Senin, 16 Mei 2011

Kerangka Kerja untuk Bimbingan Skripsi


Konseling Religius:
Kerangka Kerja untuk Bimbingan Skripsi[1]
      
                                          Oleh Adi Atmoko


Abstrak: Skripsi masih merupakan kendala besar bagi mahasiswa untuk lulus tepat waktu. Masalah skripsi bukan hanya aspek teknis, melainkan juga nonteknis (emosi). Dari sisi masalah, tujuan dan sesi-sesi pertemuan, maka pembimbingan skripsi dapat dipandang, dirancang dan dilaksanakan sebagai suatu proses konseling. Gagasam utama dalam tulisan ini adalah suatu kerangka kerja terpadu sebagai acuan proses konseling dalam membimbing mahasiswa sedemikian rupa sehingga mampu mengatasi masalah teknis dan emosi, dan dapat menyelesaikan skripsi secara tepat waktu dengan memperoleh hasil yang sangat memuaskan. Kerangka kerja dikembangkan atas dasar strategi religius yang diharapkan sebagai acuan proses dan teknik konseling dalam Pembimbingan Skripsi berbasis pada Mahasiswa.

          Kata-kata kunci:   kerangka kerja pembimbingan skripsi, strategi religius


Sebelum semester genap 1999/2000 pembimbingan skripsi mahasiswa program studi BK dilaksanakan secara tradisional dengan peran utama pada dosen pembimbing atas tugas dari dekan, tanpa pedoman kerja dan monitoring yang jelas. Model tersebut dinilai kurang efektif bagi peningkatan kualitas dan proses penulisan skripsi mahasiswa. Sebagai koreksi atas kelemahan model tradisional, sejak semester genap 1999/2000 pembimbingan skripsi mahasiswa program studi Bimbingan Konseling dilaksanakan dengan model terpadu, yaitu proses pemberian bantuan terhadap mahasiswa penulis skripsi dengan melibatkan berbagai pihak dan unsur yang terkait langsung dengan penyelesaian skripsi mahasiswa mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai penilaian. Pembimbingan skripsi terpadu melibatkan unsur pimpinan program studi BK, satgas skripsi, dosen pembimbing I dan dosen pembimbing II.  Setelah dievaluasi,  model terpadu baik sejak tahap perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi  telah berjalan efektif (Widada, 2001).
Namun, jika dicermati, ternyata pengertian terpadu tersebut tidak melibatkan mahasiswa sebagai unsur subjek penyusun skripsi, tetapi masih dianggap sebagai objek yang dibimbing. Di samping itu kegiatannya lebih banyak bersifat administratif dan teknis penulisan skripsi, seperti penyusunan kebijakan, koordinasi, pengisian format, dan pembimbingan dalam penyusunan proposal, studi pustaka, penyusunan instrumen, pengolahan data dan penulisan laporan.

Di sisi lain, penelitian Ramli (2000) menunjukkan bahwa hambatan yang dialami oleh mahasiswa penyusun skripsi di program studi Bimbingan Konseling bukan hanya masalah penguasaan metodologi penelitian, statistik dan teknik penulisan, melainkan juga masalah motivasi mahasiswa yang merupakan hambatan internal. Di samping motivasi, surve penjajagan oleh penulis pada tahun 2003 menunjukkan bahwa mahasiswa juga mengalami masalah emosi dan perilaku yang dapat disebut sebagai masalah nonteknis. Dari 16 mahasiswa yang sedang menyusun skripsi diperoleh petunjuk bahwa mahasiswa mengalami masalah kecemasan (81%), kegelisahan (75%), bingung (69%), rasa jenuh (63%), malas (56%), takut (44%), dan tidak bersemangat (13%). Bahkan ada mahasiswa yang sudah mengalami gejala psikosomatis misalnya sulit tidur dengan nyenyak (50%), berkeringat dingin di telapak tangan (38%), nafsu makan berkurang (25%), merasa sakit perut pada saat tertentu saja (19%), dan merasa ingin kencing, buang air besar pada saat tertentu  (6,5%). Di samping itu, ada 50% mahasiswa yang kegiatannya tidak teratur/tidak terjadwal dan 38% mahasiswa mengalami kesulitan biaya penyusunan skripsi. Kondisi tersebut, tidak jauh berbeda dengan surve di tahun 2009 terhadap 19 mahasiswa, bahkan ada tambahan masalah kesehatan dan masalah pribadi.
Contoh keterkaitan masalah teknis penulisan dan emosi adalah mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam mencari literatur bagi penulisan skripsinya sesuai permintaan dosen (mengalami masalah dalam hal teknis) akan juga mengalami kecemasan, kegelisahan, ketakutan dan rasa jenuh sampai-sampai ia jadi malas (tidak bersemangat) bahkan sulit tidur dengan nyenyak dan berkeringat dingin ketika akan menghadap dosen pembimbingnya. Dengan kata lain, fokus masalah yang dialami oleh mahasiswa penyusun skripsi sebenarnya ada dua hal yaitu fokus teknis dan fokus nonteknis skripsi.
Hal-hal yang berhubungan ketika masalah-masalah tersebut muncul adalah: (1) penyelesaian skripsi tidak tepat waktu, (2) akan/sedang menghadap dosen pembimbing,  (3) sulit mencari literatur sesuai permintaan dosen, sering ke perpustakaan, (4) efektivitas kerja/mengetik skripsi, (5) biaya, (6) ujian skripsi, (7) kurang kemampuan menulis, sulit memulai, kurang memahami isi yang ditulis (8) mengerjakan revisi dari dosen, banyak revisi dan sering revisi (9) tidak cocok dengan pembimbing, perbedaan pendapat dengan dosen (masih dianggap salah oleh dosen), (10) manajemen kegiatan, malas mengerjakan yang lain, pembagian waktu yang sulit, (11)  kurang minat terhadap kuliah BK, (12) teori terlalu banyak, sulit mencari dan memilih bahan yang akan ditulis (13) materi yang dihadapi monoton, (14) tugas yang dikerjakan terlalu sulit,   (15) seakan-akan dunia ini hanya skripsi, terlalu sibuk memikirkan skripsi, dan (16) sulit menemui dosen karena sibuk.
Faktor kesibukan dosen yang sering dianggap oleh mahasiswa sebagai faktor yang menghambat penulisan skripsi telah dapat dieliminasi dengan model pembimbingan delivery services yakni layanan langsung bimbingan skripsi (Atmoko, 2009). Dengan model ini, mahasiswa tidak lagi menyetor draft skripsi untuk dibawa pulang oleh dosen, dibaca, diberi masukan dan kemudian diserahkan kepada mahasiswa beberapa hari kemudian (bahkan bisa sebulan lebih). Namun, model ini mengharuskan dosen dan mahasiswa langsung membahas dan mendiskusikan draft skripsi untuk kemudian diperoleh pemahaman tentang kekurangan draft, dan disepakati tentang apa yang harus dilakukan mahasiswa untuk memperbaiki draft tersebut, dan kapan mahasiswa akan konsultasi lagi dengan draft yang telah direvisi; demikian seterusnya sampai mahasiswa siap ujian skripsi.
Hasilnya, sebagai kelebihan delivery services adalah ada 5 mahasiswa yang mampu menyelesaikan skripsi paling cepat 4 bulan dan paling lama 6 bulan, rata-rata 5 bulan,  dengan 3 orang memperoleh nilai A dan 2 orang memperoleh nilai A minus  setelah diuji oleh penguji yang bergelar doktor. Ini berarti potensi dan usaha mahasiswa lebih menentukan kecepatan penyelesaian skripsi, bukan lagi pada kesibukan dosen. Namun, kelemahannya adalah masih ada mahasiswa yang timbul tenggelam ketika konsultasi skripsi bahkan ada yang tenggelam dalam persoalan nonteknis sehingga tidak pernah berkonsultasi lebih dari 2 bulan. Dari pengamatan dan wawancara kepada mereka yang molor tersebut, terungkap bahwa masalah nonteknis skripsi sangat menghambat penyelesaian skripsi, yang akhirnya masalah tersebut merembet ke masalah teknis.
Mengingat bahwa pembimbingan skripsi terpadu yang telah dirintis lebih menitikberatkan pada hal-hal administratif (kebijakan jurusan), dan pembimbingan model delivery services juga masih fokus pada teknis skripsi, maka kiranya perlu dirintis pembimbingan yang dapat juga menyelesaikan masalah fokus nonteknis yakni emosi mahasiswa. Sebab, disamping faktor emosi memang merupakan bagian integral kehidupan dan sangat berpengaruh terhadap perilaku dan performansi manusia, pembimbingan fokus emosi mahasiswa ini juga sejalan (bahkan bisa dikatakan menindak lanjuti) harapan dari unsur-unsur yang terlibat (ketua jurusan, dosen dan mahasiswa sendiri) yakni agar mahasiswa mengerjakan skripsi dengan penuh semangat dan motivasi yang tinggi dalam menyelesaikan kendala yang dijumpai sehingga lebih cepat lulus.

STRATEGI RELIGIUS

Mengingat jenis masalah teknis dan nonteknis, sesi pertemuan dan tujuan penulisan skripsi, maka proses pembimbingan skripsi dapat dipandang, dirancang dan dilaksanakan sebagai proses konseling. Kerangka kerja konseling sebagai pembimbingan skripsi yang dipandang relevan adalah dengan Strategi Religius. Strategi religus artinya strategi berdasar atas religi (dalam hal ini Islam) yaitu mengambil inspirasi dari nash-nash Al Qur’an dan Sunah Rosul yang diyakini mampu menjadi obat hati, petunjuk, dan rahmat bagi orang yang mempercayainya (QS Yunus:57). Strategi ini mengarah pada dua fokus masalah skripsi secara terpadu yakni fokus teknis dan fokus emosi dengan berbasis pada mahasiswa atas asumsi bahwa hakikat manusia (mahasiswa) adalah subjek penyusun skripsi yang memiliki dimensi religiusitas.



Religiusitas
Religion berasal dari bahasa Latin religio yang berarti “menjilid kembali” atau mengelompokkan sesuatu ke dalam kelompok yang lebih besar (Faiver, Ingersoll, O’Brien dan McNally, 2001). Religion bermakna sebagai sistem keyakinan akan adanya Tuhan pencipta alam semesta dan manusia akan adanya kehidupan berkelanjutan setelah kematian secara fisik. Ia menjadi sistem  keimanan dan peribadatan atas dasar agama tertentu, mempengaruhi kehidupan seseorang dan mengelompokkan dalam suatu religi. Sedangkan religious adalah tingkat keyakinan dan pengamalan suatu religi (agama), atau komitmen seseorang atau kelompok orang atas suatu religi (Crowther, 1995:988), melibatkan komitmen dengan penuh kesadaran diri terhadap sesuatu realitas maupun transenden yang dianggap suci (Creel, 1991). Religiusitas (religiosity) adalah kualitas seseorang untuk menjadi religius dalam suatu religi. Religiusitas mencakup seperangkat keyakinan dan praktik kelembagaan agama secara terorganisir. Religiusitas cenderung diekspresikan sesuai golongan agama, eksternal, kognitif, behavioral, ritualistik dan publik (Frame, 2004; Faiver, Ingersoll, O’Brien dan McNally, 2001).
Religiusitas menjadi sistem simbol norma yang berfungsi kuat, persuasif, dan menimbulkan motivasi ekstrinsik (kegunaan, utamanya untuk sosialisasi dan justifikasi diri) dan intrinsik (komitmen tulus, merupakan sentral dari kehidupan individu). Baik sebagai motivasi ekstrinsik maupun intrinsik, religiusitas menghasilkan beberapa kode moral yang memandu perilaku seseorang. Rasa bersalah adalah salah satu contoh munculnya perasaan yang disebabkan oleh perilaku seseorang yang bertentangan atau melanggar kode moral yang berasal dari prinsip-prinsip religi  (Geertz, dalam Faiver, Ingersoll, O’Brien dan McNally, 2001). Dengan demikian, religiusitas mahasiswa dapat didefinisikan sebagai tingkat keimanan (komitmen) atas suatu religi (agama) yang diyakininya, yang menjadi suatu kode moral dan memotivasi perilaku, dan memiliki tingkat kesesuaian amal (tindakan/perilaku) dengan keyakinan tersebut dalam kehidupan sehari-harinya.
Richards and Bergin (dalam Frame 2003) mengidentifikasi sembilan dimensi religiusitas seseorang  yaitu (1) worldview, (2) religious affiliation, (3) level of orthodoxy, (4) religious problem solving, (5) spiritual identity, (6) image of God, (7) value-lifestyle congruence, (8) doctrinal knowledge, dan (9) religious and spiritual health and maturity.
Berikut merupakan penjelasan ringkas masing-masing dimensi.
(1)   Worldview adalah cara pandang seseorang terhadap diri, alam dan Penciptanya. Ia mencakup bagaimana cara seseorang memandang hakikat dunia, posisi dia di dunia, keberadaan kejahatan, dan seberapa banyak usaha dia untuk menentukan nasib. Religiusitas ditentukan oleh cara pandang yang didasari oleh sistem keyakinan bersifat theistik (Ketuhanan) atau Kekuatan yang lebih tinggi. Beberapa pertanyaan yang dapat menggali aspek ini misalnya bagaimana manusia ada dan apa tujuannya, bagaimana keberadaan Tuhan atau Pencipta, apa tujuan hidup ini, bagaimana cara manusia hidup untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian, apakah moral dan etika itu, mengapa ada penderitaan, duka cita dan sakit, apakah ada kehidupan setelah mati.
(2)   Afiliasi religius adalah tradisi religi yang dijalankan individu dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, apakah ia mengikuti tradisi Kristiani, Islam, Hindu dan sebagainya. Tradisi religi menekankan pada tingkat latihan dan pengamalan aturan religi (syariat) dalam hidup sehari-hari yang dapat menggambarkan latar belakang atau tingkat keyakinan seseorang akan agamanya.
(3)   Tingkat keortodokan berkenaan dengan sejauh mana kesesuaian sistem keyakinan dan perilaku seseorang dengan tradisi dan doktrin yang telah digariskan oleh agama yang dipeluk. Ini merupakan tingkat ketaatan seseorang terhadap agama yang dianut, mulai dari tidak punya keyakinan sedikit pun terhadap agamanya, memiliki keyakinan agama tetapi tidak taat menjalankan ibadah sesuai agamanya, sampai orang yang sangat taat beribadah sesuai agamanya. Orang yang ortodok secara religius cenderung melihat  syariat agamanya sebagai perhatian psikologis mereka. Sebaliknya, orang yang tidak taat cenderung melihat religi secara negatif dalam sistem keyakinan dan perilakunya.
(4)   Penyelesaian masalah dengan strategi religi merupakan penerapan agama yang dipeluk individu dalam menyelesaikan masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Ada tiga cara menggunakan religi sebagai pendekatan dalam menyelesaikan masalah yaitu (a) orang yang menyerahkan diri sepenuhnya, ia mendekati masalahnya dengan pemahaman bahwa masalah itu datang kepadanya untuk ditemukan suatu solusinya dengan menyandarkan diri pada Tuhan atau Kekuatan yang lebih tinggi untuk membantu dan menguatkan diri dalam menyelesaikan masalah itu, (b) orang yang mengesampingkan Tuhan, ia bertanggung jawab untuk menyelesaikan sendiri masalah yang dialami, dan (b) orang yang memandang penyelesaian masalah secara kolaboratif, ia bekerja sama dengan atau minta pertolongan Tuhan untuk usaha menyelesaikan masalah di samping usaha-usaha yang telah ia lakukan.
(5)   Identitas spiritual berkenaan dengan bagaimana seseorang menerima dirinya sendiri dalam hubungannya dengan Tuhan dan semesta alam. Dalam hal ini ada orang yang percaya bahwa cinta Tuhan telah menciptakan dan mengilhami diri orang itu dengan kemuliaan, ia yakin bahwa Tuhan mengasihi manusia. Tetapi ada pula orang yang tidak memiliki pandangan ke-Tuhanan dalam hidupnya, ia tidak yakin bahwa Tuhan memiliki tujuan khusus atau kemuliaan.
(6)   Gambaran tentang Tuhan berkenaan dengan bagaimana seseorang menggambarkan sifat Tuhan dan apakah ia meyakini sifat-sifat itu. Apakah ia menggambarkan Tuhan sebagai penuh kasih, baik hati, pemurah, pemaaf, selalu mendampingi dan mudah dimintai pertolongan, ataukah Tuhan adalah penuh dendam, penghukum, impersonal. Pemahaman akan gambaran bagaimana Tuhan membentuk hubungan orang itu dengan orang lainnya, berhubungan dengan tingkat harapan yang mereka rasakan dalam hidup sehari-hari.
(7)   Kongruensi antara nilai yang diyakini dan gaya hidupnya mengindikasikan bahwa seseorang memiliki perilaku yang konsisten dengan nilai-nilai yang diyakini, apakah berupa etika, moral, agama ataukah nilai religius. Ketika seseorang hidup secara konform dengan keyakinannya, maka ia akan berfungsi lebih baik dan lebih sehat secara psikologis. Seballiknya, orang yang berperilaku secara inkongruen dengan nilai yang diyakini akan cenderung mengalami konflik interpersonal, lebih merasakan kecemasan, dan merasa bersalah karena hidupnya tidak sesuai dengan standard yang mereka miliki.
(8)   Religiusitas seseorang merupakan kompleksitas pengetahuan tentang doktrin religi dan bagaimana orang itu mengkonstruknya. Bukan hal yang luar biasa jika orang yang aktif dalam kegiatan gereja, sinagog atau mesjid namun memiliki informasi yang tidak lengkap atau tidak benar tentang doktrin religi yang dipeluk. Mis-informasi itu seringkali menciptakan gangguan dalam kongruensi antara nilai yang diyakini dengan gaya hidupnya.
(9)   Kematangan atau kesehatan religius berkaitan dengan jenis motivasi yang dimiliki seseorang dalam menjalankan ibadah sesuai religinya. Religiusitas yang dimotivasi secara intrinsik lebih sehat daripada secara ekstrinsik. Orang yang memiliki motivasi instrinsik mampu menemukan motif utama dalam religi, mencapai harmoni dengan preskripsi dan keyakinan religiusnya secara kuat dan  berusaha keras untuk mengamalkan sepenuhnya nilai-nilai religi yang dianutnya. Sebaliknya, orang yang dimotivasi secara ekstrinsik menggunakan religi untuk diri sendiri, ia menggunakan agama sebagai sarana keamanan diri, sosiabilitas, status dan justifikasi diri. Orang yang dimotivasi secara instrinsik cenderung lebih sehat secara psikologis dan perilakunya cenderung kongruen dengan keyakinannya, sebaliknya, jika motivasinya ekstrinsik, perilakunya kurang konsisten dengan nilai yang diyakini.

Religiusitas dan Tindakan Manusia
Tindakan seseorang juga dipengaruhi oleh tingkat religiusitasnya. Proposisi yang diajukan adalah (1) faktor religiusitas secara langsung mempengaruhi emosi, (2) dan selanjutnya emosi itu menentukan tindakan, atau dengan kata lain, religiusitas berpengaruh secara tidak langsung terhadap tindakannya, yakni melalui emosi. Proposisi tersebut didukung oleh beberapa temuan sebagai berikut. Religiusitas (religiosity) adalah kualitas seseorang yang mencakup seperangkat keyakinan dan praktik agama yang berdaya kuat, persuasif dan menimbulkan mood tertentu (Frame, 2003). Richards and Bergin (1997, dalam  Frame, 2003) menunjukkan bahwa keyakinan religius konseli mempengaruhi self-esteem positif dan kemampuan dalam mengatasi masalah, daripada konseli yang tidak memiliki keyakinan religius. Temuan Widiyanto (2001) menunjukkan bahwa kualitas religiusitas berpengaruh terhadap emosi dan kualitas tindakan guru saat mengajar, guru yang memiliki keyakinan religius kuat memiliki stabilitas emosi yang lebih tinggi yang selanjutnya dapat menampilkan tindakan yang lebih berkualitas dalam mengajar, daripada guru yang kurang memiliki keyakinan religius.
Proposisi yang didukung oleh temuan tersebut dapat dijelaskan secara teoritik sebagai berikut. Keadaan biologis berhubungan dengan emosi, disebut dengan emosi latar belakang (background emotion), yaitu kondisi internal tubuh berupa perubahan hormonal dan rongga perut yang dapat berwujud ketegangan atau relaks, kelelahan atau bertenaga, kesejahteraan atau rasa tidak nyaman dan antisipasi atau kengerian yang semua itu cenderung berkaitan dengan perasaan subjektif tertentu, misalnya keadaan internal tegang, lelah dan tidak nyaman cenderung bersamaan dengan emosi negatif seperti marah dan kecewa, sebaliknya keadaan relaks, sejahtera atau nyaman cenderung bersamaan dengan emosi positif seperti senang dan cinta/kasih sayang.
Kualitas religiusitas yang kuat, akan menumbuhkan background emotion menjadi lebih tenang/relaks, merasa bertenaga, sejahtera, aman dan nyaman yang disertai perasaan positif seperti rasa senang, gembira dan cinta. Emosi tersebut akan terus terpelihara dan terbawa saat seseorang itu menghadapi sesuatu. Selanjutnya, ketika ia menghadapi stimulus berupa hal-hal yang problematik, maka respon emosinya akan tetap positif, artinya ia tidak mudah “terpancing” emosinya untuk bertindak eksplosif dalam menanggapi stimulus tersebut, atau dengan kata lain emosi tetap stabil. Kestabilan emosi itu pada gilirannya melahirkan tindakan orang itu menjadi lebih berkualitas dalam menghadapi perilaku emosional siswa.
Sebaliknya, relligiusitas yang lemah akan menumbuhkan background emotion menjadi tegang, lelah, tidak nyaman dan kurang bertenaga yang disertai perasaan subjektif negatif seperti marah, kecewa dan sedih. Emosi tersebut juga akan terus terpelihara dan terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, ketika ia menghadapi stimulus berupa sesuatu yang problematik maka respon emosinya berupa emosi negative. Artinya ia mudah “terpancing” emosinya untuk bertindak eksplosif dalam menanggapi stimulus tersebut, atau dengan kata lain emosi tidak stabil. Ketidak-stabilan emosi itu pada gilirannya akan melahirkan tindakan orang itu menjadi lebih rentan tidak terkendali,  dalam menghadapi sesuatu yang problematik dalam hidupnya. Ia akan menjadi mudah marah dan jenkel, cenderung membentak dan menghukum secara fisik, bahkan ketika ia menghadapi suatu problem yang sebenarnya wajar menurut orang lain.

Strategi  Religius

            Strategi Religius (SR) adalah ilmu yang dalam, mendeskripsikan (to describe), menjelaskan (to explain), memperkirakan (to predict) dan mengontrol (to control) gejala alam dan sosial dengan berdasarkan pada nas-nas atau firman Allah yang  tersirat maupun tersurat dalam kitab-kitab suci (Soewardi, 1996). Ini merupakan strategi dalam menggunakan sembilan dimensi religiusitas seseorang  yaitu (1) worldview, (2) religious affiliation, (3) level of orthodoxy, (4) religious problem solving, (5) spiritual identity, (6) image of God, (7) value-lifestyle congruence, (8) doctrinal knowledge, dan (9) religious and spiritual health and maturity dalam rangka menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh manusia (dalam hal ini masalah teknis dan nonteknis skripsi yang dihadapi mahasiswa).
Dalam bidang bimbingan, Atmoko (1994) mengemukakan pemikiran tentang bimbingan pendekatan agama, yaitu bantuan kepada konseli dengan dasar pijakan, cara berfikir, analisis dan diagnosis masalah, serta teknik-teknik pemecahan masalah yang menggunakan (berlandaskan atas) konsep-konsep agama, khususnya Islam. Tujuan bimbingan pendekatan agama adalah membantu memecahkan masalah konseli melalui penghayatan, peyakinan (menyakinkan) dan pengamalan konsep-konsep agama baik yang ubudiah (vertikal) maupun yang muamalah (horisontal), sehingga tercapai kesejahteraan pribadi maupun (berimbas kepada) kesejahteraan masyarakat. Konseli diyakinkan bahwa tidak ada masalah yang tidak dapat terpecahkan (semua masalah pasti ada jalan keluarnya) asalkan ia mau kembali ke petunjuk-petunjuk agama.
Dalam tulisan ini tradisi religi mengacu pada Islam, yakni bersumber pada Al-Qur’an dan Hadis (QH). Penggunaan QH sebagai dasar ilmu dilakukan baik pada aspek ontologis, epistimologis maupun aksiologisnya. Pada aspek ontologis, nas-nas dalam QH digunakan sebagai sumber premis dasar, yakni sebagai the thing in itself atau the self evident-proposition yang diyakini kebenarannya. Artinya, dalam merumuskan, membahas dan menginterpretasi gejala, SR menggunakan ayat-ayat atau dalil dalam QH yang seringkali bukan hanya bersifat empiris (bisa diamati) melainkan juga bersifat transenden. Hal ini berlawanan dengan ilmu yang sekuler semata (biasanya disebut ilmu barat) yang meyakini bahwa the thing in itself adalah sesuatu yang empiris (saja).
            Pada aspek epistimologis, proses pencarian kebenaran bukan hanya menggunakan kemampuan pikir (rasio) semata seperti ilmu barat melainkan juga menggunakan dzikir (intuisi). Dalam hal ini nas (dzikir, naqliyah) memandu proses pikir (aqliyah) untuk mencari hubungan sebab akibat. Nas-nas itu merupakan statement atau premis yang mengandung kebenaran-kebenaran dengan hukum sebab-akibat, dan manusia diwajibkan berpikir untuk menemukan atau mengungkapkan hukum sebab-akibat yang kadang tersirat. Nas-nas itulah yang memandu inferensi, ke arah mana premis-premis dideduksi, diverifikasi dan divalidasi.
            Pada aspek aksiologis, penggunaan hasil ilmu juga berpedoman pada nas-nas itu baik yang langsung berhubungan maupun yang merupakan konteks. Dalam hal ini, secara umum penggunaan ilmu ditujukan untuk menyembah Allah (Adz-Dzariah:56), meningkatkan iman dan takwa (Al Baqoroh:2-5) dan rasa syukur atas nikmat Allah (Ibrahim: 7), untuk memakmurkan bumi (Hud:61), bukan untuk melanggar nas-nas Allah atau menciptakan kerusakan di bumi (Rum:41).
Badri (1981) memang mengakui ada kesulitan perumusan konsep kepribadian Islam yang, sebagaimana terapi-terapi modern, menjadi landasan bagi penyusunan tujuan, strategi dan teknik terapi. Berkenaan dengan itu, Badri (1981: 110 – 111) memberikan kerangka kerja yang lebih konkrit, sebagai berikut:
Namun demikian, Qur’an dan Hadist secara eksplisit membicarakan sejumlah konsep atau sebab musabab yang menerangkan spesifik tingkah laku individu-individu ataupun manusia kolektif. Dalam Qur’an sebab-musabab ini dianggap sebagai hukum-hukum psiko-religius dan sosial yaitu sunnah Allah. Seorang teoritikus muslim yang berbekal psikologi akademik Barat dan teori kepribadian, dan yang pada waktu bersamaan bersiap-siap membebaskan diri dari pengaruh-pengaruh yang negatif, akan sanggup membaca hukum-hukum Qur’an di bidang sosial dan psiko-religius sebagai sebuah kerangka utuh untuk konsep kepribadian Islam. Kemudian pada kerangka itu dapat ditempelkan otot dan daging dari hadist dan sejarah nabi, begitu pula dari karya-karya pemikir Islam zaman dahulu. Maka, para teoritisi kepribadian Islam yang mengabdikan diri dapat memberikan sebuah dimensi baru dalam teori kepribadian kepada seluruh bidang psikologi. Perlu dicatat sehubungan dengan hal di atas, bahwa psikolog-psikolog Barat yang terkemuka telah mulai menghargai sumbang sih psikolog zaman dahulu yang non-Barat terhadap teori kepribadian modern.

Temuan yang mendukung
Beberapa temuan yang menguatkan bahwa religi memiliki potensi dan kekuatan sebagai strategi penyelesaian masalah dapat disebutkan sebagai berikut. Seorang psikolog wanita yang terkenal di Indonesia, yakni Zakiah Daradjat, menyatakan bahwa berdasar pengalaman menghadapi para penderita gangguan jiwa ternyata di samping perawatan secara teknis ilmiah, agama mempunyai kekuatan yang besar dalam mempercepat kesembuhan penderita gangguan jiwa. Terbukti pula bahwa seseorang yang kurang teguh dalam menjalankan agama seingkali mudah terkena gangguan jiwa. Pelaksanaan agama dalam kehidupan sehari-hari dapat membentengi orang dari gangguan jiwa dan dapat mengembalikan kesehatan jiwa bagi orang yang gelisah tak berujung pangkal karena kekecewaan atau ketidakpuasan. Sembahyang, do’a-do’a dan permohonan ampun kepada Allah, semuanya merupakan cara-cara pelegaan batin yang akan mengembalikan ketenangan dan ketentraman jiwa. Mendukung pengalaman Daradjat, penelitian Mohammad Saleh (2001)  membuktikan bahwa sholat tahajjud yang dilaksanakan secara rutin dan iklas mampu menghindarkan seseorang dari serangan berbagai penyakit karena daya tahan imunologik dan kesehatan mental yang bersangkutan meningkat.
Pengalaman Badri (1981) selalu menunjukkan bahwa keyakinan pasien terhadap agama Islam sangat berguna bagi usaha penyembuhan atau penyelesaian masalah. Misalnya, seorang wanita yang mengalami kecemasan, rasa tak cukup, depresi dan reaksi-reaksi phobia yang telah dua kali masuk rumah sakit  selama hampir satu tahun, yang tidak terselesaikan oleh dukun tradisional maupun terapi modern teknik desensitisasi standard, psikoterapi kelompok maupun obat penenang oleh Badri sendiri, ternyata mengalami proses penyembuhan yang cepat setelah dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an tentang pengampunan dosa. Seorang wanita yang mengalami neurosis obsesional dengan gejala perilaku tidak khusuk sehingga selalu mengulang-ulang sholat, yang tidak sembuh baik dengan teknik terapi tidur elektrik, obat penenang, aversi, maupun desensitisasi sistematik, ternyata bisa sembuh setelah mengikuti sholat tarawih bersama selama bulan Ramadhan dengan imam yang sangat fasih dalam membacakan ayat-ayat Al Qur’an. Sentimen-sentimen dan konsep-konsep Islam tentang nilai sejati tentang hidup, mati, dan kehidupan sesudah mati ternyata bisa mengobati seorang laki-laki yang mengalami gangguan phobia terhadap mati dan hipokondria yang gawat. Dari pengalaman-pengalaman tersebut dan banyak pengalaman psikiater lain yang senada, maka mulai berkembang terapi psiko-religius yang berorientasi kepada Islam.    


KERANGKA KERJA KONSELING RELIGIUS: Terapan Pembimbingan Skripsi

Skripsi
            Skripsi merupakan karya ilmiah dalam suatu bidang studi yang ditulis oleh mahasiswa Program Sarjana pada akhir studinya sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan program studi mereka yang ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan, hasil kajian pustaka, atau hasil kerja pengembangan (Ali Saukah, dkk, 1996). Tujuan penulisan skripsi adalah memberi pengalaman belajar kepada mahasiswa dalam memecahkan masalah secara ilmiah dengan cara melakukan penelitian sendiri, menganalisis, dan menarik kesimpulan serta menyusun menjadi bentuk skripsi (Pedoman Akademik, 1997). Dalam Program Studi Bimbingan Konseling, skripsi menjadi mata kuliah wajib dengan bobot 6 SKS. Implikasinya, mata kuliah skripsi diambil oleh semua mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling untuk lulus menjadi sarjana. Mengingat berbagai persyaratan dan masalah yang menyertainya, maka ada mahasiswa yang mengalami hambatan sehingga molor terlalu lama bahkan gagal lulus karena tidak menyelesaikan skripsinya.

Fokus Masalah Penulisan Skripsi

            Pengalaman  dan studi penjajagan terhadap mahasiswa yang sedang  menyusun skripsi menunjukkan bahwa muncul banyak masalah dalam menyelesaikan suatu skripsi dari awal sampai lulus ujian. Masalah berkaitan dengan penyusunan skripsi dapat dipilah ke dalam dua fokus, yaitu fokus emosional dan fokus teknis. Fokus emosional adalah masalah-masalah yang pusatnya berupa emosi, misalnya muncul rasa jenuh, malas, cemas, gelisah, bingung, marah, kecewa, dan tegang. Gejala-gejala yang tampak atau dirasakan antara lain berupa disharmoni proses biokimia tubuh seperti peningkatan kadar hormon adrenalin, asam lambung, keringat (dingin), detak jantung dan tekanan darah meningkat lebih dari biasanya, sulit tidur dan sulit berkonsentrasi, pada taraf dan orang tertentu muncul gejala psikosomatik seperti ingin selalu buang air kecil, diare, tangan terasa kelu, dan yang paling sering adalah muncul sakit maag.
            Fokus teknis adalah masalah-masalah objektif yang berkaitan langsung dengan objek penyusunan skripsi, antara lain kesulitan merumuskan masalah secara jelas dan spesifik yang diterima oleh pembimbing, kesulitan menemukan sumber pustaka yang diperlukan, kerumitan dalam penyusunan alat ukur, kesulitan biaya untuk pengumpulan data, kesibukan dosen sehingga sulit ditemui untuk berkonsultasi, kerusakan file atau hardis secara tiba-tiba karena virus, dan lain-lain masalah praktis. Gejala-gejala yang tampak ketika mahasiswa menhadapi masalah fokus ini antara lain perilaku kurang terarah, lupa akan sesuatu yang sebenarnya penting bagi penulisan skripsi, dan tidak segera mengerjakan/menulis skripsi atau perilaku tidak terjadwal.
            Fokus emosional dan teknis serta gejala-gejala yang muncul pada dasarnya tidak terpisah. Seorang mahasiswa bisa merasa cemas dan putus asa (mengalami masalah emosional) ketika telah berkali-kali mengajukan suatu topik dan rumusan masalah tetapi dosen pembimbing belum menyetujuinya (masalah teknisnya belum diselesaikan). Demikian pula, seorang mahasiswa yang telah menyelesaikan laporan skripsi dan akan menempuh ujian (masalah teknis yang satu telah diselesaikan, yang lain belum) juga bisa mengalami gejala-gejala pada masalah emosional seperti cemas dan gelisah saat akan ujian. Dalam tulisan ini, masalah tersebut dipilah atau dibedakan dalam rangka analisis untuk menentukan strategi penyelesaiannya.

Hakikat manusia
Manusia adalah makhluk yang diciptakan dari saripati tanah (Al Mu’minun:12-14), dan yang pertama adalah Adam (Al Baqarah:30-38), dalam jasad manusia juga ditiupkan ruh (As-Sajdah:9). Dengan demikian manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani. Manusia tidak terdiri dari unsur fisik semata, tetapi juga memiliki akal pikiran, perasaan dan hawa nafsu.
Al-Qur’an menggunakan tiga istilah tentang manusia, yaitu al-basyar, al-insan dan an-nas.  Al-basyar memberikan rujukan manusia dari segi fisik, misalnya “bagaimana mungkin Maryam punya anak, padahal ia tidak pernah disentuh oleh basyar (Ali Imron: 47), nabi Muhammad adalah juga manusia (basyar) sebagaimana umumnya yang diberi wahyu (Al-Kahfi:110).  Konsep al-insan mengacu pada manusia yang bergerak maju ke taraf lebih tinggi (becoming), mencari kesempurnaan,  merindukan keabadian. Asas melajunya manusia mengalir kembali kepada Tuhannya (inna lillahi wainna ilaaihi raji’un).
Sebagai al-insan, manusia dibekali dengan akal (Zumar:21), dan mampu mengkomunikasikan pengetahuannya (Al-Baqarah:31-33), menerima amanah (Ahzab:72) dan mempertanggungjawabkannya (Al-Isra:15); al-insan juga memiliki kecenderungan negatif seperti dhalim dan kafir (Ibrahim:34) tergesa-gesa, bakhil (Isra:11), bodoh (Ahzab:71), membantah dan mendebat (Khafi:53), gelisah, resah dan segan membantu (Ma’arij:19-21), bersusah payah dan menderita (Insyiqaq:6, al-Balad:4), tidak berterima kasih (Adiyat:6), berbuat dosa (Alaq:6), dan meragukan hari akhirat (Maryam:66).
Konsep an-anas merujuk manusia sebagai makhluk sosial, seperti sebutan waminan nas (Baqarah:8, 165), aktsaran nas (A’raf:187, Hud:17), dan sebutan yaa ayuhan nas (Yunus:57). Sebagai manusia, mahasiswa, ia memiliki kemampuan akal (Zumar:21), pilihan atau kemerdekaan berkehendak (Ahzab:72,73; Az Zukhruf:29, Naba78:39, Muddattsir :36,37) dan tanggung jawab (Ahzab:72; Al-Isra:15), dan mampu mengkomunikasikan pengetahuannya (Al-Baqarah:31-33), namun juga memiliki berbagai keterbatasan, kepribadiannya mencakup konflik antara tugas dan keinginan (hawa nafsu) (As-syams:1-10, Ali Imran:14, 15-17, Rum:30, Yusuf:53, Al-Qiyamah:2), cenderung tergesa-gesa, bakhil (Isra:11),  membantah dan mendebat (Khafi:53), gelisah, resah dan segan membantu (Ma’arij:19-21), bersusah payah dan menderita (Insyiqaq:6, al-Balad:4), tidak berterima kasih (Adiyat:6).
Dengan demikian, manusia pada dasarnya merupakan makhluk biologis, psikologis dan sosial. Ketiga aspek tersebut harus diperhatikan dan dikembangkan dalam keseimbangan yang selalu berada dalam hukum-hukum (sunatullah) yang berlaku mengingat ada kecenderungan negatif (nafsu) dan positif (fitrah) dalam diri manusia. Oleh karena itu manusia harus mengembangkan ilmu disertai dengan iman dan amal saleh (Thoha, Syukur, Priyono, (edt), 1996).
Ansari (1984) dengan berdasar pada Qur’an, mendeskripsikan pokok-pokok prinsip manusia sebagai berikut. Manusia adalah makhluk ciptaan (Maryam:67), mempunyai arah dan berevolusi (Mu’minuun:115-116, 12-16, Al-Insaan:2,3) berjuang mencapai tujuan moral sehingga bisa mencipta dan membentuk kepribadian (Al-Balad:4, Al-Mulk:2, Hud:7), untuk mengisi dan menjelmakan cita-cita moral maka manusia adalah makhluk sosial (Rum:28, An-nisa:50, An’aam:165), pada pokoknya baik (Alam Nasrah:4) namun juga memiliki berbagai keterbatasan, kepribadiannya mencakup konflik antara tugas dan keinginan (hawa nafsu) (As-syams:1-10, Ali Imran:14, 15-17, Rum:30, Yusuf:53, Al-Qiyamah:2), memiliki kemerdekaan berkehendak (Ahzab:72,73; Az Zukhruf:29, Naba78:39, Muddattsir :36,37), dengan keterbatasannya dan kepribadiannya manusia harus mempertahankan eksistensi duniawinya dengan identitas yang tidak terlepas dari kebangkitan kembali dan perhitungan hari akhir bagi tindakan-tindakannya di dunia (Baqarah:2-5, Ahzab:73-77, Saba’:8,9; Dukhaan:24,25, Jaatsiyah:26, Qaaf:9-15,   Al Isra:13-14).

Kerangka Kerja Umum Strategi Konseling Religius
            Berdasar konsepsi tentang hakikat manusia menurut Al-Qur’an seperti yang telah diuraikan para pemikir Islam, maka penulis mencoba merumuskan kerangka kerja umum bagaimana pembimbingan skripsi akan dioperasionalkan. Secara skematis, kerangka kerja tersebut dapat dilihat pada gambar 1, yang diuraikan sebagai berikut
1)     Tugas hidup manusia yang utama dan esensial adalah beribadah (Dzariat:56, Hijr:99).
2)     Pedoman hidup yang utama dalam menjalankan tugas hidup tersebut adalah Al-Qur’an dan Sunah Rosul (An’am:116, 153; Yunus:57-58; Hijr:41-42; Nahl:42-44, 64, 89; Baqarah:213).
3)     Bahwa niat utama menjalankan tugas hidup adalah mencari ridho Allah (Lail:18-21; Hijr:40).
4)     Tujuan jangka panjang dalam menjalankan tugas hidup adalah kehidupan akhirat yang baik yakni masuk sorga (Imron:133; Fajr:27-30, An’am:32) dan terhindar atau selamat dari neraka (Baqarah:24; Nahl:85; An’am:27-30; Fatir:36-37; Ali Imron:16).
5)     Tujuan jangka panjang itu baru bisa dirasakan setelah manusia mengalami kematian yang pasti akan dijumpai (Jum’at:8; Nahl:61).
6)     Di samping tujuan jangka panjang, manusia juga memiliki tujuan jangka pendek yaitu kehidupan dunia yang baik (Nahl:97; Sof:13; Hud:61; Qasas:77).
7)     Untuk mencapai tujuan jangka pendek dan jangka panjang, manusia pasti menghadapi cobaan atau rintangan dan godaan (Mulk:2; Kahfi:7; Baqarah:49, 155-157, 214; Ambiya: 34-35, 86-87; Haji:52-53; Furqan:18-20; Ankabut:2-7; Hijr:39).
8)     Bahwa dalam mencapai tujuan dan menghadapi cobaan dan godaan, manusia harus bersikap takwa (Khaser:18; Thalaq:2-3; Nahl:42) dan sabar (Baqarah:153, 155).
9)     Sejalan dengan sikap sabar dan takwa, manusia secara akal dan perbuatan harus tetap berusaha (Ro’du:11; Ankabut:69), dengan menyusun suatu rencana (Khaser:18), kerja atau pelaksanaan rencana secara berurutan/sistematis dan sungguh-sungguh (Alam Nasyrah:7).
10) Manusia juga harus selalu melakukan kontrol diri/evaluasi diri (Rum:36, 41; Khaser:18-19), yang selalu disertai rasa bersyukur atas apa yang telah dimiliki sampai saat ini (Ibrahim:7).
11) Dalam segala usahanya manusia harus diperkuat dengan do’a dan minta pertolongan kepada Allah sang pencipta karena pada hakikatnya semua di dunia ini telah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa (Rum:37; Baqarah:153, 155; A’rof:205-206; Al-Isro’79-81, 108-110).


Gambar 1: Kerangka Kerja Umum dengan Strategi Religius

                DIPERKUAT DENGAN DO’A, SABAR DAN SHOLAT: Rum:37;  Baqarah:45-46, 153, 186; A’rof:205-206; Al Isra:79-81, 108-110










bd05299_








EVALUASI DIRI: Khaser:18-19; Rum:36, 41
SYUKUR: Ibrahim:7

 








            Dalam kerangka kerja tersebut, penulisan skripsi dapat dipandang sebagai sebagian langkah atau tahap dalam rangka mencapai tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Artinya, skripsi adalah salah satu bagian hidup (perlu disadari bahwa skripsi saja tidak menjamin keberhasilan hidup)  yang perlu diselesaikan oleh mahasiswa agar kelak bisa memperoleh kehidupan dunia yang lebih baik karena dapat menyandang gelar sarjana, selanjutnya kehidupan baik itu diharapkan dapat menunjang tercapainya tujuan jangka panjang yang lebih hakiki.
Kesulitan-kesulitan atau masalah yang muncul selama penulisan sampai ujian skripsi baik fokus teknis maupun fokus emosional, dapat dipandang sebagai cobaan atau godaan dalam rangka mencapai tujuan. Oleh karena itu mahasiswa perlu menggunakan tahapan kerja: rencana-kerja-kontrol, dengan tetap meningkatkan ketakwaan dan kesabaran, dengan disertai rasa bersyukur; selalu menyadari akan tugas hidup yang hakiki dan memedomani Al-Qur’an dan Sunah Rosul (tidak terjerumus dalam pelampiasan yang maksiat); serta selalu memohon akan pertolongan Allah.

Kerangka Kerja Operasional 

Atas dasar kerangka kerja umum dan fokus masalah dalam penulisan skripsi, maka dapat dirumuskan kerangka kerja operasional konseling religius dalam membimbing penulisan skripsi dapat berjalan lancar, selesai tepat waktu dan memperoleh hasil atau nilai yang sangat memuaskan, yaitu sebagai berikut.  Skema kerangka kerja operasional ini dapat dilihat pada gambar 2.


Mendekatkan diri kepada Allah

            Nas-nas berkaitan dengan masalah skripsi antara lain: telah datang nasehat, petunjuk, rahmat dan obat bagi hati dari Tuhanmu (Yunus:58), hanya dengan mengingat Allah sajalah, akan diperoleh ketenteraman hati (Ar ra’d: 28), barang siapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar (dari masalahnya) (Ath Thalaaq:2), barang siapa yang berserah diri kepada Allah, maka Dia akan mencukupkan urusan orang itu (Ath Thalaaq:3), jika kalian bersyukur atas nikmat-Ku, nicaya Aku menambah nikmat-Ku kepada kalian (Ibrahim:7), jadikanlah sabar dan sholat sebagai pembantumu (untuk mencapai cita-cita), sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (Al Baqoroh:153), Aku (Allah) kabulkan do’a orang yang berdo’a  kepada-Ku (Al Baqoroh:186).
            Ayat-ayat tersebut cocok untuk menyelesaikan masalah-masalah fokus emosional yang muncul dalam menyelesaikan skripsi. Pada aspek ontologis, ayat-ayat tersebut mengisyaratkan adanya obat hati dari Allah dengan cara mendekatkan diri kepada Allah: tawakal, sabar, bersyukur, berdo’a dan salat yang diyakini sebagai the thing in itself.
Pada aspek epistimologis, kita (konselor dan konseli: dosen dan mahasiswa) berusaha mencari bukti-bukti keefektifan ayat tersebut untuk menyelesaikan masalah emosional berkaitan dengan skripsi. Dalam hal ini kita mempelajari petunjuk teknis-operasionalnya yang telah diuraikan secara rinci di Hadis, misalnya ada solat hajat, ada waktu-waktu dan tata cara berdo’a yang pasti terkabul (mustajab) untuk memohon kelancaran dan kemudahan dalam menyelesaikan skripsi, ada bacaan-bacaan dzikir untuk meningkatkan keyakinan hati agar selalu berserah diri dan selalu bersyukur atas nikmat Allah walaupun nikmat itu tampak kecil. Selanjutnya kita melaksanakan petunjuk operasional tersebut.
Bukti-bukti empiris secara tertulis hasil penelitian tentang do’a dalam menyelesaikan masalah, sepengetahuan penulis, belum banyak didokumentasikan. Sebagai contoh, bisa disebut misalnya pengakuan seorang janda yang berhasil mendidik sembilan putra-putrinya (lima putra dan empat putri) sampai semuanya memperoleh gelar sarjana bahwa rahasia kesuksesannya adalah banyak do’a (Williams, 1995), kisah-kisah di Babad Tanah Jawa yang menceriterakan bahwa keberhasilan para raja Mataram dalam mencapai cita-cita membangun negara adalah banyak melakukan do’a dan tirakat (Babad Tanah Jawa, tanpa tahun). Pengalaman dan pengamatan penulis terhadap orang-orang yang berhasil menyelesaikan studi (padahal banyak masalah “berat” yang ia dihadapi) menunjukkan bahwa mereka umumnya rajin berdo’a, salat sunah, berdzikir dan berpuasa.


Gambar 2. Kerangkan Kerja Operasional dengan Strategi Religius


FOKUS MASALAH              GEJALA                                     PEMECAHAN                          HASIL
 





















                                                                                                                                                               
                                                                                                                                                                                                                EVALUASI
                                                                                                                                                                               



Pada umumnya, perolehan dari pelaksanaan strategi ini adalah perasaan (hati) lebih tenang, tenteram, lebih mantap atau yakin bisa menyelesaikan skripsi/tesis walaupun masalah objektifnya sendiri mungkin belum terselesaikan. Secara psikologis hal ini merupakan suatu ketenangan dan sikap positif yang memang ikut menentukan dalam keberhasilan menyelesaikan skripsi.
           
Rencana-Kerja-Kontrol
Strategi ini adalah cara-cara menyelesaikan masalah yang berfokus pada teknis skripsi yakni tugas-tugas nyata dalam menyusun skripsi  (berkenaan langsung dengan objek-objek penyusunan skripsi) yakni mulai dari menyusun proposal, melaksanakan penelitian sampai menyusun laporan dan melaksanakan ujian. Ayat-ayat Allah yang menjadi rujukan strategi ini sebagai berikut. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka yang mengubah keadaan mereka sendiri (Ar ra’du:11), sesungguhnya di samping kesulitan-kesulitan (masalah) ada kemudahan (penyelesaian), maka ketika engkau selesai mengerjakan suatu pekerjaan, kerjakanlah pekerjaan yang lain (Alam Nasrah:6-7), setiap diri hendaklah meneliti apa yang telah dilakukan, untuk hari esok (Al Hasyr: 18). Ayat-ayat tersebut “memerintahkan” bahwa harus berusaha secara nyata mengatasi kesulitan-kesulitan, bekerja secara satu-persatu (sistematis, terencana), dan selalu meneliti diri (evaluasi). Jika diringkas, ayat-ayat tersebut mendorong kita untuk melakukan 3 hal yakni Rencana-Kerja-Kontrol (Plan-Do-Chek).

1) Rencana
Rencana hendaknya disusun secara komprehensif, yakni  bukan hanya tentang teknis skripsi melainkan juga “semua hal” berkaitan dengan keberhasilan menyelesaikan skripsi. Rencana komprehensif disadari pentingnya dan disusun sejak mahasiswa mulai masuk kuliah. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah memahami “aturan main” yang berlaku di universitas tempat ia kuliah dengan cara membaca buku pedoman (katalog) tentang institusi tersebut, bertanya kepada para mahasiswa angkatan sebelumnya, bertanya kepada dosen atau pejabat jurusan, mengobservasi perpustakaan, dan sebagainya.   Langkah ini untuk memahami deskripsi dan sajian mata kuliah sejak semestar awal sampai akhir, situasi belajar mengajar di jurusan itu dan iklim jurusan, termasuk karakter dosen-dosen. Di Universitas Negeri Malang, langkah ini bisa dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan Pengenalan Kehidupan Perguruan Tinggi (OKPT) bagi mahasiswa baru.
Berikutnya adalah mencocokkan “aturan main” yang kita pahami itu dengan posisi dan kemampuan masing-masing. Dalam hal ini kita menuangkannya dalam bentuk perencanaan berupa target-target tertentu, sebagai berikut (sekedar contoh).
(1)   IPK minimal setiap semester adalah 3,0.
(2)   Semester 1 – 2 membaca judul-judul skripsi yang ada di universitas atau jurusan dan menentukan bidang minat yang akan menjadi topik skripsi. Bidang minat dijabarkan lebih rinci dalam bentuk topik-topik yang akan menjadi bahan skripsi.
(3)   Mencermati pokok-pokok ide, teori-teori atau konsep dari  mata kuliah (-mata kuliah) yang berkaitan dengan bidang minat yang akan menjadi topik skripsi.
(4)   Mengikuti dengan sungguh-sungguh mata kuliah-mata kuliah yang berkaitan dengan teknik penyusunan skripsi seperti metodologi penelitian, statistik, seminar usulan penelitian, dan menerapkannya pada bidang minat yang menjadi topik skripsi. Biasanya disajikan pada semester 3 sampai 5.
(5)   Semester 3 sampai 5, bersamaan dengan mengikuti kuliah tersebut nomor 4), kita mulai menyusun beberapa pra-proposal penelitian untuk calon skripsi (pokok-pokoknya dulu).  Di sini kita bisa meminta balikan dari dosen pembina mata kuliah tersebut dan teman-teman diskusi saat kuliah, dan juga penting meminta masukan dari dosen calon pembimbing skripsi (dosen pembimbing skripsi bisa diketahui melalui ketua jurusan).
(6)   Semester 6, kita menyusun proposal secara lengkap dan mengkonsultasikan dengan dosen pembimbing skripsi yang telah ditentukan. Di sini penulisan skripsi dilakukan secara resmi (formal tercatat di KRS) bersama dosen skripsi.
(7)   Semester 7, terus melanjutkan proses penulisan skripsi bab per bab bersama dengan dosen pembimbing, akan lebih baik jika sudah sampai pada pengambilan data.
(8)   Semester 8, melakukan analisis data dan menulis laporan, dan siap melaksanakan ujian skripsi.
Teknik menulis skripsi biasanya sudah dipaparkan oleh berbagai buku bimbingan penulisan skripsi. Di Universitas Negeri Malang telah terbit buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis, Disertasi, Artikel, Makalah, Laporan Penelitian. Buku itu membahas hal-hal sekitar konsep penelitian sampai teknis pengetikan, ukuran kertas dan sebagainya. Para mahasiswa hendaknya membaca buku yang dimaksud sejak awal semester karena buku ini merupakan standard kerja di bidang penulisan skripsi (kalau bisa memiliki sendiri). Di samping itu mahasiswa perlu memahami buku-buku tentang metode penelitian dan analisis data yang banyak ragamnya di perpustakaan.

2) Kerja
Setelah menyusun target-target, kemudian kita menyusun jadwal kapan melaksanakan berbagai kegiatan dalam rangka mencapai target tertentu. Misalnya, berapa judul, kapan dan di mana kita membaca laporan-laporan skripsi; kapan membaca buku-buku tentang penulisan skripsi dan buku teori/konsep yang akan diteliti di samping membaca buku yang diwajibkan oleh suatu mata kuliah. Berapa buku dan laporan, termasuk sumber-sumber yang lainnya, yang harus dibaca perlu dihitung banyaknya dan dialokasikan waktunya secara rinci dan tepat (relatif). Semua itu dituangkan dalam rencana mingguan, bahkan harian, di samping berbagai kegiatan lain seperti kuliah, mengerjakan tugas terstruktur, mengikuti kegiatan ekstra kurikuler, termasuk pulang kampung.

3) Kontrol
Dalam pelaksanaan, tidak jarang terjadi ketidaksesuaian dengan apa yang direncanakan, bahkan ada target  yang mungkin tidak tercapai.  Di sini evaluasi perlu terus dilakukakan untuk menelusuri mengapa rencana tidak jalan dan target tidak tercapai. Apakah karena faktor-faktor yang bisa dikendalikan oleh kita sebagai mahasiswa, ataukah faktor-faktor di luar kendali. Faktor-faktor yang masih bisa dikendalikan perlu segera diperbaiki, sedangkan faktor di luar kendali dipasrahkan kepada Tuhan (tawakal): yang penting kita sudah berusaha sebaik mungkin sesuai kemampuan. Sikap tawakal, sabar dan diikuti do’a  dapat menimbulkan perasaan tenang dan mengurangi kecemasan atau kekecewaan akibat kegagalan.

Peranan Konselor: Pembimbing Skripsi
            Dengan strategi Religius, jelas bahwa pembimbing skripsi bukan hanya berperan memberikan bimbingan teknis skripsi sebagaimana selama ini ia lakukan, melainkan membimbing secara terpadu baik teknis maupun bimbingan pada fokus masalah emosi mahasiswa sejak awal penulisan skripsi (bahkan awal mahasiwa masuk kuliah) sampai ujian. Dalam hal ini secara rinci peranan pembimbing, paling tidak mencakup:
1)     Menjelaskan hal ikhwal penulisan skripsi, antara lain pengertian, tujuan, prosedur administratif dan akademik, hambatan yang akan ditemui, dan teknis penulisan skripsi itu sendiri.
2)     Membantu mahasiswa agar mereka lebih memahami dan meyakini Qur’an dan Sunah Rosul yang berkaitan dengan strategi religius dalam menyelesaikan skripsi sebagaimana telah diuraikan.
3)     Membantu mahasiswa dalam menyusun rencana terpadu atas dasar strategi religius dalam penulisan skripsi, mulai penetapan target, inventarisasi langkah-langkah dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan penulisan, membantu mahasiswa menyusun jadwal pelaksanaan, dan mengevaluasi diri.
4)     Membimbing (mendampingi) mahasiswa dalam menyelesaikan fokus masalah emosional dan fokus teknis skripsi mulai perencanaan-pelaksanaan –evaluasi skripsi.

SIMPULAN DAN SARAN
Dalam kerangka kerja konseling strategi Religius ini, tampak bahwa di samping usaha batin (do’a, solat, sabar, tawakal, dzikir), konselor dan mahasiswa juga melakukan usaha lahir mulai dari merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi. Hal penting dalam strategi ini adalah bahwa baik pendekatan diri kepada Allah maupun rencana-kerja-kontrol, semua dilakukan atas dasar keyakinan terhadap ayat-ayat Allah sebagai suatu kebenaran (the thing in itself) dengan niat yang tulus, lillahi ta’ala. Kerangka kerja ini bersifat komprehensif yang mengacu pada fokus masalah nonteknis dan teknis penulisan skripsi.
Dalam tulisan ini belum dibahas tentang terapan untuk proses dan teknik konseling atas dasar kerangka kerja tersebut. Untuk itu disarankan kepada para ilmuwan dan praktisi konseling agar melanjutkannya menjadi proses dan teknik konseling religius, bukan hanya dalam rangka masalah skripsi, melainkan juga dapat diterapkan dalam berbagai masalah yang dialami oleh siswa di tingkat SMP dan SMA.

DAFTAR RUJUKAN

Al Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/ Pentafsir Al Qur’an

Atmoko, Adi. Bimbingan Pendekatan Agama, mencari model yang pas di sekolah. Bina Bimbingan. Th. 9. No. 1 . April 1994.

Atmoko, Adi. Delivery services dalam bimbingan skripsi. Makalah diisampaikan
dalam seminar kolegial Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, FIP
UM, tanggal 31 juli 2009


Ansari, Rahman F. 1984. Konsepsi Masyarakat Islam Modern. Alih bahasa Juniarso R,  Abu Faiz, Asep Hikmat. Bandung: Risalah.

Babad Tanah Jawa. Tanpa tahun.

Badri, Malik B. 1981. Psikolog Islam di Lobang Buaya. Alih bahasa Anas Mahyudin dan Endi Hardi Wahyudin. Yogyakarta: UP Karyono

Chabib Thoha & Syukur Nc Priyono (editor). 1996. Reformulasi Filsafat Pendidikan Islam. Semarang: Pustaka Pelajar kerjasama dengan IAIN Walisongo

Faiver, C; Ingersoll, RE; O’Brien,E; dan McNally,C. 2001. Explorations in Counseling and Spiritualy: Philosophical, Practical and Personal Reflection. Belmont: Thomson Learning

Frame, MW. 2003. Integration Religion and Spirituality into Counseling: A Comprehensive Approach.  Pacific Grove: Thomson Learning

Herman Soewardi. 1996. Nalar, Kontemplasi dan Realita. Bandung: PPS UNPAD

Hidayatullah. Edisi 09. Th.XIII. Januari 2001

M. Ramli. 2000. Studi Tentang Hambatan dalam Penyusunan Skripsi dan Harapan Peme-
         cahannya. Laporan penelitian tidak diterbitkan. Malang: Jurusan BKP FIP UM

Saukah, Ali (Edt.).2000. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis, Disertasi,  Artikel, Makalah, Laporan Penelitian. Malang: Universitas Negeri Malang.

Widada. 2001. Efektivitas Pelaksanaan Pembimbingan Skripsi Terpadu Program Studi Bimbingan Konseling. Laporan penelitian tidak diterbitkan. Malang: Jurusan BKP FIP UM

Williams, Walter L. 1995. Mozaik Kehidupan Orang Jawa: Pria dan Wanita dalam Kehidupan Masyarakat Moderen. Penerjemah: Ramelan. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo.

Zakiah Daradjat. 1983. Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental. Jakarta: Gunung Agung






[1] Makalah disampaikan dalam Seminar Internasional dalam rangka Kongres XI dan Konvensi Nasional XVI Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) dengan Tema: Revitalisasi Bimbingan dan Konseling untuk Mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional, di Surabaya, tanggal 14 – 17 Nopember 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar