Kamis, 21 April 2011

Hadist Tujuan Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Mengingat pentingnya hadis yakni sebagai pedoman dalam pelaksanaan aktivitas kita dalam sehari-hari atau sebagai hukum dalam penentuan suatu kebijakan yang akan diambil baik itu dalam pembuatan kurikulum guna tercapainya tujuan pendidikan yang terintegrasi secara baik yakni menciptakan manusia secara utuh. Tujuan pendidikan itu seyogyanya harus menawarkan sebuah system yang benar-benar dapat mengembangkan semua fakulti-fakulti yang ada dalam diri manusia.
Tentunya dalam pengembangan itu ada aspek-aspek yang harus benar-benar dikembangkan, dan kesemua itu harus seimbang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak dinginkan. Dengan alasan inilah kami ingin mengetahui bagaimana kaitannya atau peranan hadis dalam tujuan pendidikan islam agar kedepannya tidak terjadi kebingungan dan tentunya penulisan ini sebagai salah satu tuntan tugas.
Dengan penulisan makalah yang sederhana ini, kami mengaharapkan partisipasi dari pembaca sekalian agar kiranya dapat memberikan kritik dan saran agar tersempurnanya makalah ini. Karena kami berpijak dengan pepatah bahwa tidak ada gading yang tidak retak dan tidak ada final dalam menuntut ilmu kecuali ajal sudah menjemput. Dan mudah-mudahan makalah ini bermanfaat untuk pembaca khususnya kami sebagai penulis. Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.
2.      Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah :
a.       Bagaimana kaitan hadis didalam suatu tujuan pendidikan islam
b.      Apa peranan kurikulum dalam mewujudkan tujuan pendidikan islam
c.       Aspek apa yang menjadi tujuan pendidikan islam


3.      Tujuan penulisan
a.       Sebagai pemenuhan atau tuntutan tugas pada mata kuliah hadis terbawi
b.      Ingin mengetahui sebarapa besar peranan hadis dalam tujuan pendidikan islam
c.       Penulis tentunya ingin mengetahui bagian-bagian apa saja atau aspek apa yang menjadi tujuan pendidikan islam.
d.      Peranan kurikulum dari atau dalam tujuan pendidikan islam
e.       Dalam hal ini penulis tentunya ingin menambah wawasan atau pengetahuan yang lebih luas dan tentunya dapat mengimplementasikan apa yang didapat dalam hal ini.






















BAB II
PEMBAHASAN


            Telah kita ketahui bahwa tidak ada jalan untuk mengenal Allah dan meraih keridhaannya serta memperoleh keselamatan disisi Allah pada hari kiamat kecuali melalui ilmu. Ilmu adalah cahaya terang yang menerangi buramnya kebodohan, dan melalui ilmu segala keraguan dapat ditepis atau dijawab.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya :
              “perumpamaan para ulama di bumi, bagaikan bintang gemintang dilangit yang menerangi gelapnya dataran dan lautan. Jika bintang itu padam, maka yang memberi petunjukpun nyaris tersesat”. ( HR. Ahmad).
            Karena itu selama ilmu masih ada dimasyarakat maka akan berada dalam petunjuk dan kebaikan. Namun keberadaan ilmu sangat tergantung dengan keberadaan ulama’. Jika ulama telah tiada ilmupun akan sirna dan secara otomatis masyarakat akan bingung, lalu mereka menempuh jalan kesesatan, meluncur kelubang kehinaan dan kerusakan, dan akhirnya mereka menjatuhkan diri mereka dalam jurang kekejian, sesuai dengan sabda Rasul :













Artinya :
Bukhari muslim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr r.a, ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya Allah tak akan mencabut ilmu secara langsung dari tengah-tengah manusia, melainkan dengan cara mewafatkan para ulama’, sehingga jika sudah tak ada lagi seseorang berilmu, manusia akan mengangkat para pemimpin yang bodoh, lalu memberikan fatwa tanpa berdasarkan ilmu. Sehingga mereka semuanya sesat dan menyesatkan.
Hadis ini diriwayatkan oleh; Imam Ahmad, As Syaikhan, At Turmudzi dan Ibnu Majah dari Amru bin ‘Asha r.a.

Mukrodat / kata-kata sulit
1.      Mencabut        :

2.      Sesat                :

3.      Menyesatkan   :

4.      Bodoh             :

5.      Mengangkat    :

6.      Tersisa             :

7.      Bertanya          :

8.      Menjawab       :





Skema Sanad




















Sababul wurut
            Imam Ahmad dan At Thabrani meriwayatkan dari hadist Abu Umamah, katanya:”selesai melakukan haji wada”, Nabi SAW bersabda “Ambillah ilmu sebelum ia ditarik atau diangkat! “ seorang arab badawi (udik) bertanya: “Bagaimana ilmu itu ditarik atau diangkat ?” beliau bersabda : ketahuilah, sesungguhnya hilangnya ilmu adalah hilangnya dalam tiga periode. Dalam riwayat lain dari Abu Umamah, orang itu bertanya: “bagaimana mungkin ilmu terangkat, padahal ditengah-tengah kami selalu ada muskhaf (Al-Qur’an), kami mempelajarinya dan kami mengetahuinya, serta kami ajarkan pula kepada anak-anak dan istri kami, demikian pula kepada para pelayan kami. Rasulullah SAW mengangkat kepalanya, dan beliau hampirkan kepala orang itu, karena marahnya. Beliau bersabda : “inilah yahudi dan nasrani dikalangan mereka ada muskhaf tetapi mereka tidak mempelajarinya, tatkala nabi datang kepada mereka. Ibnu Hajar berkata: “Hadis ini mansyhur sekali dari riwayat hisyam”.
            Hadis ini menunjukan betapa penting dan mulianya kedudukan ulama dalam pandangan islam atau agama. Kematian ulama adalah suatu yang sangat merugikan utuk umat, mengapa?, karena ulamalah yang mengetahui kandungan-kandungan yang tersimpan didalam A-Qur’an selain Nabi dan para sahabat.   
Kaitan Hadis dengan Tujuan Pendidikan Islam
            Dari uraian diatas jelaslah sudah bahwa peranan ulama sangat penting bahkan bisa dikatakan sebagai keseharusan yang harus dipenuhi. Oleh karena seyogyanya tujuan pendidikan islam bisa mencetak ulama-ulama yang benar-benar berkompeten dalam segala hal terutama dari Agama. Ulama yang benar-benar bisa menjadi tauladan setelah Rasul. Adapun aspek-aspek dari tujuan pendidikan islam adalah sebagai berikut :
1.      Tujuan jasmaniah
Tujuan pendidikan islam dalam hal ini adalah mewujudkan atau membentuk manusia yang sehat dan kuat jasmaninya serta memiliki keterampilan yang tinggi dalam suatu hal.
2.      Tujuan rohaniah
Dalam hal ini tujuan pendidikan islam lebih berorientasi kepada keimanan dan ketaatan kepada Allah yakni dengan tunduk dan patuh terhadap apa yang telah menjadi perintahnya dan dengan mengikuti contoh keteladanan nabi.
3.      Tujuan akal
Tujuan ini tertumpu pada aspek pengembangan intelegensi yang berada dalam otak sehingga mampu menganalisis atau menghayati ciptaan Allah yang luar biasa.

Dibawah ini beberapa hadis yang berkaitan dengan pendidikan islam. Namun dalam hal ini harus kita ketahui bahwa keberhasilan suatu tujuan pendidikan adalah berkaitan bagaimana dengan kurikulum dan hubungan yang baik dalam pengimplementasiannya dilapangan. Dan adanya hubungan yang baik diantara komponen-komponen yang ada seperti materi ajar, metode, alat, dan sarana yang lain yang dapat menunjang keberlangsungan dari kurikulum. Maka keberlangsungan dari belajar mengajar akan berjalan efektif dan secara tidak langsung berdampak pada tujuan pendidikan islam yakni mengembangkan semua potensi yang ada pada diri manusia. Atau kurikulum ini sebagai alat untuk menciptakan manusia yang seutuhnya yakni sesuai dengan prinsip integrasi. Yakni keseimbangan antara fakulti dunia dan fakulti akherat. Dengan kata lain tujuan pendidikan adalah menciptakan manusia yang insanul kamil atau manusia yang paripurna.

1.      Ilmu Agama dan Al-Qur’an
Mengenai hal ini bahwa tujuan pendidikan islam yang bersifat rohaniah karena berhubungan dengan agama. Adapun hadis nabi adalah sebagai berikut :






Artinya :
Dari ibnu ‘abbas bahwasanya Rasulullah SAW meletakkan tangannya pada punggung ibnu ‘Abbas atau pundaknya. Kemudian Rasulullah berdo’a “Ya Allah berikanlah pemahaman yang mendalam tentang agama dan ajarilah ia takwil (Al-Qur’an).[1]
            Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa Rasulullah SAW wafat, sedang usia Ibnu ‘Abbas memasuki 10 tahun dan ia telah mempelajari ayat-ayat muhkam. Ibnu ‘Abbas telah ,mengatakan pula kepada Sa’id bin Jubair (muridnya): “aku telah menghimpun semua ayat-ayat muhkam pada masa Rasulullah SAW. Sa’id bertanya kepadanya :”apakah ayat-ayat muhkam itu ? Ibnu ‘Abbas menjawab: “ surat-surat yang mufasal (yang pendek-pendek).
            Ibnu katsir ra telah mengatakan bahwa dengan interprestasi apapun makna hadis ini menunjukan kebolehan mengajari anak-anak untuk membaca Al-Qur’an meskipun dalam usia dini, bahwa adakalanya disunnahkan atau diwajibkan.[2]          
Selain itu Al-Qur’an sendiri merupakan materi pertama yang harus diajarkan kepada anak atau peserta didik agar dapat memahami islam secara universal. Dalam hal ini Rasulullah bersabda :






Artinya :
Telah menceritakan kepada kami hujjah ibn Minhal telah menceritakan syu’bah ia berkata ‘Alqamah ibn mursyid telah mengkhabarkan kepdaku saya mendengar Said ibn ‘Ubaidah dari ayah Abdurahman al-silmy dari ‘Usman ra Nabi telah bersabda : “ yang paling baik diantara kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.[3]

2.      Kesenian
Suatu hari Khalifah Abu Bakar telah menghardik puterinya, Aisyah, ketika ia menyaksikan dua orang hamba sahaya menyanyi dirumah Rasulullah SAW, maka Rasululah bersabda :




         Berdasarkan  hadis diatas kita dapat mengetahui bahwa, tujuan pendidikan islam atau sebuah kurikulum tidak mengabaikan perkembangan bakat seni dan pertumbuhan rasa keindahan. Justru sebaliknya ia sangat menaruh perhatian kepada kesenian kesenian dan memberikan peluang kajian serta pengalaman yang dapat menolong perkembangannya. Disamping kajian-kajian kesusasteraan, peluang-peluang untuk menghafal dan menikmati puisi serta prosa yang baik, pendidikan islam memberikan tempat yang luas pada kajian-kajian dan pengalaman-pengalaman yang cukup pada sebagian corak dan bidang seni rupa yang tidak menggangu akidah. Kalau bukan karena perhatian pendidikan islam dan kurikulum yang terlibat atau terkait kesusteraan dan seni, tentulah kita tidak mendapati peninggalan sastra dan kesenian yang ditinggalkan oleh ulama-ulama, sastrawan-sastrawan, dan seniman-seniman kita terdahulu yang mengandung syair-syair, prosa-prosa, gambar-gambar bukan benda hidup, ukiran-ukiran, perhiasan-perhiasan, bahkan sampai pada seni penulisan Al-Qur’an sangat indah. Begitu juga bentuk-bentuk kesenian lain. Tanpa perhatian itu kita tidak akan mendapati ahli seniman-seniman muslim terkenal yang mansyur pada segala bidang sastra, seni dan musik.[4]
3.      Militer, Pendidikan jasmani dan kesehatan.
Pada masa madinah, Nabi SAW telah memasukan materi kesehatan dan kekuatan jasmani dalam kurikulum pendidikannya. Secara praktis (amaliah) shalat, wudhu, mandi, puasa dan haji telah mengadung pendidikan kesehatan dan kekuatan fisik, selain itu nabi juga mengajarkan agar makan dan minum secara sederhana, tidak berlebihan. Nabipun mengajak mempelajari cara berperang tentu saja tujuan utamanya untuk mempersiapkan pembelaan diri. Beliau bersabda :






Artinya :
         Telah menceritakan kepada kami Qutaybah ibn Sa’id, telah bercerita Hatim dari yazid bin abi ‘Ubaid dari salamah, telah menceritakan kepada kami samah ra berkata : pada suatu hari Rasulullah SAW bersua dengan kelompok orang bani Aslam yang sedang berlomba memanah, maka beliau  SAW bersabda : memanahlah kalian, hai bani Ismail, sebab nenek moyangmu dahulu (Ibrahim As) adalah seorang pemanah. Panahlah dan saya bersama bani fulan, maka mereka berkata : wahai Rasulullah kami memanah tetapi kamu memihak kepada mereka, Rasulpun bersabda : Panahlah dan saya bersama kalian semuanya. [5]    Berikut ini juga merupakan anjuran untuk memanfaatkan waktu luang dalam bentuk kegiatan yang berguna. Anak sebaiknya dianjurkan pula untuk melakukan perlombaan olah raga lainya, seperti berlari, menunggang kuda dan berenang. Semua itu dapat menumbuhkan keberanian dan kehandalan dalam jiwa anak-anak sekaligus menghilangkan sifat pengecut. Sebagaiamana sabdanya :





Artinya :
         Telah menceritakan kepada kami Ahmad ibn Yunus berbicara kepada kami Ibn Abi dzi’bi dari naafi’ ibn dari Abi Hurairah ra berkata : Rasulullah SAW telah bersabda: tidak ada keunggulan kecuali dalam menunggang hewan.[6]
         Memang sejarah telah mencatat peperangan sangat banyak terjadi di zaman pemerintah khalifah Umar ibn Khattab (13/634/23/644), dalam rangka ekspansi islam. Untuk mempersiapkan ini, maka beliau mengirim surat kepada para gubernur yang memerintahkan para orang tua untuk mengajarkan anak-anak mereka keterampilan berenang, kepandaian menunggang kuda, dan belajar melempar panah.[7] dengan keterampilan berenang dimasudkan agar anak-anak muslim bisa menjadi mariner-marinir yang handal. Begitu juga dengan kecakapan menunggang kuda agar anak-anak muslim bisa menjadi pasukan infantry yang tangguh, dan dengan keterampilan melempar panah dimaksudkan agar mereka bisa menguasai peluru kendali.[8] Semua hal ternyata sangat diperlukan untuk menjalankan alat peperangan disamping pendidikan jasmani, sebagaiman dikatakan sulaiman Rasyid, menurutnya, perintah menembak dengan panah (al-ramy) dalam hadis tersebut diatas sangat berguna bagi gerak badan atau pendidikan jasmani.
         Pengajaran memanah dan menunggang kuda menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memasukan aspek jasmani sebagai suatu aspek yang dibina dalam kurikulum pendidikan. Pengajaran ini mempunyai faedah yang besar dalam menciptakan kesehatan mental dan memberi ruang untuk melampiaskan motivasi-motivasi serta keinginan-keinginannya, menciptakan kesehatan jasmani, keserasian, kekuatan dan pertumbuhan yang sesuai, serta mempersiapkan diri untuk menanggung kehidupan dan berjuang pada jalan Allah SWT. Oleh sebab itu islam mengajak untuk memilki kekuatan yang halal dan menganggap orang mukmin yang kuat jasmani, rohani atau akal dan semangatnya, lebih dicintai Allah SWT dan lebih mulia dari orang mukmin yang lemah. Juga islam mengajak untuk membela diri dan kehormatan dan mengajak untuk menghadapi musuh dan menghalanginya jika mereka mulai mengancam.
         Diantara pendidikan islam yang menyanjung-nyanjung kepentingan pendidikan jasmani bagi kanak-kanak pada waktu kosong mereka adalah imam al-Ghazali yang berkata dalam bab yang berjudul: “Latihan Jiwa dan pendidikan Akhlak” dalam jilid ke 3 pada kitabnya “ihya’ Ulumudin”.






4.      Keterampilan
Rasulullah bersabda :


Artinya :
         Sesungguhnya Allah suka jika seseorang mengerjakan sesuatu pekerjaan bahwa membuatnya dengan baik (profesional).
         Pendidikan islam juga menaruh perhatian pada ilmu teknik, praktis dan pada latihan-latihan kejuruan dan pertukangan. Perhatiannya tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu dan kajian-kajian teoritis yang diperoleh melalui pengajaran dan kajian teoritis pada cara-cara dan sumber-sumber tertulis yang banyak menggunakan pemikiran abstrak. Pendidikan islam tetap mementingkan ilmu praktis dimana pelajar menggunakan akal, tangan dan jari-jarinya. Ia bersentuhan dengan benda-benda kasar selama mengkaji dan melatih diri, yang akhirnya menyiapkan untuk mengebangkan keterampilan tangan (manual dexterity) dan menciptakan produksi yang baik.
         Ibnu sina, dalam salah satu kitabnya berkata: “kalau anak-anak sudah siap mempelajari al-Qur’an dan telah menghafal prinsip-prinsip bahasa, maka pada waktu itu hendaklah ditinjau akan kemanakah anak itu dijuruskan dalam segi pekerjaan. Kalau ia mau menjadi penulis maka hendaklah ditambahkan untuknya pelajaran bahasa Arab, berupa pelajaran persuratan (rasail) pidato (khutbah), perdebatan (muhawarah), dan lain-lain, kemudian diajarkan hitungan syair-syair dan tulisan halus. Kalau ia ingin menjadi yang lain maka ia harus memperbanyak pelajaran pada bidang itu.[9]



BAB III
PENUTUP


1.      kesimpulan
  Hadis di atas menunjukan betapa penting dan mulianya kedudukan ulama dalam pandangan islam atau agama. Kematian ulama adalah suatu yang sangat merugikan utuk umat, mengapa?, karena ulamalah yang mengetahui kandungan-kandungan yang tersimpan didalam A-Qur’an selain Nabi dan para sahabat.
        Dan Tujuan pendidikan islam tidak akan berjalan dengan sempurna dan baik bahkan tidak akan berjalan jika tidak adanya sebuah kurikulum, Oleh karenanya Kurikulum biasa diungkapkan dengan manhaj al-dirasah yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan ( manhaj al-dirasah ) dalam kamus terbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan. Namun, hasil penelurusan penulisan dalam kitab hadis, tidak ada ditemukan kata khusus seperti kata mahhaj al-dirasah sebagai kata yang menunjukan kurikulum oleh kerenanya, kami mencoba memahami kurikulum berdasarkan matan Hadis yang bermuatan konsep kurikulum yang diajarkan rasul untuk dipelajari.
        Hadis menyebutkan bahwa, kurikulum bersifat integral dan komperenhensif serta menjadikan Al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama dalam penyusunannya. Perlu dicatat bahwa dalam islam tidak ada perbedaan (dichotomy) antara ilmu-ilmu Agama (al-‘Ulum al-naqliyat : Religious Sciences). Dan ilmu-ilmu umum (al-‘Ulum al-naqliyat: seculer sciences). Ilmu-ilmu umum sangat diperlukan karena dapat membantu dalam memahami ajaran-ajaran islam. Karenanya Rasulullahpun didalam suatu hadis menganjurkan umat untuk mempelajarinya bahkan bahasa musuh sekalipun perlu dipelajari.
        Dalam mengatasi keterbelakangan umat tentunya harus ditawarkan sebuah kurikulum yang benar-benar pada islam. Tentunya dalam hal ini umat islam harus mengalih ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Hal sesuai dengan anjuran Hadis Nabi SAW, para sahabat dan ulama-ulama sunni terdahulu guna mencapai tujuan pendidikan islam yang lebih baik. Salah satu cara adalah dengan memasukan pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dalam kurikulum pendidikan islam mulai dari tingkat terendah hingga sampai kepada perguruan tinggi.
2.      Saran
Untuk menyempurnakan makalah ini, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca atau pihak yang menggunakan makalah ini. Berpegang pada prinsip tidak ada gading yang tidak retak dan tidak ada final dalam ilmu. Dengan kerendahan hati penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini, dengan senang hati kritik dan saran dan pandangan dari berbagai pihak untuk menyempurnakan makalah ini. Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.









DAFTAR PUSTAKA

1.  Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1992
 2. S. Nasution, Asas-asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 1994
3. Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Hasan Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang, 1979
4. Ahmad ibn Hanbal Abu Abdullah al-Syiyabaani, Musnad Imam Ahmad ibn Hanbal, juz. 1, al-Qaahirah: Mu’assasah Qurthubah, tt, 266
5. Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2006
6. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1991
7. Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2002
6. Filed under: google124590ab


[1] Ahmad ibn Hanbal Abu Abdullah Al-Syiyabaani, tt :226).

[2] Jamal ‘Abdurahman 2005:392
[3] Muhammad bin ismail Abu Abdillah Al-Bukhari, 1987:1919).


[4]  Omar Muhamad Al-Toumy Al-Syaibani, 1979:499.


[5] Muhammad bin Ismail Abu Abdillah Al-Bukhari, 1987: Kitab Jihad No. 2684.
[6] Sulaiman ibn al-Asy’as Abu Daud as-syajastani al-Ajdi, Kitab Jihad No. 2210.
[7] Abu al-Abbas Muhammad ibn yaziz al-Mubarrid, tt:180
[8] Add. Mukti, 2008:91
[9] Omar Muhammad al-Toumy al-syaibai, 1979:508

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar