Kamis, 21 April 2011

RIWAYAT ARISTOTELES DAN PEMIKIRANNYA

RIWAYAT ARISTOTELES DAN PEMIKIRANNYA


A.    Pendahuluan
Salah satu filosuf yang dianggap sangat berjasa dalam meletakkan sendi-sendi pertama rasionalitas Barat adalah Aristoteles, yang merupakan murid Plato. Meskipun diantara keduanya terdapat perbedaan-perbedaan pandangan, tetapi Aristoteles dianggap sebagai murid yang mewarisi pemikiran-pemikiran gurunya, dan dianggap sebagai salah satu tokoh penggerak zaman.
Dia juga dianggap sebagai peletak tonggak dasar dalam sejarah pemikiran Barat. Bahkan Michael H. Hart menilai bahwa Aristoteles adalah seorang filosuf dan ilmuwan terbesar dalam dunia masa lampau. Dia memelopori penyelidikan ihwal logika, memperkaya hampir tiap cabang falsafah dan memberi sumbangsih tak terperikan besarnya terhadap ilmu pengetahuan. [1]
Meskipun banyak ide-ide Aristoteles yang tampaknya kini sudah ketinggalan zaman, tetapi yang paling penting dari apa yang pernah dilakukannya adalah pendekatan rasional yang senantiasa melandasi karyanya. Dia filosof orisinal, dia penyumbang utama dalam tiap bidang penting falsafah spekulatif, dia menulis tentang etika dan metafisika, psikologi, ekonomi, teologi, politik, retorika, keindahan, pendidikan, puisi, adat-istiadat orang terbelakang dan konstitusi Athena. Salah satu proyek penyelidikannya adalah koleksi pelbagai negeri yang digunakannya untuk studi bandingan. Makalah ini berusaha mendeskripsikan pemikiran-pemikiran filsafat Aristoteles sebagai tokoh  yang telah berhasil membentuk dan meletakkan dasar yang paling kokoh bagi pembangunan kebudayaan dan peradaban Barat modern.

B.     Riwayat Hidupnya
Dalam teks bahasa Inggris, nama Aristoteles ditulis Aristotle, dan dalam teks Arab biasanya ditulis Aristutulis atau Aristu.[2] Sedangkan dalam tulisan asli Yunani biasanya ditulis ‘Aριστοτέλης. Dia lahir 384 SM di Stagira, sebuah kota koloni di semenanjung Chalcidice, yang berada di wilayah Macedonia, yang terletak di sebelah utara Yunani, atau yang kini menjadi  Yunani Utara.  Dia meninggal tahun 322 SM.[3]
Ayahnya bernama Nichomachus, seorang sahabat dan dokter keluarga Amyntas II, raja Macedonia, ayah raja Philippos, dan kakek Alexandros yang kemudian dikenal dengan nama Alexander Agung. Meskipun telah lama tinggal di Macedonia, tetapi Nichpmachus  adalah orang asli Yunani. Berbeda dari Plato, yang merupakan keturunan bangsawan, Aristoteles berasal dari keluraga menengah.
Sejak kecil, Aristoteles diasuh dan dididik oleh ayahnya sendiri dalam bidang kedokteran. Ayahnya berharap jika besar nanti, Aristoteles dapat menggantikan ayahnya sebagai dokter keluarga raja Macedonia. Namun, harapan ayahnya tidak terwujud, karena sebelum Aristoteles berhasil menamatkan pelajarannya, ayahnya telah meninggal dunia. Meskipun begitu, sanga ayah telah berhasil mewariskan minat yang besar terhadap biologi kepada anaknya yang tampaknya terhadap karyanya di kemudian hari.
Mengenai kisah masa muda Aristoteles, sekurang-kurangnya terdapat dua versi yang saling berbeda satu dengan lainnya. Menurut para pengagumnya, ketika Aristoteles masih berusah sangat muda, yaitu tujuh tahun, ia berangkat ke Athena dan menjadi murid Plato. Menurut mereka, Aristoteles menjadi murid kesayangan Plato selam dua puluh tahun. Mereka yang mengagumi Aristoteles itu tidak pernah mengatakan bahwa dia sangat sembrono dan serampangan.[4] Sedangkan menurut versi lain dikatakan bahwa sepeninggal ayahnya, Aristoteles yang masih muda itu hidup berfoya-foya dan menghambur-hamburkan harta warisan orang tuanya. Ketika harta orang tuanya telah habis dan lenyap, dia mendaftarkan diri sebagai tentara untuk menyambung hidupnya agar tidak mati kelaparan. Menurut versi ini, sesudah mendapat bekal dan modal yang cukup, Aristoteles kemudian kembali ke kota kelahirannya di Stageira dan salama beberapa tahun di sana ia dikenal sebagai seorang dokter muda yang mencoba mempraktikkan segala ilmunya yang ia peroleh dari ayahnya. Pada usia 30 tahun, ia meninggalkan Stageira dan berangkat menuju Athena, lalu mendaftarkan diri menjadi murid Plato. Jika versi ini benar, berarti Aristoteles hanya belajar di Akademia Plato selama delapan tahun, dan bukan 20 tahun. Namun, dalam beberapa rujukan cenderung mendukung pendapat pertama, bahwa Aristoteles belajar di Athena selama 20 tahun,[5] dan bukan delapan tahun seperti pada pendapat kedua. Selama belajar di Akademia Plato, Aristoteles mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti Matematika, Politik, Etika dan berbagai ilmu pengetahuan lain. Selain itu, ia mempunyai hobi mengumpulkan buku sehingga dalam waktu yang relatif singkat, rumahnya telah menjadi penuh buku, sehingga menyerupai perpustakaan. Tidak heran jika Si maha guru Plato, menyebut rumah Aritoteles sebagai “rumah si tukang baca”.
Aristoteles merupakan salah satu murid Plato yang sangat cepat dikenal karena dia tidak mau sekedar bernaung dibawah keagungan sang guru. Itu pula sebabnya dia dikenal sebagai murid “tukang kecam” dan senang mendebat sang guru yang banyak dihormati oleh banyak muridnya yang lain, kendati kecamannya sering kali tidak relevan, dan menunjukkan ketakfahamannya terhadap ajaran Plato. Namun, jika ditanya mengapa dia mengecam Plato, dia akan menjawab : “Amicus Plato, sed magis amica veritas” yang berarti “Plato kukasihi, tapi aku lebih mengasihi kebenaran.” Oleh karena itu, sebagian pakar berpendapat bahwa hubungan Aristoteles dan Plato sesungguhnya telah retak sejak jauh sebelum menjelang kematian Plato. Oleh sebab itu, Plato tidak menunjuk Aritoteles untuk menjadi penggantinya dalam memimpin Akademia, melainkan menunjuk Speusippos. Hal itu tentu sangat mengecewakan Aristoteles.
Plato meninggal pada 347 SM, dan pada tahun itu juga Aristoteles bersama dengan teman sekelasnya bernama Xenokrates meninggalkan Athena. Mereka berangkat menuju ke pantai Asia Kecil, pertama-tama tinggal di Atarneus, lalu pindah ke Assos kemudian tinggal di Mitylene. Penguasa Atarneus saat itu adalah Hermeias yang adalah alumnus Akademia Plato. Tentu kedatangan Aristoteles dan Xenakrates dismbut gembira oleh Hermeias, bahkan meminta mereka untuk membantu mengajar di sekolah yang telah didirikan oleh Erastos dan Koriskos, dua murid yang dikirim Plato dari Akademia atas permintaan Hermeias. Hubungan mereka sangat akrab, bahkan akhirnya Aristoteles menikah dengan Pythias, yang merupakan anak angkat dan kemenakan Hermeias sendiri. Sepasang insan itu hidup bahagia. Namun, setahun kemuadian yaitu tahun 343 SM negara yang dikuasai Hermeias ditaklukkan oleh tentara Persia dan Hermeias dibawa ke Persia dan dibunuh disana. Akhirnya Aristoteles dan keluarganya menyingkir ke daerah-daerah sekitar dan menetap beberapa waktu di Mitylere atas undangan Theophrastus, sahabatnya semenjak mereka belajar di Akademia Plato.
Di tahun 342 SM Aristoteles menerima undangan khusus dari Philippos, raja Macedonia, agar dia bersedia mendidik putra mahkotanya, Alexandros atau Alexander. Undangan itu dipenuhi. Dia mendidik Alexandros selama dua tahun, dan berhasil mendidik calon pemimpin yang terampil, meski sebelumnya Alexandros dikenal sebagai seorang remaja yang serampangan, mudah tersinggung, mudah marah, dan berbagai perangai buruk lainnya.  Alexndros juga terkesan dengan pendidikan yang diberikan oleh Aristoteles, sehingga meskipun telah  dilantik menjadi pejabata raja pada 340, Alexandros tetap menghoramti Aristoteles sebagaiman menghormati ayahnya sendiri.
Tahun 336 SM Philippos wafat dan digantikan oleh putra mahkota yang sudah dipersiapkan, yaitu Alexadros. Ia menaklukkan Persia dan berbagai tempat lainnya, yang di kemudian hari ternyata merupakan penaklukan dunia. Di saat Alexander berkuasa, Aristoteles kembali ke Athena. Ia kemudian mendirikan sekolah sendiri di Athena, yaitu di lapangan senam yang merupakan bagian dari halaman Kuil Dewa Apollo Lykeios (Dewa Pelindung terhadap serigala). Karena terletak di halam Kuil Lykeios, maka sekolah itu dinamakan Lykeion yang dalam bahasa Latin disebut Lyceum. Sekolah itu kemudian menjadi populer mengalahkan popularitas sekolah Isocrates yang selama ini telah berhasil mendidik para pemimpin Athena, dan berada di urutan kedua setelah Akademia Plato yang saat itu dipimpin oleh Xenakrates yang menggantikan Speusippos.
Aristoteles jatuh sakit dan meninggal dunia pada 322 SM, yang kemungkinan disebabkan oleh pekerjaannya yang tak mengenal batas. Saat meninggal dunia, ia berumum sekitar enam puluh tahun.

C.    Karyanya
Menurut catatan sejarah, Plato dan Aristoteles adalah guru dan murid yang merupakan dua tokoh besar dalam sejarah, yang telah berhasil membentuk dan meletakkan dasar yang paling kokoh bagi pembangunan kebudayaan dan peradaban Barat modern. Di sisi lain, meskipun di sana sini terdapat perbedaan—bahkan pertentangan—antara kedua tokoh guru dan murid itu, tetapi keduanya pantas dinobatkan menjadi pahlawan dunia dalam bidang ilmu pengetahuan yang melepaskan dan membebaskan manusia dari belenggu ketaktahuan agara manusia tahu bahwa dia tahu jika mau tahu. Justin D. Kaptain menulis tentang hal itu sebagai berikut.
To many, Plato represents the lyrical, soaring imagination, while Aristotle represents investigation, prosaic and eartbound. Plato seems inspired and inspiring, while Aristotle seems tied to inflexible system and unrelenting logic. One is a reformer, a prophet, and an artist, the other a comlier, an observer, and an organizer. Plato seems to represent the highest nobility of thought and aspiration; Aritotle seems content to accept and work within the day-to-day limitations of human behaviour ...[6]
(Bagi banyak orang, Plato menunjukkan seorang yang antusias, dengan imajinasi yang begitu membumbung tinggi, sementara Aristoteles melambangkan penelitian, menjemukan, dan terikat pada bumi. Plato tampak bersembangat dan sanggup membangkitkan semanat, sedangkan Aristoteles tampak terikat pada suatu sistem yang tidak luwes dan logika yang ruwet dan kaku. Yang satu adalah seorang pembaharu, nabi, dan artis, yang lain adalah seorang penyusun, pengamat, danorganisator. Plato tampak melukiskan kemuliaan tertinggi dari pikiran dan aspirasi; sementara Aristoteles kelihatan puas menerima dan bekerja dalam batasan-batasan hari-ke-hari dari perilaku manusia ...)
Salah satu karya Aristoteles yang paling menonjol adalah penelitian ilmiah. Ia melakukan penelitian bidang zoologi, biologi, dan botani ketika ia mernatau ke sekitar pantai Asia Kecil dengan menggunakan segala fasilitas yang disediakan oleh Hermeias bersama dengan Theophrastus. Selain itu, Aristoteles juga melakukan penelitian khusus terhadap konstitusi dan sistem politik dari 158 negara kota (polis) di Yunani.Analisanya terhadap penelitiannya itu merupakan karya besar di bidang politik dan telah meletakkan dasar yang teguh bagi ilmu politik yang disebut Perbanding Pemerintahan dan Politik.
Para cendekiawan di zaman purba mengatakan bahwa karya tulis Aristoteles lebih dari 400 buku. Namun, sebagian besar telah musnah. Dari sekitar 50 buku yang masih ada, hanya sekitar separuhnya yang benar-benar merupakan hasil karya Aristoteles sendiri. Karya Plato begitu indah dan menarik, sementra karya Aristoteles kurang begitu indah dan kurang menarik. Will Ross Durant membagi karya Aristoteles ke dalam tiga bidang utama [7]yaitu :
1.      Karya tulis yang bersifat populer.
2.      Karya tulis yang berupa kumpulan data ilmiah.
3.      Bahan kuliah.

Selain itu, ada yang membagi karya tulis Aristoteles menjadi lima kelopok [8] yaitu :
1.      Kelompok Organon yang terdiri atas :
a.      Categoriae (kategori).
b.      De Interpretatione ( tentang Penafsira).
c.       Analytica Priora (Analitika yang pertama),
d.      Analytica Posteriora (Analitika yang terakhir).
e.       Topica (Topik).
f.        De Sophisticis Elenchis (Cara berdebat kaum sufi).
2.      Kelompok  kedua terdiri atas :
a.       Physica (Fisika) terdiri atas delapan buku.
b.      Methapysica (Metafisika) terdiri atas 14 buku.
c.       De Caelo (Dunia atas / langit) terdiri atas empat buku.
d.      De Generatione er Corruptione (Penjadian dan Pembiasaan) terdiri atas dua buku.
e.       Meteorologica (Meteorologi) terdiri atas empat buku.
3.      Kelompok Biologi dan Psikologi, terdiri atas :
a.       De Partibus Animalium (Bagian Binatang).
b.      De Motu Animalium (Tentang Gerak Binatang)
c.       De Generatione Animalium (Tentang Kejadian Binatang).
d.      De Anima (Tentang jiwa).
e.       Parva Naturalia ( Sedikit tentang tata hidup kodrati), yang merupakan kumpulan dari beberapa monografi tentang biopsikologi.
4.      Kelmpok empat terdiri atas :
a.       Ethica Nicomachea, terdiri atas sepuluh buku.
b.      Ethica Eudemia, terdiri atas tujh buku.
c.       Politica (Politik), delapan buku.
5.      Kelompok lima terdiri atas :
a.       Rhetorica (retorika)
b.      Poetica (poetika).



D.    Filsafat Logika
Mungkin sekali, yang paling penting dari sekian banyak hasil karyanya adalah penyelidikannya tentang teori logika, dan Aristoteles dipandang selaku pendiri cabang filosofi yang penting ini. Hal ini sebetulnya berkat sifat logis dari cara berfikir Aristoteles yang memungkinkannya mampu mempersembahkan begitu banyak bidang ilmu. Dia punya bakat mengatur cara berfikir, merumuskan kaidah dan jenis-jenisnya yang kemudian jadi dasar berpikir di banyak bidang ilmu pengetahuan. Aristoteles tak pernah kejeblos ke dalam rawa-rawa mistik ataupun ekstrim. Aristoteles senantiasa bersiteguh mengutarakan pendapat pendapat praktis. Sudah barang tentu, manusia namanya, dia juga berbuat kesalahan. Tetapi, sungguh menakjubkan sekali betapa sedikitnya kesalahan yang dia bikin dalam ensiklopedi yang begitu luas.
Dasar ajaran Aristoteles tentang logika berdasrkan atas ajaran tentang jalan pikiran (ratio-cinium) dan bukti. Jalan pikiran itu baginya berupa syllogismus (silogisme), yaitu putusan dua yang tersusun sedmikian rupa sehingga melahirkan putusan yang ketiga. Untuk dapat menggunakan syllogismus dengan benar, seseorang harus tahu bena sifat putusan itu.[9]
Silogisme Aristoteles, sebuah perjalanan logika deduktif yang amat panjang sejak 2500 tahun yang silam, sejak Aristoteles dilahirkan  di Stagira 384 SM. Namun, logika ini akan tetap aktual dalam perjalanan manusia mencari makna diri di alam semesta ini, bahkan sesungguhnya silogisme Aristoteleslah yang mendasari prinsip-prinsip Antropik Kosmos (Cosmic Anthropic Principles). Konsep silogisme Aristoteles adalah konsep dasar tatkala kesadaran manusia harus menapak awal melihat fenomena alam semesta dan mulai menganalisa keajaiban kehidupan bumi, kemudian manusia menyadari bahwa dirinya sendiri akan menjadi tiada seperti spesies makhluk hidup lainnya, mortal.
Silogisme Aristoteles lebih mudah difahami dari persamaan matematika berikut :[10]
jika A = B dan B = C maka A = C 
A
B
C
     
Jika dikaitkan dengan silogisme Aristoteles diatas, maka inilah pertanyaan-pertanyaan abadi tentang kesadaran manusia  :
  1. ika kita harus berkata bahwa kesadaran manusia itu lahir dari kegelapan goa goa awal peradaban manusia, maka adalah logis jika suatu hari kelak kita akan lahir kembali dalam kondisi yang sama, kegelapan di goa awal peradaban. Dalam bentuk silogisme Aristoteles A = B = C.
  2. 100.000 tahun lalu, dimana kesadaran semesta itu berada? Apakah masih berevolusi dalam diri dalam spesies Homo Erectus?
  3. 10.000 tahun lalu, peradaban manusia lantas muncul dan sampai saat ini, apakah yang sebenarnya terjadi pada 200 milyar sel syaraf spesies manusia? Angka 10,000 tahun adalah tidak sebanding dengan 3 juta tahun atau 4.5 milyar tahun yang silam untuk menyatakan bahwa kesadaran manusia itu baru memulai evolusi. Angka 10,000 tahun lebih tepat kita lihat sebagai fenomena revolusi kesadaran semesta dari munculnya kesadaran manusia.
  4. Sederhananya bandingkan 200 milyar sel syaraf manusia itu dengan sebuah transformator listrik. Jika input transformator adalah fungsi tegangan/arus/frekwensi  listrik A maka outputnya adalah fungsi tegangan/arus/frekwensi B. Sedangkan input dari 200 milyar sel-syaraf kita adalah suatu 'Dimensi Kesadaran Semesta' yang memang kekal eksistensinya melihat 'Masa Depan Semesta' sebagai ouputnya. Fungsi kesadaran manusia adalah untuk melihat Masa Depan Semesta sambil 'bermain-main' di Bumi ini, tetapi bukan untuk mengeksekusi Semesta Kosmos sejauh 13.7 milyar tahun cahaya.  
  5. Kita bertemu di bumi berbangsa-bangsa berbeda bahasa adalah untuk memahami bahwa Bumi tinggal Satu untuk kelak menghadap Sang Pencipta. Pada akhirnya manusia akan faham bahwa Logika Hari Kiamat adalah realitas indahnya Keabadian Kesadaran Semesta, betapapun perbedaan kita dalam bermimpi tentang makna keabadian.
Fungsi Kesadaran Semesta >>
200 Milyar sel-syaraf manusia
>> Fungsi Masa Depan Semesta

Fungsi (V,I,f,A)  >>
transformator listrik
>> Fungsi (V,I,f,B)
Tatkala kesadaran manusia harus muncul dan tumbuh, maka mulailah kita mencari asal muasal kesadaran itu muncul. Kesadaran kita akan selalu mengarah kepada penyederhanan dan penyederhanaan dari kompleksitas observasi seorang manusia seperti Aristoteles. Solusinya adalah membuat sistematika yang logis dengan cara membuat klasifikasi, inilah cara berfikir logis sang jenius Aristoteles tanpa mikroskop dan tanpa teleskop disampingnya. Kita membayangkan pribadi pribadi  pengamat kosmos seperti Plato, Socrates, atau Aristoteles yang harus berfikir tentang alam semesta tanpa penemuan dasar seperti mikroskop, teleskop, atau mesin cetak Gutenberg, maka hasilnya berupa istilah klasifikasi orisinal mereka  seperti  analytica, dialectica, physica, matematica , scientifica, etica, politica, medica adalah penemuan luar biasa. Lucunya saat kini kita seolah kembali ke cara berfikir ala Aristoteles dimana pada saat ini fitrah manusia millennium mengalami ‘kebuntuan kosmologi’ dalam menyimpulkan angka 13,700,000,000 tahun cahaya. Lantas apa maknanya silogisme Aristoteles 2500 tahun silam dan prinsip antropika millennium dalam memandang kosmos. Jangan jangan Aristoteles-lah yang benar bahwa bumi adalah pusat alam semesta, dan paling tidak kesadaran manusia di bumi adalah satu satunya kesadaran yang pernah ditemukan di alam semesta, jadi barangkali bumi-lah pusat kesadaran kosmos semesta. Karena Sang Pengamat Kosmos cuma Satu adanya di Bumi, Sang Manusia.  Quo Vadis Aristoteles.
Oleh karena itu, logika dapat dimengerti sebagai kerangka atau peralatan teknis yang diperlukan manusia agar penalarannya berjalan dengan tepat. Dasar logika Aristoteles adalah uraian keputusan yang kita temukan dalam bahasa (“the analysis of judgement as found and expressed in human language”).[11] Dalam bahasa moderen, logika Aristoteles dapat dikatakan menggabungkan unsur empiris-induktif dan rasional-deduktif.
E.     Filsafat Pengetahuan
Filsafat tentang logika diatas menjadi dasar filsafat pengetahuan. Selain berjasa dalam membangun logika, Aristoteles juga berjasa dalam usahanya untuk menggambarkan tahbapan-tahapan kemajuan pengetahuan manusia. Menurutnya, pengetahuan dimulai dengan tahapan inderawi yang selalu partikular. Tahapan pengetahuan selanjutnya adalah abstraksi menuju pengetahuan akal budi yangbercirikan universal.
Dalam hal ini, filsafat pengetahuan Aristoteles merupakan kebalikan dari filsafat pengetahuan Plato. Dasar filsafat pegetahuan Aristoteles bukanlah intuisi, tetapi abstraksi. Oleh karena itu, benar bila dikatakan bahwa Aristoteles tidak selalu sepaham dengan gurunya sendiri, Plato, bahkan mungkin bertentangan.

F.     Filsafat Metafisika
Menurut Aristoteles, Nous atau akal budi merupakan bagian yang paling mulia dalam diri manusia. Oleh karena itu, dalam ajaran Aristoteles, unsur-unsur filsafat ke-Tuhanan bertitik pangkal dariuraian kemampuan akal budi manusia itu. Dalam hal ini Aristoteles mencari dasar uraiannya dalam pengamatan inderawi di dunia yang berubah-ubah. Dia mengamati gerak, dan sampai kepada kesimpulan bahwa ada penggerak. Ia kemudian juga menyimpulkan bahwa ada “yang menggerakkan tanpa digerakkan sendiri”. Jalan pikiran Aristoteles itu diterapkan oleh Thomas Aquinas dalam “panca marga” (quinque viae) guna menyatakan adanya Tuhan berdasarkan pengalaman dan penalaran filosofis.

G.    Pengaruh Pemikirannya
Pengaruh Aristoteles terhadap cara berpikir Barat di belakang hari sungguh mendalam. Di zaman dulu dan zaman pertengahan, hasil karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa bahasa Latin, Arab, Itali, Perancis, Ibrani, Jerman dan Inggris. Penulis-penulis Yunani yang muncul kemudian, begitu pula filosof-filosof Byzantium mempelajari karyanya dan menaruh kekaguman yang sangat. Perlu juga dicatat, buah pikirannya banyak membawa pengaruh pada filosof Islam dan berabad- abad lamanya tulisan-tulisannya mendominir cara berpikir Barat. Ibnu Rusyd (Averroes), mungkin filosof Arab yang paling terkemuka, mencoba merumuskan suatu perpaduan antara Teologi Islam dengan rasionalisme Aristoteles. Maimomides, pemikir paling terkemuka Yahudi abad tengah berhasil mencapai sintesa dengan Yudaisme. Tetapi, hasil kerja paling gemilang dari perbuatan macam itu adalah Summa Theologia-nya cendikiawan Nasrani St. Thomas Aquinas. Di luar daftar ini masih sangat banyak kaum cerdik pandai abad tengah yang terpengaruh demikian dalamnya oleh pikiran Aristoteles.
Kekaguman orang kepada Aristoteles menjadi begitu melonjak di akhir abad tengah tatkala keadaan sudah mengarah pada penyembahan berhala. Dalam keadaan itu tulisan-tulisan Aristoteles lebih merupakan semacam bungkus intelek yang jitu tempat mempertanyakan problem lebih lanjut daripada semacam lampu penerang jalan. Aristoteles yang gemar meneliti dan memikirkan ihwal dirinya tak salah lagi kurang sepakat dengan sanjungan membabi buta dari generasi berikutnya terhadap tulisan-tulisannya. Beberapa ide Aristoteles kelihatan reaksioner diukur dengan kacamata sekarang. Misalnya, dia mendukung perbudakan karena dianggapnya sejalan dengan garis hukum alam. Dia percaya kerendahan martabat wanita ketimbang laki-laki. Kedua ide ini--tentu saja mencerminkan pandangan yang berlaku pada zaman itu. Tetapi, tak kurang pula banyaknya buah pikiran Aristoteles yang mencengangkan modernnya, misalnya kalimatnya, “Kemiskinan adalah bapaknya revolusi dan kejahatan,” dan kalimat “Barangsiapa yang sudah merenungi dalam-dalam seni memerintah manusia pasti yakin bahwa nasib sesuatu emperium tergantung pada pendidikan anak-anak mudanya.” (Tentu saja, waktu itu belum ada sekolah seperti yang kita kenal sekarang).
Di abad-abad belakangan, pengaruh dan reputasi Aristoteles telah merosot bukan alang kepalang. Namun, ada yang berpikir bahwa pengaruhnya sudah begitu menyerap dan berlangsung begitu lama sehingga saya menyesal tidak bisa menempatkannya lebih tinggi dari tingkat urutan seperti sekarang ini. Tingkat urutannya sekarang ini terutama akibat amat pentingnya ketiga belas orang yang mendahuluinya dalam urutan.

H.    Kesimpulan
Dari uraian pada paragraf-paragraf diatas, dapat disimpulkan bahwa Aristoteles mempunyai dasar-dasar ajaran tentang filsafat yang kemudian banyak berkembang di Barat. Meskipun demikian, ada juga cendekiawan muslim yang terpengaruh oleh pemikiran filsafatnya.
Dalam filsafatnya, Aristoteles bertitik tolak dari apa yang dia amati dalam hidup manusia dan hidup masyarakat. Dari praksis nyata dan data-data, dia kemudian menyimpulkan menjadi suatu theoria yang meliputi segala data pengamatan itu.
Karya Aristoteles yang cukup banyak mencakup berbagai cabang ilmu pengetahuan. Selain mengajarkan tentang filsafat logika, filsafat pengetahuan, dan filsafat metafisika, Aristoteles juga mengajarkan filsafat etika, filsafat negara, filsafat manusia dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa Aristoteles merupakan tokoh yang  luas ilmu pengetahuannya dan merupakan ilmuwan yang pantas mendapatkan acungan jempol.
Wallahu a’lam bi al-shawab.  
DAFTAR PUSTAKA

Bambrough, Renford, Ed (1963), The Philosophy of Aristotle, New York : New American Library.
Brill’s., E.J.(1993), First Encyclopaedia of  Islam 1913-1936, Vol. I, Leiden : E.J. Brill.
Durant, Will Ross, The Story of Philosphy, New York : Pocket Books, 1953.
Hart, Michael H,  Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, Terjemahan Mahbub Djunaidi, Jakarta : Dunia Pustaka Jaya, 1983.
Rapar, J.H., Filsafat Politik Aristoteles, Jakarta : RajaGrafindo Persada, 1993.
Safra, Jacop E.,  The New Encyclopaedia Britannica, Vol. I, Edisi ke 15, Chicago : Encyclopaedia Britannica Inc, 2005.
Kaptain, Justin D., ed., The Pocket Aristotle, New York : Pocket Books, 1958
Poedjawijatna, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, Jakarta : Rineka Cipta, 2005.
Sutrisno,  Mudji dan Hardiman, Budi, Ed., Para Filsuf Penentu Gerak Zaman,  Yogyakarta : Kanisius, 1992.
Dari Situs Internet :
http://www.geocities.com/memorigin/Aristoteles.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Aristoteles


[1] Michael H. Hart, Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, Terjemahan Mahbub Djunaidi, (Jakarta : Dunia Pustaka Jaya, 1983), hal. 101.
[2] E.J. Brill’s. First Encyclopaedia of  Islam 1913-1936, Vol. I, (Leiden : E.J. Brill, 1993), hal. 432.
[3] Jacop E. Safra, The New Encyclopaedia Britannica, Vol. I, Edisi ke 15, (Chicago : Encyclopaedia Britannica Inc, 2005), hal. 556.
[4] J.H. Rapar, Filsafat Politik Aristoteles, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 1993), hal.1-2.
[5] Jacop E. Safra, The New Encyclopaedia Britannica, Vol. I, Edisi ke 15, (Chicago : Encyclopaedia Britannica Inc, 2005), hal. 556.
[6] Justin D. Kaptain, ed., The Pocket Aristotle, (New York : Pocket Books, 1958), hal. xv. Lihat pula  J.H. Rapar, Filsafat Politik Aristoteles, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 1993), hal. 7-8.
[7] Will Ross Durant, The Story of Philosphy, (New York : Pocket Books, 1953), hal. 35.
[8] Renford Bambrough, Ed. The Philosophy of Aristotle, (New York : New American Library, 1963), hal. 22.
[9] Poedjawijatna, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, (Jakarta : Rineka Cipta, 2005), hal. 36-37.
[10] Sumber: http://www.geocities.com/memorigin/Aristoteles.htm
[11] Mudji Sutrisno dan Budi Hardiman, Ed., Para Filsuf Penentu Gerak Zaman,  (Yogyakarta : Kanisius, 1992), hal. 20-21.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar