Senin, 25 April 2011

Hasan Al- Banna

A.    Pendahuluan
  1. Latar Belakang
Hassan Al-Banna (1906-1949) adalah seorang tokoh yang fenomenal. Karena banyak pakar-pakar dalam studi islam kontemporer menilai dirinya sebagai pelopor dari gerakan-gerakan islam modern. Hal ini dilihat dari pergerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikannya, pemikiran-pemikiran dan sistem pengkaderan dari gerakan ini banyak diadopsi oleh berbagai organisasi dan gerakan-gerakan dan organisasi Islam kontemporer misalnya parta FIS di Aljazair, Partai Keadilan di Indonesia, IIIT di Amerika, MSA ( Muslim Student Association) di berbagai perguruan tinggi di Amerika, PAS di Malaysia, Partai Refah di Turki, demikian pula dengan cabang-cabang Ikhwanul Muslimin di negara lain, seperti di Yordania, dan di Sudan. Kebanyakan dari gerakan-gerakan tersebut menunjukkan eksistensi pada wilayah politik kenegaraan, hal ini tidak bisa dilepaskan dari konsep pemikiran gerakan tersebut (Ikhwan) dimana konsep ini sebagian besarnya dicanangkan oleh pendiri gerakan tersebut (Hassan Al-Banna), meskipun dalam perkembangannya terjadi beberapa perubahan dalam pemikiran gerakan ini. Gerakan Ikhwanul Muslimin ini sendiri diakui telah berhasil membendung arus sekularisme di Mesir, meskipun pada akhirnya gerakan ini dihancurkan pemerintah Mesir pada tahun 1960-an namun ketika gerakan ini dihancurkan, justru memberi kesempatan bagi para tokohnya yang keluar dari negara Mesir untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran ini di negara tempat mereka bernaung, dan hasilnya dapat dilihat dari kesamaan-kesamaan pemikiran yang tercermin pada gerakan-gerakan politik yang telah disebut sebelumnya, pemikiran yang menyatukan antara konsep islam dan negara (din wa daulah).
Selanjutnya, data sejarah menyebutkan bahwa Hasan al-Banna juga termasuk salah seorang pengikut tasawuf Syadzaliah, dan menjalani kehidupan sebagai zahid dan beruzlah. Hal ini antara lain terlihat dari kehidupannya yang amat sederhana baik dalam hal pakaian maupun makanan.
Dari latar pendidikan tersebut tidaklah mengherankan jika Hasan al-Banna kemudian tampil sebagai sosok da’i, pejuang, propagandis dan politikus yang gigih dalam memperjuangkan cita-citanya. Perpaduan antara semangat Islam dan bakat memimpin yang dimilikinya itu tampak jelas ketika ia masih muda belia. Ketika masa remaja, misalnya, ia berhasil mengkoordinir organisasi di kalangan pelajar. Sumber-sumber sejarah menyebutkan bahwa Hasan al-Banna memang memiliki kecenderungan berserikat dan mengorganisasi massa. Di sekolah menengah saja ia sudah terpilih sebagai ketua Jam’iyatul Adabiyah, sebuah perkumpulan karang mengarang. Bersama pelajar lainnya, ia membentuk Al-Jam’iyatul Hasafiyatul Khairiyah, semacam organisasi pembaharuan. Ia kemudian menjadi anggota Makarimul Akhlak Islamiyah, satu-satunya organisasi sejenis di Kairo. Sebagaimana diketahuai bahwa tema-tema sentral yang menjadi kerangka pemikiran Ikhwan al-Muslimin untuk melakukan gerakannya adalah berkaitan dengan masalah moral masyarakat, ekonomi, fungsionalisasi agama yang dinilainya sudah kurang mampu membendung pengaruh sekuler. Selain itu dasar yang paling penting yang dijadikan doktrin Ikhwan al-Muslimin dalam melancarkan pembaharuannya sebagaimana dikemukakan Ali Gharizah ada lima, yaitu Allah tujuan kami, Rasulullah  tauladan kami, Al-Qur’an undang-undang dasar hidup kami, jihad adalah jalan perjuangan kami, dan syahid di jalan Allah adalah cita-cita luhur kami
  1. Rumusan Masalah
Guna melancarkan dalam penulisan atau agar tidak melebarnya pokok pembahasan maka kami dari penulis membuat rumusan masalah adapun rumusan masalah itu adalah :
a.       bagaimana riwayat Hasan Al-Banna
b.      apa konsep pemikiran Hasan Al-Banna.
  1. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan yakni:
a.       Ingin mengetahui latar belakang atau riwayat hidup Hasan Al-Banna
b.      Ingin mengetahui Pandangan Hasan Al-Banna terhadap pendidikan
c.       Ingin menambah wawasan
d.      Sebagai salah satu pemenuhan tugas pada mata kuliah Pemikiran pendidikan Islam.


B.     Riwayat Hidup Hasan Al-Banna
Hasan al-Banna dilahirkan pada Ahad 25 Sya’ban 1324 (Bertepatan dengan 14 Oktober 1906) di kota Mahmudiyah, sebuah kawasan dekat Iskandariyah. Nama lengkapnya adalah Hasan bin Ahmad bin Abdurrahman al-Banna. Al-Banna berasal dari sebuah keluarga pedesaan kelas menengah. Keluarganya termasuk penduduk “Negeri Seribu Menara” Mesir.
Al-Banna adalah sosok pribadi mulia yang sangat berpengaruh dalam perjalanan sejarah bukan hanya pada bangsa Arab dan Islam, akan tetapi juga pada seluruh dunia hingga Amerika Serikat, Rusia, Afrika, bahkan ke jantung Eropa dan Australia. Al-Banna adalah pendiri dari Jama’ah Ikhwanul Muslimin yang banyak memberikan pengaruh di dunia.[1]
Ayahnya bernama Ahmad, putra bungsu kakeknya yang bernama Abdur Rahman, seorang petani. Ahmad dibesarkan dalam suasana yang jauh dari pertanian. Untuk memenuhi keinginan ibunya, ia masuk ke Pesantren Tahfidzul Qur’an di kampungnya kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Ibrahim Pasha di Iskandariyah. Di tengah masa studi, Ahmad juga bekerja di toko reparasi jam hingga menguasai yang terkait dengan jam. Dari profesi inilah kemudian ayahnya dikenal dengan as-Sa’ati (tukang reparasi jam). Selain itu, Ahmad juga menulis sebuah kitab berjudul al-Fathur Rabbani fi Tartibi Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal al-Syaibani.
Sedangkan ibunda dari Hasan Al-Banna bernama Ummu Sa’d Ibrahim Saqr. Ibundanya adalah tipologi wanita yang cerdas, disiplin, cerdik dan kokoh pendirian. Apabila telah memutuskan sesuatu sulit bagi Ummu Sa’d untuk menarik mundur keputusannya. Ini senada dengan sebuah pepatah yang berbunyi, “Jika layar Berkembang Pantang Biduk Surut ke Pantai.” Perhatiannya pada pendidikan membuatnya juga bertekad untuk menyekolahkan Hasan Al-Banna hingga ke pendidikan tinggi. Ummu Sa’ad memiliki delapan delapan orang anak, yang masing-masing adalah: Hasan Al-Banna, Abdurrahman,[2] Fatimah,[3] Muhammad,[4] Abdul Basith,[5] Zainab,[6] Ahmad Jamaluddin,[7] dan Fauziyah.[8]
Hasan Al-Banna menyelesaikan pendidikan dasarnya di Mahmudiyah. Di tahun ketujuh dalam usianya, lelaki yang selalu meraih rangking pertama dalam semua jenjang sekolahnya ini, menyelesaikan hafalan separuh Al-Qur’an, kemudian menyempurnakan hafalannya di sekolah diniyah Al-Rasyad. Setelah itu, melanjutkan ke sekolah Mu’allimin Awwaliyah[9] di Damanhur, dan menamatkan pendidikan tingginya di Darul Ulum (1923-1927).
Lelaki yang aktif dalam organisasi sosial dan keagamaan ini mempunyai perpustakaan besar. Di dalam perpustakaan ini berisi ribuan kitab dalam berbagai disiplin ilmu dan empat belas majalah berkala yang terbit di Mesir. Al-Muqtathaf, Al-Fath, dan Al-Manar, adalah beberapa majalah yang ada di perpustakaan tersebut. Hingga sekarang, perpustakaan ini masih tetap berdiri, dan dikelola oleh putranya bernama Saiful Islam.
Pada 1927, setelah menamatkan pendidikan tinggi di Darul Ulum, Al-Banna menjadi guru Sekolah Dasar di Ismailiyah selama sembilan belas tahun. Di tahun 1946, ia berpindah ke Kairo, kemudian mengundurkan diri dari jabatan sebagai guru negeri. Setelah itu, al-Banna berkonsentrasi pada surat kabar harian al-Ikhwan al-Muslimun.
Jama’ah Ikhwanul Muslimin (selanjutnya disebut Ikhwan) adalah gerakan besar yang didirikan oleh Al-Banna. Gerakan ini dibentuk pada bulan Dzulqa’dah 1347 H/1928 di kota Ismailiyah. Gerakan ini tumbuh dengan pesat dan tersebar di berbagai kelompok masyarakat. Sebelum mendirikan Ikhwan, Al-Banna juga ikut mendirikan sebuah jama’ah sufi bernama Thariqah Hashafiyah dan Jama’ah Syubban Al-Muslimin. Metode gerakan yang diserukan oleh Ikhwan adalah bertumpu pada tarbiyah (pendidikan) secara bertahap. Tahapan tersebut adalah dengan membentuk pribadi muslim, keluarga muslim, masyarakat muslim, pemerintah muslim, Negara Islam, Khalifah Islam dan akhirnya menjadi Ustadziyatul ‘Alam (kepeloporan dunia).
Pribadi Hasan Al-Banna menarik banyak kalangan. Abul Hasan Ali An-Nadwi, memberikan kesaksian tentang al-Banna: “Pribadi itu telah mengejutkan Mesir, dunia Arab dan dunia Islam dengan gegap gempita dakwah, kaderisasi, serta jihad dengan kekuatannya yang ajaib. Dalam pribadi itu, Allah Swt, telah memadukan antara potensi dan bakat yang sepintas tampak saling bertentangan di mata para psikolog, sejarawan, dan pengamat sosial. Di dalamnya terdapat pemikiran yang brilian, daya nalar yang terang menyala, perasaan yang bergelora, hati yang penuh limpahan berkah, jiwa yang dinamis nan cemerlang, dan lidah yang tajam lagi berkesan. Di situ ada kezuhudan dan kesahajaan, kesungguhan dan ketinggian cita dalam menyebarkan pemikiran dan dakwah, jiwa dinamis yang sarat dengan cita-cita, dan semangat yang senantiasa membara. Di situ juga ada pandangan yang jauh ke depan…”[10]
Ensiklopedia Wikipedia menulis tentang Al-Banna: “Ia memperjuangkan Islam menurut Al-Quran dan Sunnah hingga dibunuh oleh penembak misterius yang oleh banyak kalangan diyakini sebagai penembak 'titipan' pemerintah pada 12 Februari 1949 di Kairo. Kepergian Hassan Al-Banna pun menjadi duka berkepanjangan bagi umat Islam. Ia mewariskan dua karya monumentalnya, yaitu Catatan Harian Dakwah dan Da'i serta Kumpulan Surat-surat. Selain itu Hasan Al-Banna mewariskan semangat dan teladan dakwah bagi seluruh aktivis dakwah saat ini.”[11]

C.  PANDANGAN AL-BANNA TERHADAP PENDIDIKAN
  1. KONSEP PENDIDIKAN HASAN AL-BANNA
Hasan Al-Banna adalah seorang arsitek sebuah perubahan. Bahkan, seolah-olah ia dilahirkan untuk membangun kembali harga diri umat yang sedang runtuh dan melorot. Pembangunan kembali itu diawali dengan mendirikan madrasah terbesar dalam sejarah gerakan dakwah; Madrasah Hasan Al-Banna.
Penyebutan Madrasah Hasan Al-Banna ini disematkan oleh salah satu kader terbaik ikhwanul muslimin, Syaikh Yusuf Qardhawi, sebuah madrasah yang memiliki dua tujuan besar dalam pembangunan umat Islam. Dua tujuan itu ialah ilmiyah dan amaliyah, berilmu dan beramal.
Konsep pendidikan Ikhwan al-Muslimin ditujukan bagi pemecahan berbagai masalah sosial yang dihadapi. Dengan kata lain, Ikhwan Al-Muslimin melihat pendidikan sebagai alat untuk membantu masyarakat dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. Atas dasar konsep tersebut, Ikhwan al-Muslimin mengajukan berbagai permasalahan pendidikan sebagai berikut :
1.      Sistem Pendidikan
Salah satu pemikiran Hasan Al-Banna di bidang pendidikan berkaitan dengan upaya mengintegrasikan sistem pendidikan yang dikotomis antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Melalui upaya ini Ikhwan Al-Muslimin bermaksud memberi nilai agama pada pengetahuan umum, dan memberi makna progresif terhadap pengetahuan dan amaliah agama, sehingga sikap keagamaan tersebut tampil lebih aktual. Dalam hubungan ini Ikhwan Al-Muslimin berusaha memperbaharui makna iman yang telah lapuk oleh peradaban modern, yaitu dengan cara kembali kepada sumber-sumber ajaran yang orisinil. Upaya-upaya tersebut dapat terlihat dari bingkai pendidikan Ikhwan Al-Muslimin yang berorientasi ketuhanan, universal, terpadu, seimbang dan bermuatan keterampilan yang positif dan konstruktif.
Orientasi ketuhanan dalam pendidikan amat penting, karena aspek ketuhanan atau keimanan merupakan hal yang terpenting dalam pendidikan Islam. Aspek keimanan ini sangat mendasar pengaruhnya, terutama jika dihubungkan dengan tujuan pertama pendidikan Islam, yaitu mewujudkan manusia-manusia yang memiliki keimanan yang kokoh. Yaitu iman yang tidak hanya terbatas pada pengertian dan perkataan, tetapi juga harus diimplementasikan dengan praktek-praktek ibadah dan ritualitas agama yang menumbuhkan sikap positif untuk kehidupan pribadi dan masyarakat.
Selanjutnya yang dimaksud dengan universal dan terpadu adalah bahwa pendidikan Islam tidak hanya mementingkan satu segi tertentu saja, dan tidak pula mengharuskan adanya spesialisasi yang sempit melainkan mencakup semua aspek secara terpadu dan seimbang. Pendidikan Islam tidak hanya mementingkan ruhani dan moral seperti yang terdapat pada paham kaum sufi, dan tidak pula hanya menekankan pendidikan rasio seperti yang didambakan kaum filosofis, dan tidak juga hanya mementingkan latihan keterampilan dan disiplin sebagaimana pendidikan dalam kemiliteran, tetapi pendidikan Islam itu mementingkan sesama dimensi secara seimbang.
Ciri universalisme dan terpadu dalam pendidikan Islam juga harus mementingkan aspek rohani. Dalam hubungan ini Muhammad Quthb mengatakan bahwa ruh adalah suatu kekuatan yang tidak terlihat dan tidak kita ketahui materi dan cara kerjanya. Ia adalah alat untuk mengadakan kontak dengan Allah sesuai dengan fitrahnya, yaitu alat yang membawa manusia kepada Tuhan. Untuk mencapai tujuan penyatuan ruhaniah dengan Tuhan, manusia dianjurkan agar menciptakan hubungan yang terus menerus antara ruh dengan Allah pada saat dan kegiatan bagaimanapun, baik pada saat berpikir, merasa maupun berbuat.
Selain membina aspek ruhani, pendidikan Islam juga harus membina intelektualitas atau cara berpikir yang benar. Hal ini dinilai penting oleh Ikhwan Al-Muslimin, mengingat eksistensi manusia terdiri dari unsur ruhani, akal dan jasmani. Ketiga unsur tersebut harus terpadu dan tidak dapat dipisah-pisahkan.
Khusus mengenai akal, Ikhwan Al-Muslimin menilai bahwa akal merupakan potensi atau kekuatan besar yang diberikan Allah kepada manusia. Islam sangat menghargai akal dan menempatkannya sebagai salah satu dasar dari adanya pembebanan hukum, dan sebagai tolak ukur yang membedakan antara baik dan buruk. Dalam kaitan ini Ikhwan Al-Muslimin manilai bahwa berpikir dengan menggunakan akal merupakan kegiatan mental yang bernilai ibadah. Sedangkan mencari bukti-bukti atas sesuatu merupakan keharusan, dan belajar merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslimin. Dengan demikian, tidaklah aneh jika pendidikan Islam sama sekali tidak dipisahkan dari pendidikan keimanan atau pendidikan jiwa. Hal ini dapat dimengerti, karena sikap seseorang merupakan cermin dari pemikiran dan pandangannya terhadap dunia, kehidupan dan manusia itu sendiri.
Sejalan dengan pemikiran tersebut di atas, Ikhwan Al-Muslimin juga mementingkan pendidikan jasmani. Wujud nyata dari pendidikan jasmani ini menurut Yusuf Al-Qardhawi adalah mengambil bentuk pemeliharaan kebersihan, pemeliharaan kesehatan secara preventif dan pengobatan. Untuk itu, kepada setiap anggota Ikhwan Al-Muslimin ditekankan agar membiasakan hidup bersih, tidak merokok dan mengurangi minum kopi dan teh, karena hal itu akan mengganggu kesehatan. Pendidikan jasmani ini ditujukan :
(1) Agar setiap muslim berbadan sehat dan berupaya memelihara kesehatan fisik dan mental
(2) Agar setiap muslim dapat beraktivitas dengan lincah dan positif,
(3) Agar setiap muslim mempunyai daya tahan tubuh yang senantiasa prima.
Sejalan dengan cita-cita tersebut di atas, Ikhwan Al-Muslimin juga mementingkan pendidikan sosial merupakan salah satu misi perjuangannya. Dalam kaitan ini, Yusuf Al-Qardhawi mengatakan bahwa beribadah merupakan konsekuensi hubungan dengan Allah, sedangkan kepedulian sosial merupakan konsekuensi hubungan antara sesama manusia, dan perjuangan merupakan pengejawantahan hubungan dengan musuh-musuh agama.
2.      Karakter Pendidikan Islam
Sejalan dengan uraian tersebut di atas, Ikhwan Al-Muslimin selanjutnya membahas karakter pendidikan. menurutnya, bahwa karakter pendidikan Islam tidak hanya terletak pada optimalisasi pengembangan potensi dan sumber daya manusia, tetapi harus pula didasarkan pada kejernihan iman dan niat yang positif, karena tanpa itu semua penerapan sains dari hasil karya manusia hanya akan menimbulkan bumerang, bahkan dapat mendatangkan bahaya kehidupan dari yang tidak diperkirakan sebelumnya.
Untuk mewujudkan karakter pendidikan demikian, maka perlu didasarkan pada rasa persaudaraan yang kokoh, keterpautan dan kepedulian dengan sesama anggota, bahkan kalau perlu siap menghadapai penderitaan. Dalam kaitan ini, sejarah mencatat beberapa tokoh Ikhwan Al-Muslimin yang daging dan darahnya dimakan dan diminum stroom, tetapi mereka tidak mau menyatakan sesuatu yang dapat menyakiti dan membahayakan saudara-saudaranya sampai mati sekalipun. Demi memperjuangkan sikapnya itu, maka tidak sedikit pemuda-pemuda Ikhwan Al-Muslimin yang harus menanggung siksaan, hanya karena tidak mau mengakui atau menunjukkan orang-orang yang diincar oleh penguasa zalim.
3.      Lembaga Pendidikan
Selain berbicara tentang sistem dan karakteristik pendidikan, Ikhwan Al-Muslimin juga berbicara tentang lembaga pendidikan. dalam hubungan ini, Ikhwan Al-Muslimin mengajukan lembaga pendidikan formal seperti sekolah dan lembaga pendidikan non formal atau luar sekolah.
Salah satu upaya untuk menangani pendidikan sekolah, Ikhwan Al-Muslimin membentuk komite khusus di bidang pendidikan di kantor pusat, dan panitia yang bertugas mendirikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan (SL), dan Sekolah Teknik untuk anak laki-laki dan perempuan yang keadaannya berbeda dengan sekolah-sekolah swasta lainnya. Ke dalam seluruh jenjang pendidikan formal tersebut Ikhwan Al-Muslimin memberikan ciri Islam yang sangat kuat. Dalam hubungan ini, Mariyam Jamilah mengatakan bahwa Hasan Al-Banna, selaku pendiri Ikhwan Al-Muslimin tidak bosan-bosannya mengimbau pemerintah agar menata kembali pendidikan yang berasaskan Islam dan memperhatikan pentingnya penyusunan kurikulum yang berbeda antara siswa dan siswi, dan secara khusus ia memohon agar pengajaran ilmu-ilmu eksakta tidak dibaurkan dengan paham materialisme modern.
Selanjutnya berkenaan dengan pendidikan luar sekolah, Ikhwan Al-Muslimin berpandangan bahwa pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan melalui keluarga kelompok belajar, kursus dan satuan pendidikan lainnya yang sejenis. Dalam kaitan ini, Ikhwan al-Muslimin menyelenggarakan pendidikan keagamaan, kursus, kejuruan untuk anak putus sekolah, pendidikan privat bagi anak laki-laki dan perempuan, serta pendidikan kewiraswastaan bagi mereka yang tidak mampu lagi untuk meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Selain itu Ikhwan Al-Muslimin juga menyelenggarakan pendidikan dengan sistem halaqah, yaitu pendidikan yang diselenggarakan secara berkelompok dan membentuk lingkaran. Pendidikan ini merupakan suatu aktivitas yang paling esensial bagi para anggota Ikhwan. Dalam hubungan ini, Said Hawa mengatakan bahwa sesungguhnya keterlibatan Ikhwan dalam halaqah ini merupakan suatu keharusan, karena halaqah adalah unsur pokok dalam pergerakan. Hal ini pernah dilakukan Abu Darda di masjid, yaitu ketika ia mengajarkan Al-Qur’an semenjak matahari terbit, hingga salat dzuhur, dengan membagi-bagi murid sebanyak sepuluh orang setiap kelompok yang dipandu oleh seorang guru dalam setiap kelompok.
4.      Metode Pendidikan Islam
Sejalan dengan kegiatan pendidikan tersebut, Ikhwan Al-Muslimin menawarkan berbagai metode pendidikan yang dapat digunakan sesuai dengan bidang studi yang diajarkan. Di antara metode pendidikan tersebut, adalah metode pendidikan melalui teladan, teguran, hukuman, cerita-cerita, pembiasaan dan pengalaman-pengalaman konkret. Secara keseluruhan metode tersebut dapat dijumpai dasarnya baik dalam Al-Qur’an maupun praktek yang dilakukan Rasulullah SAW dalam membina para sahabat dan kader-kadernya.
C.    PENUTUP
  1. Kesimpulan
Berdasarkan uaraian tersebut terlihat jelas bahwa konsep pendidikan yang ditawarkan Ikhwan al-Muslimin sejalan dengan visi dan orientasi perjuangannya, yaitu membebaskan masyarakat dari keterbelakangan, baik dalam kehidupan keagamaan, ekonomi, politik, sosial, ilmu pengetahuan, maupun kebudayaan. Dengan demikian, Ikhwan al-Muslimin menempatkan pendidikan sebagai alat untuk meningkatkan harkat dan martabat ummat Islam khususnya yang berada di Mesir pada saat itu. Untuk mencapai visi dan misi tersebut, Ikhwan al-Muslimin telah menggunakan semua jenis dan model pendidikan, dari yang bersifat formal sampai kepada yang bersifat non formal untuk mewujudkan visi dan misinya itu. Demikian pula berbagai metode yang dipandang efektif dan berdaya guna dapat digunakan sebagai cara untuk menerapkan pendidikan.
Seluruh kegiatan pendidikannya itu terlihat didasarkan pada ajaran yang terdapat dalam Al-Qur’an dan praktek kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya. Dalam kaitan ini, maka Ikhwan al-Muslimin dapat digolongkan kepada kelompok sunni dan salafi, karena selalu merujuk kepada kemurnian ajaran Islam.
  1. Saran
Untuk menyempurnakan makalah ini, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca atau pihak yang menggunakan makalah ini. Berpegang pada prinsip tidak ada gading yang tidak retak dan tidak ada final dalam ilmu. Dengan kerendahan hati penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini, dengan senang hati kritik dan saran dan pandangan dari berbagai pihak untuk menyempurnakan makalah ini.









DAFTAR PUSTAKA
Al-Banna, Hasan. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin I (Majmu’ah ar-Rasail al-Imam as-Syahid Hasan al-Banna—terj. Anis Matta dkk), cet.15. Solo: Era Intermedia, 2008
http://mcdens13.wordpress.com/2010/03/05/konsep-pendidikan-hasan-al-banna/
http://www.eramuslim.com/manhaj-dakwah/fikih-siyasi/fikih-siyasi-dan-kredibilitas-hasan-al-banna.htm

[1] Khozin Abu Faqih, Bersama Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin, hal.17
[2] Pendiri organisasi al-Hadharah al-Islamiyah di Kairo. Organisasi ini kemudian bergabung dengan Jama’ah Ikhwan setelah Hasan al-Banna pindah ke Kairo.
[3] Istri dari salah seorang tokoh utama Ikhwan bernama Abdul Hakim ‘Abidin
[4] Wafat pada Maret 1990/Sya’ban 1410
[5] Berprofesi sebagai perwira polisi. Pasca kematian al-Banna, Basith diberhentikan dari kepolisian, dan kemudian bekerja di Saudi Arabia hingga wafat dan dikebumikan di Pekuburan Baqi’ (Madinah).
[6]  Wafat ketika berusia belum genap satu tahun.
[7] Penulis, yang lebih dikenal dengan nama Jamal al-Banna
[8] Dialah  yang menemani Hasan al-Banna menjelang kematiannya. Istri dari pengacara Abdul Karim Mansur ini   wafat pada 1989. 
[9] Semacam Sekolah Pendidikan Guru (SPG).
[10] Hasan al-Banna, Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin I, hal. 21
[11] http://id.wikipedia.org/wiki/Hasan_al-Banna

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar