Kamis, 26 Mei 2011

Proses Belajar Mengajar

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
           
            Dizaman globalisasi ini persaingan semakin ketat, salah satunya adalah dalam proses belajar mengajar oleh karena itu kita sebagai guru atau pelajar harus punya kemampuan untuk bersaing dengan orang lain

 karna itu pula saya membuat makalah metode ini agar kita mempunyai pengetahuan bagaimana metode-metode dalam mengajar sehingga materi yang disampaikan kepada siswa tidak hanya ceramah saja tetapi masih banyak metode-metode yang bisa dipakai sehingga tujuan dalam pembelajaran dapat tercapai dengan baik dan tidak membosankan.

B. Tujuan

            Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mandiri strategi pembelajaran, selain dari pada itu juga untuk menambah ilmu pengetahuan kita tentang apa saja metode-metode dalam mengajar agar tujuan kita dalam mengajar dapat tercapai dengan baik dan benar

            Karena seorang tenaga pengajar adalah sumber ilmu bagi anak didiknya oleh karena itu seorang pengajar harus mempunyai metode-metode dalam mengajar agar proses belajar mengajar menjadi menyenagkan bagi anak didik dan dengan begitu tujuan pembelajaran akan mudah tercapai dengan baik
.
           









BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Mengajar

            Mengajar adalah penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungngan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yakni tujuan instruksional yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, guru dan siswa yang harus memainkanperanan serta ada dalam hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan, serta sarana dan prasarana belajar mengajar yang tersedia.
            Setiap sistem lingkungan atau setiap peristiwa belajar mengajar mempunyai profil yang unik, yang mengakibatkan tercapainyatujuan-tujuan belajar yang berbeda. Atau kalau dikatakan secara terbalik, untuk mencapai tujuan belajar tertentu harus diciptakan sistem lingkungan belajar yang tertentu pula.
            Tujuan-tujuan belajar yang pencapaiannya diusahakan secara eksplisit dengan tindakan instruksional tertentu dinamakan instructional effect, yang biasanya berbentuk pengetahuan dan keterampilan. Sedangkan tujuan-tujuan hasil pengiring, yang tercapainya karena siswa menghidupi suatu sistem lingkungan belajar tertentu seperti kemampuan berpikir kritis dan kreatif atau sikap terbuka menerima pendapat orang lain, dinamakan nurturant effect. Untuk mencapai tujuan-tujuan itu guru biasanya memilih satu atau lebih strategi belajar-mengajar.[1]

B. Berbagai Metode Mengajar
1)      Metode mengajar klasik
Proses pengajaran dengan gaya klasik berupaya untuk memelihara dan menyampaikan nilai-nilai lama dari generasi terdahulu kegenerasi berikutnya. Isi pelajaran berupa sejumlah imformasi dan ide yang paling popular dan dipilih dari dunia yang diketahui anak. oleh karenanya isi pelajaran bersifat objektif, jelas dan diorganisasi secara sistematis-logis. Proses penyampaian bahan tidak didasarkan atas minat anak, melainkan pada urutan tertentu. Peran guru disini sangat dominant, karena dia harus menyampaikan bahan. Oleh karenanya guru harus ahli (expert) tentang pelajaran yang dipegangnya. Dengan demikian proses pengajaran bersifat pasif, yakni siswa diberi pelajaran.
2)      Metode mengajar teknologis
Fokus gaya mengajar ini pada kompetensi siswa secara individual. Bahan pelajaran disesuikan dengan tingkat kesiapan anak.[2] peranan isi pelajaran adalah domonan. Oleh karena itu bahan disusun oleh ahlinya masing-masing. Bahan itu bertalian dengan data objektif dan ketrampilan yang dapat menuntun kompetensi vokasional siswa. Peranan siswa disini adalah belajar dengan menggunakan perangkat atau media. Dengan hanya merespons apa yang diajukan kepadanya melalui perangkat itu, siswa dapat mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dalam kehidupan. Peranan guru hanya sebagai pemandu (guide), pengaruh (director), atau pemberi kemudahan (facilitator) dalam belajar ; karena pelajaran sudah diprogram sedemikian rupa dalam perangkat, baik lunak (softwere) maupun keras (hardware).
3)      Metode mengajar personalisasi
Pengajaran personalisasi dilakukan berdasarkan atas minat, pengalaman dan pola perkembangan mental siswa. Dalam hal ini, siswa dipandang sebagai suatu pribadi.
Perkembangan emosional dan penyesuaian diri dalam lingkungan dalam lingkungan sosial merupakan sesuatu yang vital, sebagaimana perkembangan kecerdasannya. Peranan guru adalah menuntun dan membantu perkembangan itu melalui pengalaman belajar. Oleh karena itu guru harus mempunyai kemampuan dalam mengasuh, ahli dalam psikologi, dan metodologi, serta bertindak sebagai narasumber (resource person). Adapun bahan pelajaran disusun dan muncul berdasarkan atas minat dan kebutuhan siswa secara individual.
4)      Metode mengajar interaksional
Peranan guru dan siswa disini sama-sama dominan. Guru dan siswa berupaya untuk memodifikasi berbagai ide atau ilmu pengetahuan yang dipelajari untuk mencari bentuk baru berdasarkan kajian yang bersifat radikal. Guru dalam hal ini menciptakan iklim saling ketergantungan dan timbulnya dialog antar siswa. Siswa belajar melalui hubungan dialogis, dia mengemukakan pandangannya tentang realita, juga mendengarkan pandangan siswa lain. Dengan demikian dapat ditemukan pandangan baru hasil pertukaran pikiran tentang apa yang dipelajari. Adapun isi pelajaran difokuskan pada masalah-masalah yang berkenaan dengan sosio-kultural terutama yang bersifat kontemporer.[3]
5)      Metode ceramah
Metode ceramah adalah cara penyampaian bahan pelajaran dengan komunikasi lisan. Metode ceramah ekonomis dan efektif untuk keperluan penyampaian informasi dan pengertian. Kelemahannya adalah bahwa siswa cendrung pasif, pengaturan kecepatan secara klasikal ditentukan oleh pengajar, kurang cocok untuk pembentukan keterampilan dan sikap, dan cenderung menempatkan pengajaran sebagai otoritas terakhir.

Langkah-langkah mempersiapkan ceramah yang efektif :
a.    Rumusan tujuan instruksional khusus yang luas.
b.       Selidiki apakah metode ceramah merupakan metode yang paling tepat.
c.       Susun bahan ceramah. Gunakan bahan pengait atau advance organizer, yaitu materi yang mendahului kegiatan belajar yang tingkat abstraksinya dan inklusivitasnya lebih tinggi dari kegiatan belajar tersebut, tetapi berhubungan secara integral dengan bahan baru itu.
d.      Penyampaian bahan ketrangan singkat tapi jelas, gunakan papan tulis. Bila perlu katakana dengan kata-kata lain. Berikan ilustrasi, beri keterangan tambahan, hubungkan dengan masalah lain, berikan beberapa contoh yang singkat, konkrit, dan yang telah dikenal oleh siswa. Carilah balikan (feedback) sebanyak-banyaknya selama berceramah dengan jalan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Selanjutnya buatlah ikhtisar yang berfungsi memberikan informasi mengenai bahan pelajaran yang akan diberikan secara garis besar. Ikhtisar juga berfungsi sebagai paduan selama guru mengajar, juga berfungsi menghemat waktu mencatat, merangsang siswa untuk berfikir bila disertai dengan pertanyaan-pertanyaan. Adakah resume, dan sebutkan kembali rumusan-rumusan yang penting.
e.       Adakah rencana penilaian. Tentukan teknik dan prosedur penilaian yang tepat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan khusus yang telah dirumuskan. [4]

Metode ceramah hanya cocok :
a)       Untuk menyampaikan informasi
b)      Bila bahan ceramah langkah
c)       Kalau organisasi sajian harus disesuaikan dengan sifat penerima
d)      Bila perlu membangkitkan minat
e)       Kalau bahan cukup diingat sebentar
f)       Untuk memberi pengantar atau memberi petunjuk bagi format lain

Metode ceramah tidak cocok :
a)       Kalau tujuan belajar bukan perolehan informasi
b)      Untuk retensi jangka panjang
c)       Untuk bahan yang kompleks, terinci, dan abstrak.
d)      Kalau keterlibatan siswa penting bagi pencapaian tujuan
e)       Bila tujuan bersifat kognitif tingkat tinggi
f)       Bila tingkat kemampuan dan pengalaman siswa kurang
g)      Bila tujuan untuk mengubah sikap dan menanamkan nilai-nilai.
h)      Bila tujuan untuk mengembangkan psikomotor

6)      Metode tanya jawab
Dalam proses belajar mengajar, bertanya memegang peranan penting, sebab pertanyaan yang tersusun baik dengan teknik pengajuan yang tepat akan :
a.       Meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
b.       Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibicarakan
c.       Mengembangkan pola berpikir dan belajar aktif siswa, sebab berfikir itu sendiri adalah bertanya
d.      Mengembangkan pola berfikir siswa, sebab pertanyaan yang baik akan membantu siswa agar dapat menentukan jawaban yang baik.
e.       Memusatkan perhatian murid terhadap masalah yang sedang dibahas.

Jenis-jenis pertanyaan:
a.       Jenis-jenis pertanyaan menurut maksudnya
1.       Pertanyaan permintaan (compliance question), pertanyaan yang mengharapkan agar orang lain mematuhi perintah yang diucapkan dalam bentuk pertanyaan.
Contoh : dapatkah anda tenang aagar suara saya dapat didengar oleh seluruh kelas?
2.       Pertanyaan retorik (rhetorical question),
Pertanyaan yang tidak menghendaki jawaban, melainkan akan dijawab sendiri oleh guru karena merupakan teknik penyampaian informasi kepada siswa.
Contoh :
Guru : “apakah yang dimaksud dengan mengajar?
Mengajar adalah……”
3.       Pertanyaan mengarahkan atau menuntun (prompting question) pertanyaan yang diajukan untuk memberi arah kepada siswa dalam proses berfikir.
Contoh :
Guru : “ minggu yang lalu kita telah membicarakan macam-macam strategi belajar mengajar. Coba, halim, manakah yang lebih tinggi derajat CBSA-annya, strategi ekspositerik atau heuristik”?
Halim : diam (sedang berfikir)
Guru   : “silakan tinjau dulu dasar pengklasifikasian SBM.
Nah… bagaimana…, halim?”
4.     Pertanyaan menggali (probing question)
Pertanyaan lanjutan yang akan mendorong siswa untuk lebih mendalami pertanyaan sebelumnya
Contoh :
Guru :“setelah kemarin kita bersama-sama meninjau bendungan karangkates, bagaimana pendapat mu tentang bendungan tersebut, amin?” Amin :” sangat menarik, pak.”
Guru : “ factor apa yang menarik?”dan seterusnya.
b.       Jenis-jenis pertanyan menurut taksonomi bloom
1.           pertanyaan pengetahuan (recall question atau knowledge question)
pertanyaan  hanya mengharapkan jawaban yang sifatnya hafalan atau ingatan siswa terhadap apa yang telah dipelajarinya kata-kata yang sering digunkan dalam menyusun pertanyaan pengetahuan ini biasanya :apa, dimana, kapan, siapa, sebutkan.
Contoh :Apa nama ibu kota argentina ?
2.           pertanyaan pemahaman (comprehension question)
pertanyaan ini menuntut siswa untuk menjawab pertanyaan dengan jalan mengorganisasi informasi-informasi yang pernah diterimanya dengan kata-kata sendiri, atau menginterpretasikan atau membaca informasi yang dilukiskan melalui grafik atau kurva dengan jalan membandingkan atau membeda-bedakan.
Contoh : jelaskan dengan kata-katamu sendiri, apakah manfaat dari pariwisata?
3.           pertanyaan penerapan (application question)
pertnyaan yang menuntut siswa untuk memberi jawaban tunggal dengan menerapkan pengetahuan , informasi , aturan-aturan, kriteria, dan lain-lain yang pernah diterimanya.
Contoh :   Berdasarkan batasan yang telah diutarakan tadi , maka persamaan mana yang memenuhi syarat?
4.             pertanyaan analisis (analysis question)
pertanyaan yang menuntut siswa untuk menemukan jawaban dengan cara :
-mengidentifikasi motif masalah yang ditampilkan
-mencari bukti-bukti atau kejadian-kejadian yang menjunjung suatu kesimpulan atau generalisasi
-menarik kesimpulan berdasarkan informasi yang ada
                         Contoh : identifikasi motif :
Mengapa paruh burung gagak dan kutilang tidak sama bentuknya?
5.           Pertanyaan sintesis (syinthesis question)
            Ciri pertanyaan ini adalah jawabannya tidak tunggal, melainkan lebih dari satu dan menghendaki siswa untuk mengembangkan potensi serta daya kreasinya. Pertanyaan sintesis menuntut siswa untuk.:
- Membuat ramalan atau prediksi: apa yang terjadi bila tanaman disiram larutan asam cuka ?[5]
c.    Ciri-ciri pertanyaan yang baik:
1.      pertanyaan harus singkat dan jelas
2.      tujuan pertanyaan harus jelas
3.      pertanyaan harus mengandung hanya satu masalah.
4.      pertanyaan harus mendorong anak berpikir kecuali tujuannya untuk melatih mengingat fakta-fakta.
5.      hendaknya disingkirkan pertanyaan yang hanya menghendaki jawaban “ya atau tidak”. Pertanyaan itu hendaknya memberi kesempatan untuk memberi jawaban yang agak terurai.
6.      bahasa dalam pertanyaan harus dipahami oleh murid.
7.      singkirkan pertanyaan yang mungkin menimbulkan tafsiran yang berbeda.
d. sebab-sebab pertanyaan yang kuranng baik:
1.suasana didalam kelas tegang
2.guru yang paling aktif, bukan murid.
3.hasilnya pengetahuan dangkal dan menimbulkan verbalisme.
4.kurang melatih kesanggupan ekspresi, yakni menyataka buah pikiran.
5.kurang memperhatikan kebutuhan individual.
6.kelas merupakan tempat bagi murid untuk memperlihatkan pengetahuannya bukan untuk memperolehnya.
7.tidak mendidik anak  menjadi manusia yang berfikir sendir[6]

 7)    Metode diskusi
   iskusi ialah suatu proses penglihatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah tertentu melalui cara tukar menukar informasi, mempertahankan pendapat, atau pemecahan masalah.
Metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru  memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna  mengumpulkan pendapat, membuuat kesimpulan atau menyusun alternative pemecahan atas suatu masalah.
Jenis-jenis diskusi
a.       whole group
kelas merupakan satu kelompok diskusi. Whole group yang ideal apabila jumlah anggotanya tidak lebih dari 15 0rang.
b.       Buzz groupsatu kelompok besar dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, terdiri dari 4-5 orang. Tempat diatur agar siswa dapat berhadapan muka dan bertukar pikiran dengan  mudah.
c.       Panel
suatu kelompok kecil, biasanya 3-6 orang, mendiskusikan satu subjek tertentu, duduk dalam suatu susunan semi melingkar, dipimpin oleh seorang moderator.
d.      Sudicate group
satu kelompok (kelas) dibagi menjadi beberapa kelompok kecil terdiri dari 3-6 orang. Masing-masing kelompok kecil melaksanakan tugas tertentu.
e.       Brain stoming group
kelompok menyumbangkan ide-ide baru tanpa dinilai segera. Setiap anggota mengeluarkan pendapatnya.[7]

 8)   Metode kerja kelompok
Kerja kelompok adalah salah satu srategi belajar mengajar yang memiliki kadar CBSA. Tetapi pelaksanaannya menuntut kondisi serta persiapan yang jauh berbeda dengan format belajar mengajar yang menggunakan pendekatan ekspositorik, misalnya ceramah.

Aspek-aspek kelompok yang perlu diperhatikan dalam kerja kelompok adalah:
a.       tujuan
Tujuan harus jelas bagi setiap anggota kelompok, agar diperoleh hasil kerja yang baik. Tiap anggota harus tau persis apa yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya.
b.       interaksi
Dalam kerja kelompok ada yang harus tugas yang harus diselesaikan bersama sehingga perlu dilakukan pembagian kerja.
c.       Kepemimpinan
Tugas yang jelas, komunikasi yang efektif, kepemimpinan yang baik, akan berpengaruh terhadap suasana kerja, dan pada gilirannya suasana kerja ini akan mempengaruhi proses penyelesayan tugas.
Peran guru atau instruktor dalam kerja kelompok

Dalam kerja kelompok peranan guru atau instruktor adalah sebagai berikut:
a.Manager
Membantu para peserta mengorganisasi diri, tempat duduk serta bahan yang diperlukan.
b.       Observer
mengamati dinamika kelompok yang terjadi sehingga ia dapat mengarahkan serta membantunya bila perlu.
c.Advisor
Memberikan saran-saran tentang penyelesaian tugas bila diperlukan
d.      Evaluator
Nilailah proses kelompok yang terjadi bersama-sama dengan kelompok.

Rambu-rambu penggunaan kerja kelompok:
Yang harus diperhatikan didalam penyelenggaraan kerja kelompok:
a.  Pesan terpenting, format kerja kelompok adalah penyelesaian masalah
b.       Didalam pelaksanaan, kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok secara random atau berdasarkan pengaturan tertentu.
c.       Sebagaimana disaratkan dalam butir b. diatas, produktipitas dan kekohesifan kelompok adalah dua aspek yang harus selalu diperhatikan secara seimbang.[8]
        9)    Simulasi
Simulasi adalah tiruan atau perbuatan yang hanya pura-pura saja
Tujuan simulasi:
a. Untuk melatih keterampilan tertentu,
b. untuk memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip
c. Untuk latihan memecahkan masalah

prinsip-prinsip simulasi:
a.  Simulasi dilakukan oleh kelompok siswa, tiap kelompok mendapat kesempatan melaksanakan simulasi yang sama atau dapat juga berbeda
b.  semua siswa harus terlibat langsung menurut peranan masing-masing.
c.  penentuan topic disesuaikan dengan tingkat kemampuan kelas
d. petunjuk simulasi diberikan terlebih dahulu
e.  dalam simulasi seyogyanya dapat dicapai tiga domain psikis
f.   Dalam simulasi hendaknya digambarkan situasi yang lengkap
g.  Hendaknya diusahakan terintegrasi beberapa ilmu

Bentuk-bentuk simulasi:
Menurut Gilstrap yang melihatnya dari sifat tiruannya, simulasi itu dapat berbentuk: role playing, psikodrama, sosiodrama, dan permainan.

Langkah-langkah pelaksanaan simulasi:
a.Penentuan topic dan pelaksanaan simulasi
b.       Guru memberikan gambaran secara garis besar situasi yang akan dimulasikan
c.       Guru memimpin pengorganisasian kelompok, peranan-perananya yang akan dimainkan, pengaturan ruangan, pengaturan alat dan sebagainya.
d.      pemilihan pemegangan peranan
e.Guru memberiakan keterangan tentang peranan yang akan dilakukan.[9]

     10)      Metode demonstrasi
Metode demonstrasi merupakan metode belajar yang sangat efektif untuk menolong siswa yang mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti:
·   Bagaimana cara membuatnya
·   Teradiri dari bahan apa
·   Bagaiman cara mengaturnya
·   Bagaiman proses bekerjanya
Keuntungan metode demonstrasi:
a.     Perhatian siswa dapat dipusatkan pada hal-hal yang dianggap penting oleh pengajar sehingga siawa dapat menangkap hal-hal yang penting.
b.       dapat mengurangi kesalahan-kesalahan bila dibandingkan dengan hanya membaca atau mendengarkan
c.       Bila siswa turut aktif melakukan demonstasi, maka siswa akan memperoleh pengalaman praktek untuk mengembangakan kecakapan dan keterampilan
d.      beberapa masalah yang menimbilkan pertanyaan siswa akan dapat menjawab waktu mengamati proses demonstrasi.[10]

C. EVALUASI
                Evaluasi pendidikan ialah penaksiran/penilaian terhadap pertumbuhan dan kemajuan murid-murid kearah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan dalam kurikulum.

Tujuan Evaluasi pendidikan adalah:
untuk mendapatkan data pembuktian yang akaan menunjukkan sampai dimana tingkat kemampuan dan keberhasilan murid-murid dalam pencapaian tujuan-tujuan kurikuler. Disamping itu jug adapat digunakan guru-guru atau superpisor untuk mengukur sampai dimana keefektifan dan pengalaman-pengalaman mengajar.
Fungsi evaluasi pendidikan:
1.      Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan anak didik setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu
2.      Untuk mengetahui sampai dimana keberhasilan suatu metode sistem pengajaran yang dipergunakan
3.      Dengan mengetahui kekurangn serta keburukan yang diperoleh dari hasil evaluasi itu selanjutnya kita dapat mencari perbaikan. [11]

LANGKAH-LANGKAH EVALUASI
Tahap-tahap evaluasi:
1.      Perencanaan
2.      Pelaksanaan
3.      Pengelolaan dan pembobotan [12]

Penyusunan kisi-kisi:
  1. Komponen kisi-kisi
  2. Aspek yang diukur
  3. Bentuk soal
  4. tingkat kesukaran soal
  5. Jumlah dan proporsi soal[13]

Penyusunan soal tes hasil belajar
Administrasi Penyelenggaraan tes hasil belajar.









BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
                Mengajar merupakan suatu proses yang kompleks. Tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa. Banyak tindakan dan kegiatan yang harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar lebih baik pada seluruh siswa. Oleh karena itu rumusan pengertian mengajar tidaklah sederhana. Dalam arti membutuhkan rumusan yang sangat meliput seluruh kegiatan dan tindakan dalam perbuatan mengajar itu sendiri.
                Terdapat aneka ragam rumusan pengertian tentang mengajar setiap mengajar mempunyai kaitan arti dalam praktek pelaksanaannya. Rumusan itu sendiri bergantung pada pandangan perumusannya. Seseorang berpandangan bahwa mengajar hanya sekedar menyampaikan pelajaran, tentu akan merumuskan pengertian yang sederhana. Rumusan yang dibuat tentang mengajar adalah upaya menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa.

B.SARAN
                Hendaknya makalah ini tidak hanya sebatas dibaca, namun juga dipraktekkan dalam belajar-mengajar, karena mengajar tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa banyak tindakan dan kegiatan yang harus dilakukan.
                Penulis juga menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini, masih jauh dari kesempurnaan. Bak kata pepatah tak ada gading yang tak retak. Oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak untuk kesempurnaan makalah penulis selanjutnya. Atas kritik dan saran nya penulis mengucapkan terima kasih.




DAFTAR PUSTAKA

Drs. H. Muhammad Ali, Guru Dalam Proses Blajar Mengajar, Bandung, Sinar Baru Algensindo:1987
Drs. J.J. Hasibuan, Dip. Ed, Drs, Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, Bandung, Remaja Rosdakarya:1985
Prof. Dr. S. Nasution, M.A, Diktatik Asas-asas Mengajar, Jakarta, Bumi Aksara:2000
Drs. M. Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajarn,Jakarta, Remaja Karya CV, Bandung:1986
Drs. Slameto, Proses Belajar Mengajar Dalam Sistem Kredit Smester SKS, Jakarta, Bumi Aksara:1991



[1] Lihat Drs. J. J. Hasibuan. Dip., Ed, dan Drs. Moedjiono, dalam; Proses Belajar Mengajar, PT. Remaja Rosda Karya, Jakarta, 1999 hal. 3
[2] Lihat Drs. H. Muhammad Ali, dalam; Guru Dalam proses Belajar Mengajar, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 1987 hal. 59
[3] Ibid. Hal. 60
[4] Drs. J.J. Hasibuan, Dip.,Ed, Dan Drs. Moedjiono. Op.Cit, Hal 13
[5] Ibid. Hal 14-18
[6] Lihat Prof. Dr. S. Nasutio, M.A, Dalam Didaktik Asas-Asas Mengajar, Bumi Aksara, Jakarta, 2000, Hal. 162-165
[7] Ibid hal 21
[8] Ibid, hal. 22
[9] Ibid, hal. 27-28
[10] Ibid, hal. 29-30
[11] Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan teknik Evaluasi Pengajaran, (Jakarta: Remadja Karya), hal. 3-4
[12] Slameto, Proses BelajarMengajar Dalam Sistem Kredit Semester, (Jakarta: Bumi Aksara), hal. 169-170
[13] Ibid, hal. 170-171

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar