh pengetahuan dengan menangkap objek dengan menggunakan alat indrawi  yakni akal yang dapat menghasilkan pengetahuan tentang objek yang betul-betuk abstrak (Rasional), pengetahuan yang diperoleh melalui hati atau perasaan tanpa dibantu oleh penggambaran secara simbolik atau pengetahuan yang didapat secara langsung dan seketika (intuisi), dan pengetahuan yang diperoleh oleh Allah kepada manusia lewat perantara para Nabi.
4.      Hakikat manusia dari paradigma pakar barat secara garis besar manusia dilihat dapat dilihat dari dua aliran yang masing-masing aliran mempunyai bagiannya, paham yang menganggap bahwa seluruh alam semesta, termasuk manusia hanya tediri dari atas satu asas, satu zat (monoisme). Dan aliran dualisme yang memandang bahwa realita semesta sebagai sintesa dua kategori yakni benda mati dan dan makhluk hidup.
5.      Hakikat manusia dari paradigma timur megatakan bahwa manusia di kelompokan menjadi tiga yakni kelompok al-basyar, kelompok al-insan dan kelompon bani Adam.
B.     Saran
Pemakalah menyadari dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah terdapat banyak kesalahan dan kekhilafan, pemakalah sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk pemakalah guna mengingatkan dan memperbaiki setiap kesalahan yang ada dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah. Terakhir tidak lupa pemakalah mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT serta terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam proses pembuatan makalah ini.

Daftar Rujukan:
Bakhtiar, Amsal. 2012. Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Ramayulis. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia
Suhar. 2010. Filsafat Umum (Konsepsi, sejarah, dan aliran). Jakarta: Gaung Persada Press
Suriasumantri, Jujun S. 2005. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sianar Harapan.
irmasuryanisiregar. 2010. hakikat-manusia-sebagai-penerima. (irmasuryanisiregar.blogspot.com diakses tanggal 5 September 2013 pukul 16.00 wib)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar